catrawarta.com — Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Agus Prasetyo menyoroti meningkatnya tren serangan siber di sektor pendidikan, termasuk kasus kebocoran data yang terjadi di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Kebocoran data menurutnya sangat mengganggu. Insiden tersebut baru saja menyerang beberapa perguruan tinggi.
”Kami mencatat ada 15 perguruan tinggi yang terdampak, dan tim kami turut mengasistensi tindak lanjut penanganannya. Karena itu, setiap organisasi perlu mengantisipasi ancaman tersebut,” tandas Agus.
Ia mengungkapkan itu pada penyerahan Surat Tanda Registrasi (STR) dari Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia (BSSN) kepada UMY. Dengan registrasi tersebut, UMY tercatat sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) ketiga di Indonesia yang memiliki tim tanggap insiden siber secara resmi.
Tingkatkan Literasi Keamanan Siber
Agus menegaskan keberadaan CSIRT memiliki peran penting dalam merespons insiden secara cepat, memitigasi dampak, serta meningkatkan literasi keamanan siber di lingkungan kampus. Keamanan siber, menurutnya, merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
”Penyerahan tanda registrasi menjadi tonggak penting bagi kesiapan instansi dalam melakukan pencegahan, penanganan, dan pemulihan insiden keamanan siber secara terstruktur dan terkoordinasi. Kami berharap kolaborasi antar pemangku kepentingan semakin kuat, baik dalam pertukaran informasi maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” harap Agus.
Ketua CSIRT UMY, Nur Hayati menjelaskan pembentukan CSIRT merupakan langkah strategis dalam membangun sistem keamanan informasi yang terstruktur, profesional, dan berintegritas.
Ia menjelaskan CSIRT UMY dibentuk pada akhir 2025 dan disahkan pada awal Januari 2026. Pihaknya memiliki visi untuk mewujudkan ketahanan siber yang andal, profesional, dan berintegritas di lingkungan UMY.
Penguatan Sistem Keamanan Informasi
Nur menambahkan, visi tersebut diturunkan dalam sejumlah langkah strategis, mulai dari penguatan sistem keamanan informasi hingga pembangunan kolaborasi lintas lembaga. Kolaborasi tidak hanya fokus lingkungan internal kampus, tetapi juga dengan perguruan tinggi lain dan instansi terkait.
”Kami memiliki dua layanan utama, yakni penanganan insiden siber dan pemberian peringatan keamanan siber beserta layanan turunannya. Untuk pelaporan, dapat dilakukan melalui email, telepon, maupun WhatsApp yang terhubung langsung dengan CSIRT,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan internal, tambahnya, telah ditemukan sejumlah potensi celah keamanan maupun laporan insiden yang sedang dalam proses penanganan. Pihaknya bahkan memberikan apresiasi kepada pelapor yang berkontribusi dalam menemukan potensi kerentanan sistem.

Pemerintah Resmi Melarang, Jangan Manfaatkan Gajah untuk Tunggangan! 