catrawarta.com — UNESCO melalui program World Heritage, Sustainable Development and Local Communities menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya tidak hanya dilakukan melalui perlindungan monumen, tetapi juga dengan memperkuat peran masyarakat selama ini menjaga dan menghidupkan warisan tersebut melalui pengetahuan, mata pencaharian, serta kehidupan sehari-hari mereka.
Program yang dijalankan di kawasan bersejarah Taj Ganj, Agra, India, di sekitar Taj Mahal ini berupaya mempertemukan pelestarian warisan budaya dengan pembangunan ekonomi masyarakat. Selama ini, kontribusi warga yang tinggal di sekitar situs warisan dunia sering kali tidak terlihat dalam struktur pariwisata formal.
Melalui berbagai inovasi, UNESCO mendorong masyarakat lokal menjadi bagian penting dari pengalaman wisata budaya yang ditawarkan kepada pengunjung.
Becak Motor Jadi Duta Budaya
Salah satu contoh menarik adalah program curated auto-rickshaw initiative atau becak motor kurasi yang dikembangkan di Taj Ganj.
Program ini bermula dari aktivitas becak motor yang setiap hari melayani wisatawan di sekitar Taj Mahal. Salah satu pengemudinya adalah Ninuaram, yang telah mengemudikan becak motor sejak 1989.

Selama puluhan tahun, ia mengantar wisatawan menyusuri jalan-jalan bersejarah Agra, mulai dari kawasan monumen peninggalan Dinasti Mughal hingga lorong-lorong padat Pasar Kinari.
Meski memiliki pengetahuan mendalam tentang kota tersebut, perannya selama ini hanya dipandang sebagai penyedia transportasi. Melalui program UNESCO, sejumlah becak motor berwarna putih dan biru dipilih untuk menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya.
Para pengemudi tidak lagi hanya berperan sebagai sopir, melainkan juga sebagai duta budaya yang memperkenalkan kehidupan masyarakat Agra kepada wisatawan.
Setiap kendaraan dilengkapi kode QR yang dapat dipindai pengunjung untuk mengenal profil pengemudi melalui narasi audio berbahasa Inggris.
Interior kendaraan juga ditata khusus dengan ornamen bordir zardozi karya perajin lokal, bahan bacaan, serta informasi mengenai berbagai atraksi budaya di Agra.
Motif tatahan batu yang terinspirasi dari arsitektur Taj Mahal turut menghiasi kendaraan, menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih bermakna bagi wisatawan.
Bagi Ninuaram, perubahan tersebut membawa dampak nyata. Ia kini kerap menerima pemesanan perjalanan sehari penuh dan memiliki peluang ekonomi yang lebih baik.
Lebih dari itu, ia tidak lagi memperkenalkan dirinya sebagai pengemudi becak motor, melainkan sebagai tuan rumah yang menyambut wisatawan untuk mengenal budaya kotanya.
Perajin Tak Lagi Sekadar Penjual Suvenir
Program serupa juga diterapkan pada bengkel-bengkel kerajinan tradisional di Taj Ganj. Salah satunya adalah bengkel milik Arbaz, perajin seni tatah batu Parchin Kari yang menjadi salah satu warisan keterampilan yang berkembang di sekitar Taj Mahal.

Bagi Arbaz, Taj Mahal bukan sekadar monumen bersejarah, tetapi juga sumber inspirasi dan penghidupan keluarganya. Seni tatah batu yang menghiasi dinding marmer Taj Mahal diwariskan turun-temurun dan masih dipraktikkan hingga kini.
Melalui program curated workshop initiative, UNESCO mengubah cara wisatawan berinteraksi dengan bengkel kerajinan. Jika sebelumnya kunjungan hanya berfokus pada demonstrasi singkat dan transaksi jual beli, kini pengunjung diajak memahami proses kreatif dan nilai budaya di balik setiap karya.
Wisatawan dapat mengakses kisah pribadi Arbaz melalui kode QR yang menjelaskan proses belajar lintas generasi, perkembangan desain, hingga tantangan menjaga warisan budaya yang masih hidup.
Area produksi di dalam bengkel juga ditata lebih informatif, mulai dari proses pemotongan batu, pembersihan, pemolesan, hingga ruang pamer hasil karya. Panel informasi sederhana membantu pengunjung memahami setiap tahap pengerjaan.
Dampaknya cukup signifikan. Pengunjung menghabiskan lebih banyak waktu di bengkel, mengajukan pertanyaan, dan membangun percakapan yang lebih mendalam mengenai tradisi kerajinan tersebut.
Arbaz bahkan berkolaborasi dengan perajin bordir zardozi untuk menghadirkan pengalaman budaya yang lebih kaya bagi wisatawan.
Melalui pendekatan ini, Arbaz tidak lagi dipandang sebagai penjual kerajinan semata, tetapi sebagai penjaga warisan budaya hidup yang memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya Agra.
Rumah Warga Jadi Ruang Berbagi Budaya
Program UNESCO juga menjangkau masyarakat yang tinggal di sekitar Taj Mahal.
Salah satunya adalah keluarga Nandini, perempuan berusia 20 tahun yang tinggal di kawasan Kachhpura, di seberang Sungai Yamuna. Dari teras rumahnya, Taj Mahal dapat terlihat jelas tanpa harus melewati gerbang kawasan wisata.

Alih-alih mengubah rumah tersebut menjadi penginapan atau restoran komersial, program ini memanfaatkan ruang yang sudah ada sebagai tempat berbagi pengalaman budaya.
Perubahan yang dilakukan sangat sederhana, seperti pengecatan ulang, penataan furnitur, penambahan tekstil baru, dan pemasangan foto-foto arsip Agra serta Taj Mahal. Seluruh keputusan dilakukan bersama keluarga agar rumah tetap terasa sebagai ruang pribadi.
“Ini bukan restoran. Ini rumah kami,” ujar Nandini.
Wisatawan yang berkunjung disambut langsung oleh keluarga dan diajak menikmati teh di teras rumah saat matahari terbenam dengan latar Taj Mahal. Percakapan berlangsung secara alami, membahas kehidupan sehari-hari warga, pendidikan, tradisi lokal, hingga kondisi lingkungan sekitar.
Dalam pengalaman ini, Taj Mahal tidak lagi menjadi objek wisata yang terpisah dari masyarakatnya, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang nyata.
Dalam beberapa bulan terakhir, keluarga Nandini mulai menerima pemesanan kunjungan secara rutin, sebagian besar melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Pendapatan dari kegiatan tersebut langsung diterima oleh keluarga.
Masyarakat Jadi Pelaku Utama
Pada 16 Februari 2026, Annemarie Hou, Direktur Eksekutif Kantor Kemitraan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengunjungi lokasi proyek di Agra. Ia bertemu dengan para perajin, pelaku wisata berbasis masyarakat, dan warga yang terlibat dalam program tersebut.
Menurut Hou, dengan dukungan Pemerintah Korea Selatan, proyek World Heritage, Sustainable Development and Local Communities berhasil mengubah posisi masyarakat Agra dari sekadar penjaga warisan budaya menjadi pelaku aktif dalam ekosistem budaya dan pariwisata.
Melalui akses pasar yang lebih luas, inovasi digital, dan penguatan ekonomi masyarakat, UNESCO berupaya menciptakan model pelestarian warisan budaya yang tidak hanya menjaga monumen bersejarah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Polisi Tangkap Taufik Hidayat, Sembunyi di Rumah Teman 