catrawarta.com — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan spesies baru ikan gobi udang (shrimpgoby) di perairan Banyuwangi, Jawa Timur.
Spesies baru tersebut diberi nama Tomiyamichthys oriens sp. nov. Penetapan statusnya sebagai spesies baru dilakukan melalui serangkaian kajian morfologi dan analisis molekuler dengan pendekatan taksonomi integratif.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Kunto Wibowo, mengatakan penetapan spesies baru tidak hanya didasarkan pada satu metode penelitian.
“Kami mengombinasikan karakter morfologi dengan analisis DNA untuk memperoleh bukti yang lebih komprehensif. Hasilnya menunjukkan T. oriens memiliki karakter yang konsisten dan berbeda dari spesies terdekatnya sehingga layak ditetapkan sebagai spesies baru,” ujar Kunto, dikutip dari laman BRIN, Senin (27/7/2026).
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti BRIN yang terdiri atas Kunto Wibowo, Hilda M. Pratiwi, dan Anik B. Dharmayanthi dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, serta Agus Priyadi dan Ruby V. Kusumah dari Pusat Riset Zoologi Terapan.

Penelitian juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Djohan Tjiptadi dan Wiwi Tarmini dari CV Cahaya Baru.
Kajian diawali dengan pengamatan terhadap dua individu ikan hias laut gobi udang dari genus Tomiyamichthys yang dikoleksi dari perairan Banyuwangi. Kedua spesimen tersebut kemudian diidentifikasi dan dianalisis melalui pendekatan morfologi serta pemeriksaan penanda DNA mitokondria cytochrome c oxidase subunit I (COI).
Hasil penelitian menunjukkan Tomiyamichthys oriens memiliki kemiripan dengan Tomiyamichthys hyacinthinus yang berasal dari Jepang. Namun, pengamatan lebih mendalam menemukan sejumlah karakter pembeda di antara kedua spesies tersebut.
Perbedaan tersebut antara lain terlihat pada jumlah jari-jari sirip, jumlah sisik, jumlah jari-jari insang, serta pola warna tubuh. Perbedaan pada tingkat molekuler juga semakin menguatkan bahwa keduanya merupakan spesies yang berbeda.
Analisis DNA mitokondria menunjukkan adanya perbedaan genetik sebesar 3,1 persen dibandingkan dengan T. hyacinthinus.
Selain perbedaan genetik, T. oriens memiliki ciri khas berupa lima bercak jingga terang berukuran besar di sepanjang tubuh dan bercak kuning kecil pada bagian kepala. Pada ikan jantan, terdapat dua filamen memanjang pada sirip punggung pertama yang menjadi salah satu karakter pembeda dari spesies lain dalam genus yang sama.

Menurut Kunto, nama oriens diambil dari bahasa Latin yang berarti “timur” atau “matahari terbit”. Penamaan tersebut terinspirasi dari warna jingga cerah pada tubuh ikan sekaligus mengacu pada Banyuwangi yang dikenal dengan julukan The Sunrise of Java.
“Penamaan spesies ini juga menjadi bentuk pengakuan terhadap lokasi penemuannya. Kami berharap temuan ini dapat menjadi pemicu penelitian lanjutan untuk mengungkap kekayaan biodiversitas laut Indonesia yang masih sangat besar,” kata Kunto.
Sejauh ini, T. oriens baru diketahui hidup di perairan pesisir Banyuwangi dengan habitat dasar berpasir.
Berdasarkan informasi dari nelayan setempat, ikan tersebut ditemukan di perairan dangkal. Namun, hubungan ekologisnya dengan udang yang umumnya menjadi pasangan hidup kelompok ikan gobi udang masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Penemuan T. oriens menambah daftar spesies ikan yang telah dideskripsikan dari perairan Indonesia. Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa kawasan pesisir Nusantara masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang belum sepenuhnya teridentifikasi dan terdokumentasi.

