Warta

Teknologi Digital dan Kesenjangan Sosial Picu Stres

catrawarta.com — Kesehatan mental di era modern penting dan perlu diperhatikan. Apalagi saat ini dipicu dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan dan kelelahan...

Prof Shazli Ezzat (kiri) ketika menjadi narasumber di UMBY. (Istimewa)

catrawarta.comKesehatan mental di era modern penting dan perlu diperhatikan. Apalagi saat ini dipicu dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan dan kelelahan berlebih (burnout) akibat laju perkembangan dunia yang begitu cepat.

“Tekanan pekerjaan, perkembangan teknologi digital yang berlebih serta kesenjangan sosial dan perbedaan budaya dapat memicu seseorang mengalami stres. Untuk itu kesehatan mental menjadi penting,” kata perwakilan Persatuan Psikologi Malaysia (PSIMA), Prof Dr Shazli Ezzat saat menjadi narasumber dalam kuliah umum dengan tema ‘Current Mental Health Issues In Southeast Asia: Integrating Science, Practice, and Global Challenges’ yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY)..

Shazli Ezzat menjelaskan, budaya Asia Tenggara memiliki modal sosial yang kuat untuk mengelola kesehatan mental. Peran keluarga, komunitas, serta nilai-nilai agama yang berlaku di masyarakat dinilai menjadi benteng pertahanan yang penting.

Pihaknya kemudian merangkum lima poin kunci, yakni kesehatan mental adalah hak semua orang. Kemudian, stres adalah bagian alami manusia, budaya tak terpisahkan dari keseharian. Di sisi lain, pentingnya pencegahan diri serta psikologi dalam membangun masyarakat yang kokoh, tak boleh diabaikan.

“Ilmu pengetahuan, praktik pencegahan dan penanganan serta kebijakan adalah kunci kesehatan mental berkelanjutan,” tegas Shazli Ezzat.

Sedangkan Dekan Fakultas Psikologi UMBY, Reny Yuniasanti MPsi PhD Psikolog mengatakan, kegiatan itu adalah wujud nyata komitmen fakultas dalam menghasilkan lulusan yang sadar dan bertanggung jawab terhadap isu kesehatan mental.

“Kami berkomitmen membekali mahasiswa dengan wawasan global. Kuliah umum dengan narasumber internasional ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menggali perspektif berbeda mengenai isu kesehatan mental secara global,” terang Reny.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *