catrawarta.com — Hujan yang mengguyur wilayah Yogyakarta dan sekitarnya mengakibatkan sejumlah sungai meluap dan membawa material dari Gunung Merapi. Satu orang meninggal dunia, tiga hilang dan sejumlah unit truk pengangkut pasir hanyut akibat terjangan banjir bandang material gunung api.
Korban saat itu sedang berada di lokasi penambangan pasir di Sungai Senowo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Banjir yang datang tiba-tiba, membawa material padat membuat penambang kalang kabut. Kini, Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban.
Peringatan dini dikeluarkan agar masyarakat berhati-hati dan waspada karena pada 4-5 Maret 2026 masih berpotensi terjadi hujan sedang dan lebat seperti beberapa hari ini. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Yogyakarta mengeluarkan peringatan resmi.
”Berdasarkan pengamatan, terpantau Bibit Siklon Tropis 90S di wilayah Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa Timur yang menyebabkan pembentukan wilayah konvergensi sepanjang Pulau Jawa,” papar Plh Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Sandy Purba Almubarak STP.
Semua Wilayah DIY Hujan
Sandy menjelaskan, seluruh wilayah DIY akan mengalami cuaca ekstrem dan hujan lebat pada 4-5 Maret 2026. Gelombang tinggi juga bakal melanda seluruh Pantai Selatan yakni Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo.
”Tetap tenang dan siaga menghadapi cuaca ekstrem. Pahami langkah evakuasi, pantai perkembangan dari informasi resmi BMKG,” imbuhnya.
Sementara itu, BMKG Pusat dalam keterangannya mengidentifikasi kemunculan tiga bibit siklon tropis yang berada di sekitar wilayah Indonesia. Keberadaan fenomena tersebut memicu potensi peningkatan curah hujan atau cuaca ekstrem seperti angin kencang, hingga gelombang tinggi.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan berdasarkan pantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta ketiga sistem yang saat ini aktif adalah Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Banten–Jawa Barat, Bibit Siklon Tropis 93S di sebelah barat laut daratan Australia, serta Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria sebelah selatan Papua Selatan.
Terus Melakukan Pemantauan
Pihaknya memantau pergerakan ketiga bibit siklon secara intensif selama 24 jam penuh. Ia minta masyarakat tetap tenang. Namun demikian, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak tidak langsung seperti genangan atau angin kencang.
”Berdasarkan hasil analisis terkini, Bibit Siklon 90S memiliki peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-48 jam ke depan. Sementara bibit lainnya, 93S dan 92P memiliki peluang rendah namun keseluruhannya tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan Indonesia,” papar Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.
Ia mengungkapkan, ketiga bibit siklon meningkatkan gradien tekanan udara yang memperkuat kecepatan angin permukaan serta memicu pemusatan massa udara. Kondisi tersebut diperkuat suhu muka laut yang hangat di perairan selatan dan timur Indonesia, serta terbentuknya area pertemuan angin (konfluensi) sepanjang Bali hingga Nusa Tenggara Timur.

Menakar Ulang Ambang Batas Parlemen, Stabilitas atau Reduksi Suara Rakyat? 