Warta

Kondangan Boleh Diwakilkan, Beda dengan Pilkada

catrawarta.com — Penolakan pemilihan kepala daerah secara tidak langsung atau melalui DPRD terus bergulir. Kali ini seniman Yogyakarta melakukan aksi teatrikal menggambarkan...

Demokrasi disuarakan lewat seni tradisi

catrawarta.comPenolakan pemilihan kepala daerah secara tidak langsung atau melalui DPRD terus bergulir. Kali ini seniman Yogyakarta melakukan aksi teatrikal menggambarkan perampasan hak politik rakyat melalui para elite.

Mereka yang tergabung dalam Masyarakat  Seni Tradisi Yogyakarta (Matra) beraksi di depan Gedung Agung Istana Negara. Sebagian mengenakan pakaian punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong dan lainnya berbusana ala raksasa.

Koordinator Matra, Agus Sunandar menegaskan kehadirannya Bersama seniman untuk menyampaikan aspirasi penolakan sistem pemilihan umum kepala daerah dengan diwakilkan DPRD. 

”Kami tegas menolak pilkada tak langsung. Yogyakarta tetap menjaga demokrasi, kita ingatkan kembali ruang ingatan rakyat, berjuang menegakkan reformasi,” tandas Agus.

Kembali ke Orde Baru

Para elite akan membawa kembali ke era Orde Baru. Karena itu, rakyat Yogyakarta menolak pilkada tidak langsung. Pemilihan langsung sesuai amanat reformasi dan demokrasi sudah berjalan baik kini akan dikembalikan ke zaman tanpa demokrasi.

”Hak memilih merupakan hak asasi, kalau ini saja diambil rakyat mau apa, cuma disuruh nonton?” tandas Agus.

Aksi seniman dan bentuk ekspresi seni menarik perhatian masyarakat yang tengah berwisata. Termasuk sejumlah wisatawan asing yang kebetulan berjalan melintas dan segera mengabadikannya.

”Urusan memilih pemimpin yang jangan diwakilkan, kalau kondangan boleh saja diwakilkan. Jangan sampai kita kehilangan hak suara,” ujar pemeran Bagong menimpali pernyataan Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *