Catra Cendekia

Pendidikan Moderat Jadi Kunci Cegah Radikalisme Sejak Dini

catrawarta.com — Radikalisme tidak pernah muncul begitu saja. Ia tumbuh melalui berbagai celah sosial—mulai dari krisis identitas, ketimpangan sosial, hingga arus informasi...

Ilustrasi pendidikan moderasi beragama sebagai upaya mencegah penyebaran paham radikalisme di kalangan anak dan remaja melalui peran keluarga dan sekolah
Ilustrasi pendidikan moderasi beragama sebagai upaya mencegah penyebaran paham radikalisme di kalangan anak dan remaja melalui peran keluarga dan sekolah.

catrawarta.comRadikalisme tidak pernah muncul begitu saja. Ia tumbuh melalui berbagai celah sosial—mulai dari krisis identitas, ketimpangan sosial, hingga arus informasi digital yang sulit dikendalikan. Dalam situasi ini, anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan terpapar ideologi intoleran yang membentuk cara pandang hitam-putih terhadap perbedaan. (5/3/2026)

Fenomena penyebaran paham radikal di kalangan generasi muda menjadi perhatian banyak kalangan. Di tengah derasnya arus informasi digital dan dinamika sosial yang kompleks, sekolah dan keluarga dinilai memiliki peran krusial dalam membangun ketahanan ideologis sejak dini.

Sosiolog Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si., menilai pendidikan Islam moderat harus ditanamkan secara konsisten sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan, tetapi menempatkan ajaran agama secara adil, proporsional, dan menghargai kemajemukan masyarakat,” ujar Sodik.

Menurutnya, dalam konteks Indonesia yang plural, pendidikan agama seharusnya menanamkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin—menghadirkan kedamaian dan kemaslahatan bagi semua pihak—bukan justru memperkuat sikap eksklusif dan kebencian terhadap kelompok lain.

Ia menjelaskan, sekolah memiliki tanggung jawab strategis dalam membangun ketahanan tersebut. Kurikulum pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemampuan berpikir kritis.

Guru, kata Sodik, perlu dibekali kemampuan untuk mengenali narasi intoleran yang kerap muncul secara terselubung, baik melalui percakapan informal, komunitas daring, maupun materi nonformal yang beredar di kalangan pelajar.

“Sekolah harus menjadi ruang aman bagi dialog dan pembelajaran kritis, sehingga siswa mampu memverifikasi informasi dan memahami perbedaan sebagai realitas sosial yang harus dihormati,” tambahnya.

Selain pendidikan di sekolah, peran keluarga juga menjadi faktor penentu dalam pencegahan radikalisme. Keluarga merupakan ruang pendidikan pertama bagi anak sebelum mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Pola komunikasi yang terbuka dinilai penting agar anak tidak mencari jawaban atas kegelisahannya dari sumber-sumber yang tidak kredibel. Orang tua juga diharapkan mampu mengawasi penggunaan media digital sekaligus memberi teladan sikap toleran dalam kehidupan sehari-hari.

Para ahli juga mengingatkan bahwa tanda-tanda awal paparan radikalisme pada anak sering kali muncul melalui perubahan perilaku. Misalnya sikap yang semakin eksklusif, kecenderungan menyalahkan kelompok lain, penolakan terhadap simbol kebangsaan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Meski demikian, pendekatan represif dinilai bukan solusi yang efektif. Upaya pencegahan lebih tepat dilakukan melalui pendekatan edukatif, dialogis, dan persuasif agar anak tetap merasa diterima dalam lingkungan sosialnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, pencegahan radikalisme tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kebudayaan sosial yang inklusif. Tradisi gotong royong, interaksi lintas kelompok, serta solidaritas sosial yang kuat dapat menjadi benteng alami terhadap ideologi kebencian.

Dengan demikian, pendidikan moderasi beragama bukan sekadar program pendidikan, melainkan bagian dari upaya menjaga masa depan bangsa di tengah keberagaman yang menjadi fondasi kehidupan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *