catrawarta.com — Komunitas Minggu Legi yang bermarkas di Jalan Lawet Cungkuk, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, menggelar sarasehan bertema “Korelasi Tembang Macapat dengan Siyam Ramadan.” Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar komunitas dalam menguatkan kantong-kantong seni budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta.Ketua Komunitas Minggu Legi, Akhir Lusono, mengatakan, komunitas yang dipimpinnya memfokuskan kegiatan pada dialog dan seminar Sastra Jawa, pelatihan, pertunjukan, hingga pameran karya Sastra Jawa.
“Harapannya, komunitas ini mampu nguri-uri kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Yogyakarta,” ujarnya.
Sarasehan menghadirkan sastrawan dan budayawan Jawa, Suwardi Endraswara, yang membedah tembang Macapat dari perspektif antropologis. Menurutnya, Ramadan merupakan bulan pendidikan ruhani. Puasa tidak semata ibadah fisik, melainkan proses rekonstruksi kesadaran diri.
“Dalam konteks budaya Jawa, tembang Macapat menyimpan filosofi perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta. Struktur Macapat sejatinya paralel dengan perjalanan spiritual dalam Islam,” jelasnya.
Ia memaparkan sebelas tahapan simbolik dalam Macapat, dimulai dari Maskumambang sebagai fase ketidakberdayaan manusia, Mijil sebagai kelahiran kesadaran diri, Sinom masa belajar dan pertumbuhan karakter, hingga Kinanthi sebagai bimbingan moral dan spiritual.
Tahap berikutnya, Asmaradana dimaknai sebagai ujian cinta, nafsu dan ego; Gambuh sebagai keselarasan diri dan lingkungan; Dhandhanggula sebagai kematangan hidup; serta Durma sebagai pergulatan melawan amarah. Pangkur ditafsirkan sebagai menjauh dari hawa nafsu duniawi, Megatruh sebagai kesadaran akan kefanaan, dan Pucung sebagai fase akhir kehidupan atau kembali kepada asal.
“Dalam filsafat Jawa dikenal konsep sangkan paraning dumadi, dari Allah kembali kepada Allah,” tambahnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Yanatun Yunadiana, bersama sejumlah seniman dan warga sekitar. Kehadiran dinas terkait juga berkaitan dengan pengajuan Nomor Induk Kebudayaan (NIK) yang diajukan komunitas tersebut.
“Kami berharap dengan adanya NIK, komunitas yang sudah cukup lama berdiri ini memiliki legalitas resmi dan diakui pemerintah,” kata Akhir.
Pada kesempatan itu, penyair senior Mustofa W Hasyim turut memeriahkan acara dengan membacakan puisi berjudul Ngas, Nges, Ngos, menambah suasana reflektif dalam sarasehan yang memadukan nilai budaya dan spiritualitas tersebut.

Perkuat Penyusunan Cetak Biru Ekosistem Ekonomi Haji, Kemenhaj Gandeng IPB 