catrawarta.com — Menjalani salat Jumat tujuh kali berturut-turut di Masjid Agung Kasunanan Surakarta merupakan tradisi paugeran bagi putra penerus raja tahta kerajaan. Susuhunan Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi sejak bulan Nopember 2025 lalu telah menjalani ritual tradisi tersebut. Di Masjid Agung Surakarta PB XIV Hangabehi telah katam tujuh kali berturut-turut.
Jumat 2 Januari 2026 lalu selepas itu, Hangabehi melanjutkan ritual salat Jumat di Masjid Laweyan Solo dan Jumat 9 Januari 2026 di Masjid Mataram Yogyakarta (masjid leluhur cikal bakal Kraton Surakarta, Kraton Kartasura dan Mataram Islam).
Di sejumlah masjid bersejarah peninggalan Mataram Islam dimaknai sebagai bagian dari laku tradisi suksesi raja di Keraton Kasunanan Surakarta. Praktik tersebut bukan sekadar ibadah personal, melainkan tahapan spiritual yang secara turun-temurun dijalani calon raja sebelum dan sesudah penobatan.
Ketua Takmir Masjid Agung Solo, Muhammad Muhtarom, mengatakan salah satu syarat yang harus dipenuhi, raja-raja yang dahulu bagi pemegang takhta di Keraton Solo, salah satunya Salat Jumat 40 kali di Masjid Agung Solo.
“Masjid Agung bagian dari Keraton Kasunanan Surakarta. Harapan kita tidak hanya 40 kali. Karena ini Masjid Keraton, siapa yang nguri-uri dan bertanggung jawab, ya keraton. Sebagai panatagama,” Muhtarom menjelaskan.
Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta, KRT Purwadi Sosronagoro, menjelaskan bahwa dalam tradisi Mataram, calon raja menjalani serangkaian laku batin untuk memohon restu Ilahi sekaligus legitimasi kultural. Salat Jumat di masjid-masjid yang memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah Mataram menjadi salah satu simbol penting dalam proses tersebut.
“Salat Jumat ini merupakan bagian dari laku tradisi pengukuhan raja. Dalam sejarah Mataram, calon raja tidak hanya disiapkan secara administratif dan adat, tetapi juga secara spiritual,” ujar Purwadi.
Menurutnya, Kotagede memiliki posisi sentral dalam konteks suksesi tersebut. Di kawasan inilah Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, serta Susuhunan Hanyakrawati dimakamkan. Kehadiran PB XIV Hangabehi di Masjid Gedhe Mataram Kotagede dipandang sebagai sowan simbolik kepada para leluhur Mataram.
“Kotagede dipercaya sebagai salah satu pusat turunnya wahyu jatmika atau wahyu kerajaan. Karena itu, laku salat Jumat di sini menjadi penting untuk meneguhkan aura kewibawaan raja,” jelasnya.
Purwadi menuturkan, rangkaian tersebut melanjutkan salat Jumat tujuh kali berturut-turut di Masjid Agung Keraton Surakarta pada November–Desember 2025, yang dilanjutkan di Masjid Laweyan. “Yang baku dalam paugeran salat Jumat di Masjid Agung Solo hanya tujuh kali. Selepasnya, itu baik baik saja. Namanya salat, salat jumat ya seterusnya sangat bagua.”
Pemilihan Laweyan juga sarat makna karena di kawasan itu dimakamkan Kiai Ageng Henis, leluhur utama Dinasti Mataram. “Setiap masjid yang dipilih memiliki benang merah sejarah dengan Mataram. Ini menunjukkan kesinambungan spiritual antara raja yang berkuasa dengan leluhurnya,” ujarnya.
Selain Kotagede dan Laweyan, PB XIV Hangabehi juga direncanakan melaksanakan salat Jumat di sejumlah masjid lain yang memiliki kaitan historis dengan Mataram Islam, seperti masjid di Pengging, Selo, Jatisobo, hingga Masjid Panitikan di Umbulharjo, Yogyakarta.
“Dalam konteks suksesi, langkah ini menunjukkan bahwa Sinuhun PB XIV Hangabehi menjalani pengukuhan tidak hanya melalui upacara adat, tetapi juga melalui laku spiritual yang berpijak pada tradisi Mataram Islam,” kata Purwadi.
Bagi keraton, perjalanan ini menegaskan bahwa proses suksesi raja tidak berhenti pada seremoni penobatan, melainkan terus dirawat melalui laku ibadah dan penghormatan kepada sejarah serta leluhur Mataram.

Hati-Hati, Super Flu Ternyata Bisa Berakibat Fatal 