Warta

Bonobo dan Mitos Dominasi Jantan

Di hutan Afrika Tengah, betina memimpin kelompok dan kekerasan nyaris tak terjadi. Sebuah cermin sunyi bagi peradaban manusia yang masih memuja kuasa...

Bonobo
Bonobo.

Di hutan Afrika Tengah, betina memimpin kelompok dan kekerasan nyaris tak terjadi. Sebuah cermin sunyi bagi peradaban manusia yang masih memuja kuasa maskulin.

catrawarta.comPagi itu, seekor bonobo jantan muda mencoba merebut buah dari tangan betina dewasa. Gerakannya agresif, seolah siap memicu perkelahian. Namun sebelum keributan pecah, dua betina lain merapat, berdiri bahu-membahu membentuk aliansi sunyi. Si jantan berhenti, lalu mundur. Tak ada pukulan. Tak ada teriakan. Konflik reda hanya dalam hitungan detik.

Di hutan tropis Republik Demokratik Kongo, kekuasaan tidak ditentukan oleh otot, melainkan oleh solidaritas. Dominasi jantan—yang lama kita anggap hukum alam—ternyata hanya mitos.

Bonobo adalah salah satu kerabat genetik terdekat manusia. Kesamaan DNA keduanya mencapai 98–99 persen. Secara biologis, jarak kita dengan mereka nyaris setipis garis rambut. Namun dari selisih tipis itulah lahir perbedaan sosial yang mencolok.

Jika banyak spesies primata mengandalkan hierarki keras dan adu kekuatan, bonobo justru membangun masyarakat yang relatif egaliter. Betina membentuk koalisi, saling berbagi makanan, merawat anak bersama, dan secara kolektif membatasi agresivitas jantan. Posisi sosial tidak semata ditentukan oleh tubuh paling besar, melainkan oleh jejaring relasi.

Primatolog Frans de Waal, yang meneliti perilaku kera besar selama puluhan tahun, menggambarkan bonobo sebagai primata paling kooperatif. Dalam banyak pengamatannya, konflik di antara mereka jarang berujung kekerasan. Ketegangan justru diredakan lewat sentuhan, afeksi, dan kedekatan sosial. “Hubungan sosial lebih penting daripada kekuatan fisik,” tulisnya dalam berbagai publikasi ilmiah.

Dengan kata lain, yang berkuasa adalah yang mampu merawat hubungan, bukan yang paling menakutkan.

Bandingkan dengan manusia.

Sejarah peradaban kita nyaris selalu ditulis oleh dominasi maskulin: perang, perebutan wilayah, perebutan tahta. Politik identik dengan adu kuasa. Kepemimpinan sering dimaknai sebagai kemampuan menundukkan lawan. Dari ruang rapat hingga medan tempur, agresi dianggap sifat alamiah.

Patriarki pun lama dibenarkan sebagai “kodrat biologis”—seolah-olah laki-laki memang ditakdirkan memimpin karena evolusi.

Namun bonobo menghadirkan bantahan yang sunyi.

Jika spesies dengan DNA hampir sama dapat membangun komunitas yang stabil di bawah koalisi betina, maka dominasi jantan jelas bukan satu-satunya jalan yang disediakan alam. Ia mungkin hanya konstruksi budaya yang kita wariskan turun-temurun.

Pada bonobo, jantan yang terlalu agresif justru tersisih. Tanpa dukungan sosial betina, mereka kehilangan akses pada makanan dan pasangan. Kekerasan menjadi strategi yang merugikan. Yang bertahan adalah empati dan kerja sama.

Primatolog Jane Goodall pernah menyebut kera besar sebagai cermin evolusi manusia. Dari mereka, kita bisa membaca bukan hanya masa lalu, tetapi juga kemungkinan masa depan: tentang bagaimana masyarakat dapat hidup dengan lebih sedikit ketakutan dan lebih banyak solidaritas.

Sayangnya, ironi tak terhindarkan.

Spesies yang mungkin paling damai itu justru berada di ambang kepunahan. Lembaga konservasi International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan bonobo dalam daftar terancam punah. Deforestasi, perburuan liar, dan konflik bersenjata terus menggerus habitat mereka. Hutan tempat mereka berbagi buah kini berubah menjadi tambang dan kebun industri.

Manusia—spesies yang gemar berperang—justru mengancam keberadaan primata yang hampir tak mengenal perang.

Kontras itu terasa getir.

Kita menyebut diri makhluk paling rasional. Kita membangun kota, teknologi, dan sistem hukum. Namun dalam urusan paling dasar—mengelola konflik tanpa kekerasan—barangkali kita masih tertinggal dari sepupu jauh di hutan Afrika.

Bonobo tak mengenal istilah kesetaraan gender, tak menulis konstitusi, tak menggelar seminar tentang kepemimpinan inklusif. Mereka sekadar hidup dengan satu prinsip sederhana: bertahan bersama lebih penting daripada menang sendiri.

Mungkin, selama ini kita keliru membaca alam. Bukan kekuatan yang membuat spesies bertahan, melainkan kemampuan bekerja sama.

Di bawah kanopi hutan yang lembap itu, mitos dominasi jantan runtuh pelan-pelan. Dan dari sana, sebuah pertanyaan mengendap: jika bonobo bisa membangun dunia yang lebih lunak dan setara, mengapa manusia tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *