Warta

Mengenang 26 Juli Sebagai Hari Kelahiran Chairil Anwar

26 Juli bukan hanya sebatas Hari Puisi Indonesia. Ada pemikiran Chairil Anwar yang mulai hidup hingga saat ini.

Penyair legendaris pelopor sastra dan puisi modern chairil anwar
Penyair legendaris pelopor sastra dan puisi modern, Chairil Anwar. (dok. RRI)

catrawarta.com26 Juli selalu diperingati sebagai Hari Puisi Indonesia. Pada hari ini, bangsa Indonesia layak menjadikan momentum ini sebagai peringatan hari kelahiran sang penyair legendaris sekaligus pelopor puisi modern di Tanah Air, Chairil Anwar.

Chairil Anwar sendiri lahir di Medan, 26 Juli 1922 dari ayah berdarah Padang bernama Teoloes bin Haji Manan yang saat itu berprofesi sebagai Bupati Rengat dan ibu bernama Saleha.

Sayangnya, hidup Chairil Anwar cukup singkat. Dia meninggal dunia di Jakarta pada 28 April 1949 di usianya yang masih belia yakni 27 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta Selatan.

Meski belum genap kepala tiga, namun pemikiran Chairil Anwar justru begitu luar biasa. Dia justru berada dalam puncak kreativitasnya menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan dunia.

Dalam ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’ yang terbit tahun 1945 pun, dia mendeklarasikan diri sebagai ‘ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia’. Lewat interaksinya dengan ‘kebudayaan dunia’ secara intens inilah yang membawa Chairil Anwar menjadi sosok pemuda yang beratmosfer sastra modern.

Dia memperkenalkan napas dunia baru kala itu ke dalam puisi-puisinya sendiri. Chairil bahkan juga sempat menerjemahkan beberapa puisi dan prosa berbahasa Belanda, Inggris, hingga Jerman ke dalam frasa indah dan magis Bahasa Indonesia.

Pendidikan Chairil Anwar

Sebelum terjun di bidang sastra dan puisi, Chairil Anwar tercatat pernah bersekolah di Sekolah Dasar masa Belanda yakni Neutrale Hollands Inlandsche School (HIS) di Medan. Setelah itu, dia lantas melanjutkan pendidikannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang setara dengan SMP di Medan lalu meneruskan di Jakarta.

Di ibukota, Chairil Anwar kemudian memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikannya dan memilih untuk belajar otodidak. Dia mulai menekuni bahasa Inggris, Jerman, Belanda hingga akhirnya mampu membaca berbagai tulisan dalam bahasa asing ini, termasuk puisi dan prosanya.

Dia diketahui rajin membaca karya-karya penulis populer masa itu seperti Rainer Maria Rilke, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, hingga Edgar du Perron. Dari sana, dia lantas belajar menulis puisi dengan gaya miliknya sendiri.

Terjun ke Dunia Media & Sastra

Hingga pada tahun 1948, dia mulai bekerja sebagai redaktur di Majalah Gema Suasana. Karena alasan tidak puas, dia kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan pertamanya kala itu.

Lalu, dia berpindah ke Majalah Siasat dan memiliki jabatan sebagai pengasuh rubrik kebudayaan ‘Gelanggang’. Dalam beberapa catatan, dia terbersit sebenarnya ingin membuat majalah sendiri yang kental bernapaskan kebudayaan bernama ‘Arena’ atau ‘Air Pasang’. Namun hingga tutup usia, harapan ini belum juga sempat direalisasikan oleh sang penyair.

Di sela-sela hidupnya bersama keluarga dan bekerja, Chairil Anwar aktif di dunia sastra. Hanya dalam kurun waktu 6,5 tahun dari 1942-1949, dia berhasil menelurkan 71 buah sajak, 2 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa, dan 4 prosa terjemahan.

Selain itu, ada juga sajak-sajak Chairil Anwar yang terabadikan di sejumlah buku seperti Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949), serta Aku Ini Binatang Jalang (1986).

Puisi pertamanya yang terbit ialah berjudul ‘Nisan’ yang dia dedikasikan secara khusus untuk neneknya sendiri yang telah berpulang.

Di sisi lain, Chairil Anwar juga banyak melahirkan karya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Meski lahir dari situasi yang penuh gejolak, puisinya tidak hanya berbicara tentang semangat perjuangan, tetapi juga menghadirkan emosi yang bersifat universal.

Melalui karya seperti Aku dan Derai-Derai Cemara, ia mengangkat tema cinta, kehilangan, harapan, hingga pergulatan hidup, sehingga puisinya tetap relevan dinikmati lintas generasi.

Dengan gaya penulisan yang bebas, lugas, dan penuh ekspresi, Chairil Anwar membawa pembaruan dalam dunia sastra Indonesia. Pengaruhnya terasa kuat pada perkembangan puisi modern dan menginspirasi banyak penyair setelahnya.

Berkat kontribusinya tersebut, Chairil tidak hanya dikenang sebagai penyair Angkatan ’45, tetapi juga sebagai sosok yang meninggalkan warisan sastra yang terus hidup melalui karya-karyanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *