Catra Budaya

Hening dan Sakral, Warga Plupuh Kirab Malam Asyura

catrawarta.com — Hari Asyura atau 10 Muharam menyimpan momentum untuk refleksi. Ratusan warga Dukuh Plupuh, Wukirsari, Cangkringan, Sleman mengikuti laku tapa bisu...

Puncak malam asyura di plataran jagad bambu nusantara
Puncak malam Asyura di plataran Jagad Bambu Nusantara (Dok. Catra)

catrawarta.comHari Asyura atau 10 Muharam menyimpan momentum untuk refleksi. Ratusan warga Dukuh Plupuh, Wukirsari, Cangkringan, Sleman mengikuti laku tapa bisu mengelilingi kampung mengenang jejak perjalanan leluhur dan hidup mereka. Suasananya hening dan sakral.

Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, tanpa mengenakan alas kaki berkumpul di Balai RW Plupuh selepas salat Isya, Rabu (24/6/2026) malam. Mereka berbusana Jawa apa adanya sesuai yang mereka miliki. Sebagian karang taruna memikul tumpeng lengkap uba rampe. Tepat 19.30 WIB mereka menapaki laku tapa bisu menyusuri jalan kampung. Tetua desa, Subiyanto, bersama Wahjudi Djaja bergantian membaca kidung pamerti dusun, sementara warga membisu sambil mengirimkan doa untuk arwah leluhur dan keluarga mereka.

Sekitar 1,5 km mereka berjalan dalam hening khusuk ditingkahi suara gesekan daun bambu. Sesampai di plataran Jagad Bambu Nusantara, warga mengelilingi panggung terbuka. Wahjudi Djaja didampingi para tetua desa membacakan gurit (syair Jawa) yang berisi permohonan agar Plupuh bisa maju dan makmur dengan tetap guyup rukun:

“Niyat ingsun amiwiti ngrapal kidung, Kidung Pamerti Dhusun Plupuh Tangguh, kinanthen arum kukusing dupa ratus kang kumelun, patik nyuwun aksama mrih kang kelimput drengki lan srei, lilih ing galih. Temah Kang Maha adil lan Maha Asih angganjar widada basuki, mahanani pamertine mandhala, rahayu, niskala tinebihna saking tulah sarik, satemah Cipta, Karsa lan Rasane anggung liwung ngenguwung gawe wuyung. Patut sinudarsana tumrap titah sadarum.”

Setelah pembacaan kidung dan gurit selesai, seluruh warga berkumpul kembali di Balai RW untuk membacakan dzikir dan doa dipimpin Sugeng Winarto, SPd selaku rois.

Sarasehan warga plupuh dok Catra
Sarasehan warga Plupuh (Dok. Catra)

Sebelumnya Dukuh Plupuh, Sutarja, saat melepas laku tapa bisu menyampaikan harapannya, agar setelah prosesi malam Asyura, segenap warga lebih meningkat amal kebaikannya dan bersama-sama memajukan Plupuh. “Malam ini kita berjalan tanpa alas kaki, untuk menyerap energi yang ada di sini sekaligus meneleladani leluhur kita yang telah berjasa meletakkan sejarah Plupuh.”

Ketua Panitia, Triyono, menyampaikan terima kasihnya atas kebersamaan seluruh warga yang sukarela bergotong royong demi pelaksanaan kirab malam Asyura. “Kami berharap ini menjadi agenda tahunan yang semakin tertata dan bermakna. Selama ini kita hanya kenduri dan doa bersama, mulai tahun ini kita adakan kirab mubeng dusun tapa bisu“, tandasnya.

Dalam sarasehan selepas kenduri dan dzikiran, Wahjudi Djaja selaku fasilitator menyampaikan pentingnya menjaga ruh budaya desa. “Kunci persatuan kita adalah ketika semua sadar untuk menjaga ruh budaya yang berakar pada adat dan tradisi. Jangan sampai padam agar dusun dan desa kita tetap harmonis, guyup rukun, nyawiji dan golong gilig. Melalui tradisi ini kita juga bisa mengajarkan kepada generasi penerus agar tetap cinta budaya desa”, jelas Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY ini.

Setelah sarasehan dilakukan serah terima jabatan Ketua RW dari Suhardi kepada Ahadiyanto dipandu Ketua Destinasi Jagad Bambu Nusantara, Excel Sanjaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *