catrawarta.com — Penulis sudah lebih dari empat puluh tahun berkecimpung di dunia seni rupa. Puluhan tahun berkarya dan berpameran di berbagai kota. Ikut membangun organisasi seni, dari komunitas kecil di desa sampai jaringan yang lebih luas. Dari perjalanan itu, penulis melihat sendiri betapa dinamis dan penuh gejolak hidup para pelaku seni. Yang tampak di permukaan, sering jauh berbeda dari kenyataan di dalamnya.
Selama berkarier, penulis bertemu banyak perupa. Perjalanan mereka sangat beragam. Ada yang masuk dengan semangat besar. Mereka membawa ide-ide segar dan percaya diri soal masa depannya di dunia seni. Tapi tak sedikit yang menyerah, bahkan sebelum sempat menempuh perjalanan panjang. Ada yang berhenti setelah menghasilkan hanya beberapa lembar karya saja.
Fenomena ini tidak cuma soal individu. penulis juga menyaksikan banyak kelompok dan organisasi seni bermunculan, awalnya solid dan penuh antusias. Anggotanya ramai, dan semangat kolektifnya terasa nyata. Tapi, seperti api yang kekurangan bahan bakar, tak semuanya bertahan. Sebagian hanya berumur seumur jagung. Aktivitas perlahan surut, satu per satu anggotanya menghilang. Datang dan pergi, silih berganti. Lalu kelompok itu menghilang dari peta. Sebagian memilih jalan sendiri, tak lagi mempedulikan organisasi yang dulu mereka bangun bersama.
Dari semua itu, satu kenyataan jadi jelas, mempertahankan keberlanjutan di dunia seni rupa tidak semudah yang dibayangkan. Semangat awal penting, tapi tidak pernah cukup. Ada sesuatu yang lebih penting, yang sebenarnya menentukan apakah seseorang atau sebuah kelompok bisa bertahan.
Mereka membayangkan menjadi seniman itu seperti hidup di dunia penuh sorotan dan tepuk tangan. Serba glamour. Hasil karya dipuji. banyak mendapat sorotan dari kamera mass media. Bayangan itu muncul karena yang sering diamati selalu hasil akhir. Di ruang pameran, yang tampak hanya karya yang sudah selesai. Sempurna dan siap diapresiasi. Tapi pergulatan batin, jatuh bangun, dan pengorbanan panjang di balik itu jarang sekali diketahui orang lain.
Kekaguman pada hasil akhir ini memang mudah menular. Tidak sedikit yang akhirnya tertarik masuk dunia seni. Motivasi awalnya ingin merasakan sorotan serupa. Merasa bisa juga menghasilkan karya indah seperti yang terpajang di dinding ruang-ruang pameran. Tapi mereka lupa, keindahan yang terpajang itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang penuh rintangan. Dari luar, semuanya tampak gampang. Padahal, antara keinginan untuk tampil dan kemampuan untuk benar-benar menjalani proses, jaraknya sangat jauh.
Nyatanya, proses itu memang sering tak tampak. Di balik layar, penuh keraguan, eksperimen demi eksperimen, kegagalan yang dialami berulang kali. Tiap tahap butuh waktu dan ketekunan. Kalau tak dibangun di atas pondasi yang kuat, minat dan semangat bisa runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan yang tak seindah impian.
Di sini, batasnya jelas sekali. Ada yang menekuni seni demi tampil dan dikenal, ada pula yang karyanya memang tumbuh dari dorongan dalam diri yang sangat kuat. Di awal mungkin tampak serupa. Sama-sama berkarya, sama-sama memamerkan hasil. Tapi makin lama, arahnya mulai terlihat, terutama saat harus menghadapi tekanan dan kegagalan.
Fenomena ini sangat terasa di kalangan anak muda. Banyak yang belum benar-benar paham, menjadi seniman proses perjalanannya panjang. Sulit bisa dicapai secara instan atau dipangkas jadi beberapa tahap. Prosesnya menantang dan butuh waktu. Sering membuat resah karena penuh ketidakpastian.
Akibatnya, kesenimanan mulai dipahami sebagai pilihan profesi yang bisa dirancang seperti jalur karier pada umumnya. Pendekatan ini mendorong cara berpikir yang lebih berorientasi pada hasil daripada proses. Ukuran keberhasilan pun cenderung bergeser menjadi sesuatu yang cepat terlihat, bukan sesuatu yang tumbuh melalui pengalaman yang panjang dan berlapis.
Media sosial turut memperkuat cara pandang seperti itu. Menghadirkan gambaran yang serba cepat dan instan. Kesuksesan terlihat seolah dapat dicapai dalam waktu singkat. Karya dengan mudah tersebar luas dan banyak yang mengapresiasi dan mengoleksi. Popularitas dapat segera diraih, tanpa melalui proses yang panjang. Hidup mapan dengan kekayaan melimpah.
Cukup banyak khususnya anak muda mencoba terjun ke dunia seni, tapi tanpa bekal motivasi kuat yang tumbuh dari dalam. Ada yang cuma ikut-ikutan tren. Ada yang tergoda peluang pasar. Ada juga yang terbawa lingkungan atau organisasi. Pilihan-pilihan ini sendiri tak selalu salah, tapi sering tanpa kesiapan mental untuk menjalani proses panjang yang penuh liku-liku.
Ketika dorongan utama tidak berasal dari kebutuhan batin, hubungan dengan karya menjadi rapuh dan mudah goyah. Berkarya tidak lagi dipahami sebagai proses pencarian, melainkan berubah menjadi kegiatan produksi untuk mengejar hasil. Keterikatan terhadap karya pun menjadi dangkal. Yang dikejar bukan kematangan, tapi pencapaian yang cepat terlihat. Dalam kondisi seperti ini, ketika hasil tidak sesuai harapan, kekecewaan datang dengan cepat dan sulit dicegah.
Ini yang menjadi sebab, banyak perjalanan seniman kandas di tengah jalan. Persoalannya bukan karena kurang bakat atau penguasaan teknik, tapi daya tahan dalam menghadapi proses sangat lemah. Harapan yang terlalu tinggi, terlalu cepat ingin bahagia, akhirnya bertabrakan dengan realita yang menuntut waktu, kesabaran, dan ketekunan.
Agus Dermawan T. pernah menyatakan bahwa seni rupa bukan hanya persoalan keterampilan, tetapi juga ketahanan mental dan kedalaman pengalaman hidup. Pandangan ini menunjukkan bahwa menjadi seniman tidak dapat dilepaskan dari proses batin yang panjang dan tidak selalu mudah.
Lingkungan punya peran penting, tentu saja. Pendidikan dan komunitas bisa memperluas wawasan dan referensi, bahkan membuka peluang baru. Tapi pada dasarnya, itu hanya jadi pemicu awal. Tanpa dorongan dari dalam diri, semua itu tidak cukup jadi bahan bakar utama untuk terus berkarya.
Nyatanya, banyak seniman yang bertahan justru muncul dari pergulatan pribadi. Mereka bukan sekadar ikut arus atau meniru apa yang sedang tren, tapi bekerja keras mencari bahasa visual yang pas dengan pengalaman dan cara pandangnya sendiri. Proses ini biasanya lambat, penuh keraguan, kebuntuan, kadang gagal. Tapi justru di sana, karakter dan kekuatan karya mereka terbentuk.
Perkembangan seni rupa kontemporer membuka ruang yang sangat luas bagi berbagai kemungkinan. Medium, teknik, dan pendekatan terbuka lebar. Setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan arah karyanya sendiri. Namun kebebasan ini tidak selalu mudah dijalani, terutama bagi mereka yang belum memiliki pijakan yang jelas dalam memahami, apa yang ingin dicapai pada karyanya.
Akibatnya, meniru sering jadi jalan pintas paling gampang. Gaya bisa dicontek, teknik bisa diadopsi, konsep diulang-ulang tanpa proses mendalam. Ya, cara ini menghasilkan karya dengan cepat, tapi daya tahannya lemah. Hal ini karena tidak tumbuh dari pengalaman pribadi. Begitu ada perubahan situasi, karya semacam ini mudah kehilangan arah. Gampang tenggelam dan terlupakan.
Sebenarnya bukan salah pada proses belajar. Meniru memang bagian penting dari berkembang. Masalahnya kalau proses itu berhenti di situ. Menjadi seniman butuh keberanian untuk mengambil langkah lebih jauh. Mengolah pengalaman orang lain, menemukan bentuk baru yang lahir dari diri sendiri. Kalau keberanian itu tak ada, karya yang dihasilkan cuma bayang-bayang tanpa identitas.
Perjalanan seni menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis atau strategi pencapaian. Ia membutuhkan keteguhan untuk terus berjalan dalam proses yang panjang, termasuk saat tidak ada perhatian atau pengakuan dari luar. Tanpa pondasi yang bersumber dari dalam diri, arah perjalanan mudah goyah, dan langkah yang diambil kehilangan kejelasan tujuan.
Purwosari, 08 April 2026

“Gemilang”: Dari Orang Biasa yang Menolak Kalah 