catrawarta.com — Tanah bergerak yang menimpa Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, semakin mengerikan. Ratusan rumah mengalami rusak berat dan ringan. Akibatnya, ribuan warga di des aitu harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Sampai Rabu (11/2/2026) kondisi desa tersebut masih memprihatinkan.
Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari itu dimulai sejak seminggu lalu setelah hujan lebat mengguyur kawasan itu.
“Tanah bergerak seperti ada goncangan, apalagi saat hujan turun tiap hari. Sampai kini masih ada pergerakan tanah, meskipun sudah ringan ,” ujar Suhardi (50), warga setempat yang rumahnya rusak parah.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengatakan, pihak BPBD Kabupaten Tegal, bersama instansi terkait terus melakukan evakuasi dan penanganan darurat.
Jumlah warga terdampak peristiwa itu mencapai 500 Kepala Keluarga (KK) dan berpotensi bertambah, seiring pergerakan tanah yang masih terus terjadi.
BNPB mencatat, sebelumnya sebanyak 2.456 orang warga Desa Padasari, mengungsi ke lokasi yang lebih aman setelah permukiman mereka dilanda fenomena pergerakan tanah.
Kerugian
Bencana alam itu tidak hanya berdampak pada pemukiman mereka. Namun bangunan Pondok Pesanten (ponpes) Al- ‘Adalah yang juga berlokasi di desa itu ikut rusak dan sebanyak 526 santrinya diungsikan, karena gedung pesantrennya ambruk.
BPBD Provinsi Jawa Tengah dan BPBD Kabupaten Tegal, mencatat kerugian material terdampak dari pergerakan tanah itu antara lain 464 rumah warga rusak, diantaranya 50 rumah roboh, 7 unit fasilitas pendidikan, 1 fasilitas ibadah, 1 fasilitas kesehatan, 1 bendung irigasi, 1 jembatan desa, 3 titik jalan desa dan kabupaten serta kantor desa Padasari.
Pemkab Tegal, menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Tanah Bergerak Desa Padasari. Status tanggap darurat itu berlaku sejak tanggal 3-16 Februari 2026. Pemerintah setempat mencari lahan untuk lokasi hunian sementara warga terdampak, sembari menunggu rekomendasi teknis keamanan lahan dari Badan Geologi.
Analisis sementara dari BPBD menyebutkan, di daerah itu adalah cekungan. Sisi utaranya bukit yang memang kondisi vegetasinya sudah berkurang, sehingga air mengalami titik jenuh di atas permukiman. Akibat hujan intensitasnya tinggi, air itu mengakibatkan landslide atau longsor di dalam.

Ketika Pejabat “Asal Njeplak” 