catrawarta.com — Malaria, penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles, telah menjadi ancaman bagi manusia selama berabad-abad. Pada masa kolonial, Batavia, nama lama Jakarta, pernah mengalami wabah mematikan yang mengubah sejarah kota sekaligus mendorong lahirnya industri kina di Hindia Belanda.
Sejarawan P.H. van der Brug dalam bukunya Malaria in Batavia in the 18th Century (Malaria en Malaise: de VOC in Batavia in de Achttiende Eeuw) menuliskan bahwa pada 1733 sebuah penyakit mematikan yang belum diketahui penyebabnya merebak di Batavia, pusat pemerintahan dan perdagangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Asia.
Wabah tersebut menyebabkan angka kematian pegawai VOC melonjak tajam. Akibatnya, terjadi kekurangan pelaut, prajurit, hingga tenaga pengrajin.
“Kondisi Batavia yang tidak sehat begitu mematikan bagi pertumbuhan dan kemakmuran koloni serta menghancurkan kepentingan dan keuangan perusahaan,” tulis Van der Brug, mengutip Nederburgh (1794).
Ia menyebut lebih dari 85.000 pegawai VOC menjadi korban kondisi kesehatan Batavia yang buruk.
Untuk menutup kekurangan tenaga kerja, VOC terus mengirim orang-orang dari Belanda ke Batavia. Namun, tingginya angka kematian membuat banyak pos militer tidak lagi dapat diisi, kapal-kapal yang hendak berlayar ke Belanda kekurangan awak, bahkan muatan berharga terpaksa tertahan di Batavia.
Selama lebih dari satu abad, penyebab tingginya kematian tersebut masih menjadi misteri. Batavia pun memperoleh reputasi buruk sebagai “kuburan orang Eropa di Timur”.
Belakangan diketahui bahwa wabah tersebut berkaitan erat dengan malaria. Kondisi geografis Batavia saat itu sangat mendukung penyebaran penyakit, mulai dari banyaknya rawa, saluran air yang tersumbat, sanitasi yang buruk, hingga iklim tropis yang panas dan lembap.
Rumah Sakit “Lubang Pembantaian”
Jauh sebelum wabah besar terjadi, VOC telah mendirikan Binnenhospitaal atau Rumah Sakit Kota Dalam pada 1 Agustus 1639 atas prakarsa Gubernur Jenderal Antonio van Diemen. Rumah sakit itu mulai beroperasi pada 1641.

Lokasinya berada di antara Nieuwpoortstraat dan sungai di sisi barat serta timur, dengan Kanal Kota Dalam di sebelah selatan dan Kerkstraat di sebelah utara.
Menurut Van der Brug, rumah sakit tersebut awalnya dirancang untuk menampung sekitar 300 pasien. Setiap pasien memperoleh ruang sekitar 10 meter persegi dalam bangunan seluas 3.282 meter persegi.
Namun ketika wabah melanda, kapasitas rumah sakit tidak lagi memadai. Lantai dasar yang lembap dan minim ventilasi digunakan sebagai ruang perawatan, sementara puluhan tempat tidur dijejerkan rapat di sepanjang dinding.
Pada 1769 rumah sakit diperluas sekitar 1.500 meter persegi sehingga total kapasitasnya meningkat menjadi sekitar 1.050 pasien. Meski demikian, kondisi bangunan tetap memprihatinkan.
“Bangunan itu suram, lembap, memiliki ventilasi yang buruk, dan berada di lingkungan yang tidak sehat. Rumah sakit tersebut digunakan selama lebih dari satu setengah abad dan dijuluki Murder Pithole (Lubang Pembantaian),” tulis Van der Brug.
Puluhan ribu pegawai VOC meninggal di rumah sakit tersebut.
Mengapa Layanan Kesehatan VOC Gagal?
Dalam penelitiannya berjudul The Health Care Organization of the Dutch East India Company, sejarawan maritim dan medis Belanda Iris Bruijn menjelaskan bahwa VOC sebenarnya telah membangun sistem layanan kesehatan bagi awak kapal, garnisun, dan kantor dagangnya di Asia dengan mengadopsi model kesehatan Angkatan Laut Belanda.

Namun, sistem itu gagal menghadapi besarnya wabah penyakit di Batavia.
Menurut Bruijn, kegagalan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. VOC tidak mampu menangani jumlah pasien yang sangat besar, baik yang telah sakit sebelum berangkat dari Belanda maupun yang jatuh sakit selama pelayaran menuju Asia.
Selain itu, pengetahuan kedokteran saat itu masih sangat terbatas. Penyebab penyakit tropis seperti malaria belum diketahui. Pendidikan tenaga medis juga lebih berorientasi pada penanganan luka akibat peperangan daripada penyakit infeksi.
Kondisi diperparah oleh kebijakan penghematan VOC yang sangat ketat, budaya birokrasi yang membuat pejabat bawahan enggan mengambil keputusan, serta perhatian pimpinan VOC yang lebih banyak tersita pada urusan administratif dibanding penyelesaian persoalan kesehatan masyarakat.
Misteri Demam Batavia hingga Lahirnya Industri Kina
Pada abad ke-17 hingga ke-18, dokter-dokter VOC belum mengetahui bahwa malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Mereka masih menganut teori miasma, yaitu keyakinan bahwa penyakit berasal dari udara buruk yang muncul dari rawa-rawa.
Karena itu, pengobatan yang dilakukan hanya berupa pemberian ramuan tradisional, pengeluaran darah (bloodletting), atau memindahkan pasien ke tempat yang dianggap memiliki udara lebih sehat. Cara-cara tersebut terbukti tidak efektif.

Baru pada abad ke-19 penyebab utama “Demam Batavia” dipahami sebagai malaria.
Pada saat yang hampir bersamaan, dunia kedokteran mulai mengenal khasiat kulit batang pohon kina (Cinchona). Tanaman yang berasal dari Pegunungan Andes, Amerika Selatan, itu telah lama dimanfaatkan masyarakat setempat sebelum diperkenalkan ke Eropa oleh para misionaris Yesuit pada abad ke-17.
Kandungan aktifnya, quinine atau kina, berhasil diisolasi oleh ilmuwan Prancis pada 1820 dan terbukti efektif mengobati malaria.
Melihat malaria sebagai ancaman utama di wilayah tropis, pemerintah kolonial Belanda kemudian membawa bibit pohon kina ke Pulau Jawa pada pertengahan abad ke-19.
Botanis Jerman Franz Wilhelm Junghuhn mengembangkan budidaya kina di kawasan Pangalengan, lereng Gunung Malabar, Jawa Barat. Kondisi alam pegunungan yang sejuk terbukti sangat cocok bagi tanaman tersebut.
Keberhasilan budidaya kina menjadikan Hindia Belanda sebagai produsen kina terbesar di dunia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Untuk mengolah hasil perkebunan itu, pemerintah kolonial mendirikan Bandoengsche Kinine Fabriek pada 1896, yang memasok kebutuhan obat malaria ke berbagai negara di dunia.
Sejarah malaria di Batavia pun tidak hanya menjadi kisah tentang wabah yang merenggut puluhan ribu nyawa, tetapi juga menjadi awal lahirnya industri kina yang pernah menempatkan Indonesia sebagai pusat produksi obat antimalaria dunia.

Gol Kaan Ayhan Tumbangkan Amerika Serikat! 