catrawarta.com — Dalam dunia seni rupa tidak jarang adanya situasi yang paradoksal. Di satu sisi, ada panggung megah dengan lampu sorot pasar yang silau, tapi di sisi lain, ada lorong-lorong sunyi tempat para “pengelana batin” bekerja tanpa pernah terdengar suaranya sampai mereka tutup usia. Membicarakan sosok-sosok seperti Vincent van Gogh, atau kalau di negeri sendiri, ada Nashar, Rudy Isbandi, Makhfoed, dan masih sangat banyak seniman lainnya. Mereka ini personifikasi nyata dari sebuah keteguhan yang – kalau menggunakan logika ekonomi – sama sekali tidak masuk akal.
Apa sebenarnya yang membuat seorang seniman tetap bertahan dan intens menggoreskan kuas saat perut lapar atau lingkungan sekitar tidak ada yang peduli ?
Seringkali, masalahnya bukan pada kualitas karya, tapi sebagian karena ketidaksiapan zaman. Van Gogh terabaikan, bahkan dihina pada saat itu karena sapuan kuasnya dianggap kasar dan “aneh” oleh publik yang masih mendewakan teknik yang rapi dan cantik. Dia tidak gagal; dia hanya sedang “berbicara” dengan masa depan menggunakan bahasa yang belum ditemukan generasinya.
Di Indonesia, Nashar adalah anomali yang cukup ekstrem. Dengan prinsip “tiga non”-nya (non-konsep, non-teknik, non-estetika), dia seperti menampar wajah pasar seni yang saat itu cuma mau menerima lukisan-lukisan yang marketable atau karya-karya untuk dekorasi ruang tamu. Bagi Nashar, dalam kegelisahan kreatifnya sepanjang waktu, seni itu proses pemurnian jiwa, bukan sebagai komoditas. Dia memilih jalan sunyi bukan karena tidak laku, tapi karena dia tidak sudi menukar kejujuran prosesnya dengan riuh tepuk tangan art market, yang bagi dia dianggap selebrasi yang palsu.
Realitas ekosistem seni rupa sering kali bekerja layaknya sebuah mercusuar yang hanya mampu menyorot yang dianggap sebagai pusaran-pusaran seni rupa. Di luar poros itu, dalam lingkup seni rupa Indonesia sebenarnya menyimpan banyak “lubang hitam” yang penuh dengan talenta luar biasa namun terabaikan oleh radar pasar. Persoalan geografis menciptakan segregasi yang nyata, di mana seniman yang berada di luar pusaran seni rupa seolah dianggap tidak eksis. Padahal, gairah artistik di daerah sering kali lebih murni karena mereka tumbuh tanpa intervensi selera kolektor yang kerap mendikte demi kepentingan komoditas semata.
Potret getir ini terekam jelas dalam jejak hidup Rudy Isbandi di Surabaya. Ada sebuah ironi yang menyayat hati ketika seorang seniman besar dengan integritasnya harus sampai pada keputusan tragis: membakar karya-karyanya sendiri secara berkala. Hal itu dilakukan bukan karena ia membenci ciptaannya, melainkan karena tempat tinggalnya tak sanggup menampung tumpukan kanvas yang tak kunjung menemukan “dinding rumah”, selain di rumah tinggal sendiri. Rudy adalah simbol dari perlawanan terhadap sistem yang abai, seorang kreator yang memilih menghanguskan jejak visualnya daripada harus mengemis ruang pada ekosistem yang hanya memuja popularitas dan kedekatan relasi.
Tak jauh berbeda, sosok Makhfoed, yang sehari-harinya untuk memenuhi kebutuhan hidup berjualan kain taplak, menjadi bukti lain betapa kerasnya hidup sebagai seniman di pinggiran radar nasional. Bagi seniman seperti mereka, berkarya bukan lagi soal pilihan karier, melainkan sebuah mesin penggerak internal yang bekerja secara otonom. Ada semacam dorongan eksistensial yang begitu purba, di mana berhenti menggoreskan kuas dirasakan jauh lebih menyakitkan dan mematikan daripada harus hidup dalam himpitan ekonomi yang mencekik. Mereka tetap tegak berdiri meski tanpa tepuk tangan, membuktikan bahwa kreativitas sejati tidak memerlukan pengakuan dari luar untuk terus bernapas.
Sebagai sosok outsider, para seniman ini sebenarnya sedang menikmati satu kemewahan yang jarang dimiliki oleh pesohor seni di pusat kota: kebebasan mutlak. Tanpa beban untuk memuaskan hasrat estetik kolektor atau tuntutan galeri yang mengejar target penjualan, mereka leluasa melakukan eksperimen paling radikal sekalipun. Bagi mereka, kemiskinan materi bukanlah sebuah kutukan, melainkan harga yang harus dibayar demi menjaga kemurnian api kreatif. Mereka tidak sedang memproduksi barang dagangan, melainkan sedang melakukan dialog intim dengan diri sendiri yang tidak bisa diintervensi oleh fluktuasi opini.
Secara psikologis, mereka adalah para petapa modern yang menjadikan seni sebagai jalur asketik untuk memproses kegelisahan hidup. Mereka tidak memerlukan konfirmasi dari tokoh atau institusi ternama hanya untuk merasa bahwa hidup mereka bermakna. Bagi figur seperti ini, setiap garis dan warna yang lahir dari “keringat emosi” adalah cara untuk bertahan hidup secara mental. Keterpurukan ekonomi tidak pernah dianggap sebagai kegagalan profesi, karena frekuensi mereka memang tidak untuk selaras dengan selera umum yang cenderung seragam dan cepat berubah.
Namun, sejarah sering kali memiliki caranya sendiri untuk melakukan koreksi terhadap kealpaan zaman. Waktu adalah kurator yang paling jujur, yang dengan teliti menyaring mana karya yang benar-benar memiliki ruh dan mana yang hanya polesan permukaan sebagai rekayasa citra visual. Munculnya fenomena posthumous fame, atau ketenaran setelah kematian, menjadi tamparan keras bagi ekosistem seni yang sering kali terlambat menyadari sebuah jenius artistik. Ketika para seniman ini telah tiada, barulah dunia berebut mengkaji dan mengumpulkan jejak-jejak visual mereka sebagai dokumen peradaban yang tak ternilai harganya. Namun, hanya sebagian kecil saja yang mengalami fenomena tersebut, sedangkan sebagian besar lainnya, saat seniman tersebut wafat, terkubur juga nama dan semua karya-karyanya.
Memperhatikan perjalanan hidup seniman-seniman di atas, maka keberadaannya yang terlupakan ini adalah pengingat bahwa ukuran kesuksesan dalam seni bersifat cair dan tidak bisa dipatok pada angka-angka penjualan. Integritas dan kejujuran ekspresi tetap menjadi modal utama yang melampaui segala bentuk kapitalisasi seni. Meskipun publik sering kali terlambat berpaling, karya yang lahir dari kedalaman jiwa akan selalu menemukan jalannya sendiri. Mereka telah menang melawan segala macam bentuk intervensi, membuktikan bahwa kesetiaan pada suara batin adalah kemenangan tertinggi yang bisa diraih sosok seniman, walau bisa jadi ia dilupakan jaman. Tapi terkadang cahaya hasil kerja kreatifnya baru muncul setelah sang kreator beristirahat dalam keabadian.
Purwosari, 15 Pebruari 2026

SPPG Penajam Ditutup, Puluhan Siswa Diduga Keracunan 