catrawarta.com — Di antara aroma manis tebu yang mulai dipanen, suasana di Pabrik Gula Madukismo di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berubah menjadi lautan cahaya dan keriuhan. Sejak 31 Maret hingga 14 April 2026, area emplasemen pabrik itu tak lagi sekadar ruang produksi, melainkan menjelma menjadi panggung hiburan rakyat yang hidup, berupa Pasar Malam Cembengan.
Begitu senja turun, lampu-lampu wahana mulai menyala. Anak-anak berlarian menuju komidi putar, remaja mengantre di wahana permainan, sementara orang tua menyusuri deretan bazar yang dipenuhi aneka kuliner dan produk UMKM. Lebih dari 130 stan berdiri berjejer, menawarkan segala hal dari jajanan tradisional hingga barang kebutuhan sehari-hari. Suara musik, tawa pengunjung dan panggilan para pedagang berpadu menjadi satu irama yang khas, ramai, hangat dan akrab.
Tradisi Panjang Sejak Masa Kolonial
Namun Cembengan bukan sekadar pasar malam. Ia adalah tradisi panjang yang berakar sejak masa kolonial, ketika pabrik-pabrik gula di Pulau Jawa menggelar perayaan menjelang musim giling. Di Madukismo, tradisi itu tetap hidup, bahkan semakin kaya makna. Di balik gemerlap hiburan, tersimpan ritual budaya yang sarat simbol dan harapan.
Puncaknya adalah kirab tebu temanten, yang tahun ini digelar pada Sabtu, 11 April 2026. Dari halaman Gedung Maducandhya, sepasang tebu “pengantin” diarak dalam sebuah prosesi yang khidmat sekaligus meriah. Tebu-temanten itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol doa agar panen melimpah, proses giling berjalan lancar dan kesejahteraan menyertai masyarakat.
Arak-arakan itu mengundang perhatian banyak orang. Warga berkerumun di sepanjang rute, sebagian mengabadikan momen, sebagian lagi larut dalam suasana. Di tengah hiruk-pikuk pasar malam, kirab ini menjadi pengingat, Cembengan bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang rasa syukur dan harapan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perkuat Kebersamaan
Menariknya, denyut ekonomi warga ikut bergerak seiring berlangsungnya acara. Lahan-lahan kosong disulap menjadi tempat penitipan sepeda motor. Kelompok pemuda dan warga bergotong royong mengelolanya, meraup penghasilan yang bisa mencapai jutaan rupiah selama perhelatan berlangsung. Bagi mereka, Cembengan bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menambah kas komunitas.
Di Madukismo, Cembengan adalah pertemuan dua dunia, yakni tradisi yang sakral dan hiburan rakyat yang meriah. Keduanya menyatu tanpa saling meniadakan. Di bawah cahaya lampu pasar malam dan di tengah doa-doa yang dipanjatkan, masyarakat menemukan satu hal yang sama berupa harapan kehidupan yang lebih baik, semanis gula yang dihasilkan dari tebu mereka.

Negara Berdaulat Harus Didukung, Agresi Tidak Boleh Dibiarkan 