catrawarta.com — Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang diperingati pada Senin (29/6/2026) mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”.
Tema tersebut diangkat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN sebagai respons terhadap tingginya fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, menilai kehadiran ayah tidak cukup hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga harus hadir secara fisik dan emosional dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Kemendukbangga meluncurkan Gerakan Ayah Mengantar Rapor (Gemar) yang mendorong ayah lebih aktif terlibat dalam kehidupan pendidikan anak.
“Kami memiliki Program Gemar. Mengapa program ini ada? Karena berdasarkan data, sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami fatherless atau kehilangan peran ayah. Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental anak, sementara mereka rata-rata memegang telepon genggam selama 8,7 hingga 10 jam setiap hari,” ujar Wihaji.
Menurut Wihaji, tema “Ayah Wajib Hadir“ juga menegaskan pentingnya perubahan pola pengasuhan. Ayah dan ibu harus menjadi satu tim yang setara dalam mendidik anak serta menciptakan rasa aman di lingkungan keluarga.
Gerakan tersebut sekaligus menjadi upaya menghadapi tantangan era digital yang semakin memengaruhi pola interaksi dalam keluarga, termasuk meningkatnya ketergantungan anak terhadap gawai dan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Hari ini algoritma otak kita hampir 60 hingga 70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Kalau tidak hati-hati, orang tua anak sekarang bukan lagi kita, tetapi handphone,” kata Wihaji.
Ia menegaskan, peran ayah tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga dari kehadiran secara psikologis. Menurutnya, ayah perlu meluangkan waktu sedikitnya satu jam setiap hari untuk mendengarkan cerita dan keluh kesah anak.
“Kalau dulu anak curhat kepada orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Anak bisa bertanya apa saja, bahkan belajar berjudi pun ada jawabannya. Padahal AI tidak punya rasa. Sejelek-jeleknya makan bersama, ngobrol, jangan main HP sendiri-sendiri,” ujarnya.
Wihaji mengingatkan bahwa teknologi seharusnya diciptakan untuk melayani manusia, bukan menggantikan peran orang tua dalam membangun kedekatan emosional dengan anak.
“Anak-anak kita sebenarnya rindu, bukan hanya butuh uang, tetapi juga sentuhan psikologis dari orang tuanya,” tambahnya.
Sebagai contoh, Wihaji mengaku selalu menyempatkan diri mengantar anak ke sekolah dengan menyetir sendiri di tengah kesibukannya sebagai menteri.
Menurutnya, perjalanan selama 30 hingga 60 menit di dalam kendaraan menjadi waktu yang sangat berharga untuk membangun komunikasi berkualitas tanpa distraksi telepon genggam.

