catrawarta.com — Semar bukan sekadar tokoh pewayangan. Dalam khazanah budaya Nusantara, Semar ditempatkan sebagai paradigma kebudayaan, kepemimpinan, sekaligus spiritualitas bangsa.
Menariknya, nama Semar tidak pernah ditemukan dalam epos Mahabharata maupun Ramayana versi India. Tokoh ini merupakan mahakarya intelektual leluhur Nusantara yang lahir dari pemikiran mendalam tentang kekuasaan, moralitas, dan kehidupan masyarakat.
“Semar lahir dari kecerdasan para leluhur yang memahami bahwa kekuasaan memerlukan pengimbang, bahwa raja membutuhkan hati nurani, dan bahwa suara rakyat tidak boleh hilang dari panggung sejarah,” kata Dr. Wawan Gunawan, penggagas pertunjukan Wayang Golek Ajen, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, Semar diciptakan sebagai representasi falsafah pedalangan yang sangat maju, yakni keyakinan bahwa nilai-nilai ketuhanan dapat hadir melalui kesederhanaan.
Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung itu menilai sosok Semar justru semakin relevan di tengah krisis keteladanan, kegaduhan politik, keretakan sosial, hingga perkembangan teknologi yang kerap kehilangan arah etik.
“Di tengah hiruk-pikuk peradaban modern yang memuja kecepatan, kecerdasan buatan, kekuasaan, dan pencitraan, Nusantara sesungguhnya telah lama memiliki guru peradaban yang diam-diam menjaga arah perjalanan manusia,” ujarnya.

Berbeda dengan tokoh penguasa pada umumnya, Semar tidak tinggal di istana, tidak mengenakan mahkota, dan tidak duduk di singgasana kekuasaan. Namun, di balik kesederhanaannya, ia menyimpan filsafat mendalam tentang manusia, kepemimpinan, keadilan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
“Semar adalah paradoks yang hidup,” kata Wawan yang akrab disapa Ki Dalang Wawan Ajen.
Dalam perspektif tasawuf, Semar dapat dimaknai sebagai simbol manusia yang telah mencapai kematangan spiritual. Nama Semar sendiri mengandung makna filosofis. “Sem” dimaknai sebagai pengemban atau pemangku, sedangkan “Mar” berasal dari kata ismar atau samar yang dimaknai sebagai menghadirkan Yang Maha Tunggal dalam kesadaran hidup.
“Semar bukan sekadar tokoh. Ia adalah jiwa, cahaya, laku, dan jalan menuju kesadaran yang melewati syariat, tarekat, hakikat, hingga makrifat,” ujarnya.
Dalam pertunjukan Wayang Ajen, Semar dipahami sebagai simbol hati yang hidup melalui zikir kepada Tuhan. Tangan kanannya yang menunjuk ke atas melambangkan tauhid, sementara tangan kirinya yang mengarah ke belakang menjadi simbol kepasrahan total kepada kehendak Ilahi.
Kuncung di kepala Semar juga dimaknai sebagai simbol kesadaran spiritual yang tidak pernah terputus dengan langit. Setiap bagian tubuh dan geraknya mengandung ajaran moral serta filosofi hidup masyarakat Nusantara.

Lebih jauh, wajah Semar yang putih bersih dan selalu tersenyum, namun dengan mata sembab dan berair, menggambarkan keseimbangan spiritual antara harapan dan rasa takut kepada Tuhan.
“Senyumnya melambangkan raja’, yaitu harapan yang tidak pernah putus terhadap kasih sayang dan ampunan Tuhan. Sedangkan air matanya melambangkan khauf, yaitu rasa takut kehilangan kedekatan dengan Tuhan,” jelasnya.
Dalam lakon Wayang Golek Ajen berjudul Semar Babar Wahyu Jati Diri, diceritakan Semar memperoleh wahyu penting yang harus disampaikan kepada Pandawa. Namun, ia tidak menyampaikannya di istana, melainkan mengundang Pandawa ke Karang Tumaritis atau Karangkadempel.
“Karena kebenaran sejati memerlukan ruang batin, bukan panggung kekuasaan,” ujarnya.
Wawan menilai Semar layak dijadikan model peradaban masa depan Indonesia. Nilai-nilai yang diwakilinya dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya kepemimpinan berbasis nurani, pendidikan berbasis karakter, ekonomi yang berkeadilan, hingga kebudayaan yang menjunjung kemanusiaan.
“Bahkan Semar dapat menginspirasi pengembangan kecerdasan buatan yang berlandaskan etika dan kebijaksanaan lokal,” pungkasnya.

Hotman Paris Desak Polisi Periksa Penjaga Kos Korban Penyekapan 