catrawarta.com — Pertunjukan Tari Saman kerap memukau publik dalam berbagai acara nasional maupun internasional. Gerakannya cepat, dinamis, dan membutuhkan kekompakan tinggi dari para penari.
Para penari laki-laki duduk berbaris rapat sambil menepuk tangan, dada, serta menggelengkan kepala dalam ritme yang harmonis. Meski tanpa iringan alat musik, tarian khas Gayo Lues, Aceh, ini tetap tampil memikat.
UNESCO pun telah menetapkan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2011. Peneliti Tari Saman, Dr. Mukhsin Putra Hafid, menjelaskan bahwa Saman memiliki beberapa jenis berdasarkan fungsi dan pelaksanaannya.
“Saman Jalu atau Saman Bertanding merupakan pertunjukan antarkelompok atau antardesa di lapangan terbuka. Ada juga Tari Bepukes yang biasanya dipentaskan di panggung dengan jumlah penari terbatas,” kata Mukhsin, Rabu (10/6/2026).
Selain itu, terdapat Saman Umah Sara yang digelar untuk memeriahkan hajatan seperti pernikahan. Ada pula Saman Njik, yakni tarian yang menggambarkan aktivitas menggirik padi menggunakan kaki.

Namun bagi masyarakat Gayo, Saman bukan sekadar tarian pertunjukan. “Inti dari Tari Saman adalah Bejamu Saman,” ujar Mukhsin.
Ia menjelaskan, pada masa lalu Bejamu Saman merupakan tradisi mengundang tamu dari kampung lain untuk menampilkan Tari Saman secara bergantian. Dua kampung akan saling menampilkan tarian sebagai bentuk penghormatan dan penguatan hubungan persaudaraan.
“Tujuannya untuk memperkuat ikatan silaturahim antara sesama serinen saman,” terangnya.
Secara geografis, wilayah Gayo Lues berada di daerah pegunungan dengan jarak antarkampung yang berjauhan. Pada masa lalu, perjalanan menuju kampung lain bisa memakan waktu hingga dua hari karena harus melewati hutan dan pegunungan.
“Dulu kalau mau mengadakan Bejamu Saman harus mengundang kampung sebelah. Perjalanannya bisa dua hari,” kata Mukhsin.
Rombongan tamu yang datang akan disambut di perbatasan kampung atau persilangan jalan. Sebelum memasuki kampung tuan rumah, mereka harus terlebih dahulu menampilkan Tari Saman.
“Di situlah upacara Bejamu Saman dilakukan, menjamu tamu dengan tarian,” ujarnya.
Karena jarak tempuh yang jauh, para tamu biasanya menginap di rumah-rumah warga sambil mengikuti rangkaian Bejamu Saman. Tradisi ini juga menjadi ruang pertemuan antarwarga kampung.
“Di situ juga menjadi ajang mencari jodoh bagi anak muda dan memperkuat persaudaraan,” ujar Mukhsin sambil tertawa.

Dalam tradisi Bejamu Saman, jumlah tamu yang datang harus sama dengan jumlah keluarga tuan rumah yang menyambut.
“Misalnya yang datang 50 kepala keluarga, maka yang menyambut juga 50 kepala keluarga. Setiap tamu akan ditampung oleh satu keluarga tuan rumah,” jelasnya.
Para tamu mendapat tempat beristirahat, makan, dan minum selama mengikuti kegiatan tersebut. Mukhsin menuturkan, dalam tradisi awalnya seluruh penari Saman adalah laki-laki. Namun dalam perkembangannya, perempuan diperbolehkan mempelajari Tari Saman untuk kebutuhan pendidikan di sekolah.
“Waktu itu saya yang memperjuangkan perempuan boleh belajar Tari Saman karena tujuannya untuk diajarkan kepada murid-murid. Mayoritas guru di Aceh adalah perempuan,” katanya.
Menurut Mukhsin, secara spiritual Tari Saman merupakan simbol hubungan antarmanusia dan sarana mempererat persaudaraan. Namun, ia menilai makna Saman mulai bergeser ketika tarian tersebut berkembang menjadi pertunjukan wisata.
“Dalam perkembangannya, Tari Saman dijadikan tarian pertunjukan untuk menarik wisatawan. Maknanya mulai bergeser dari fungsi aslinya,” ujarnya.
Mukhsin menjelaskan popularitas Tari Saman mulai meningkat setelah kunjungan Ibu Tien Soeharto ke Aceh pada 1972. Saat itu, Ibu Tien menyaksikan pertunjukan Tari Saman berdurasi sekitar 10 menit dan tertarik dengan tarian tersebut.
Kemudian pada peresmian Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1975, Tari Saman dipilih sebagai tari pembukaan. “Dari situlah Saman mulai dikenal luas,” katanya.
Sejak diakui UNESCO pada 2011, pertunjukan Tari Saman semakin sering tampil di berbagai pentas nasional maupun internasional. Meski demikian, masyarakat Gayo Lues tetap mempertahankan tradisi Bejamu Saman yang hingga kini masih wajib dilaksanakan setahun sekali.

