catrawarta.com — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo disorot urgensi dan sumber dana usai kedapatan menggunakan pesawat jet pribadi berjenis Cessna Model 700 Citation Longitude dengan berbiaya sewa sekitar Rp150 juta hingga Rp1 miliar rupiah di tengah gaung efisensi anggaran negara. Dia juga menjadi perhatian lantaran terkesan abai dan arogan ketika menolak salaman dengan petugas bandara yang berniat menjabat tangannya dalam sejumlah video di media sosial.
Belum lagi, salah satu dokumen resmi perjalanan dinas Dody yang bocor ke publik menunjukkan adanya nama sang istri dan anak sebagai bagian dari delegasi. Meski ditepis dan perjalanan dibatalkan, namun dokumen ini telah menjadi sorotan tersendiri.
Terlepas dari gaya hidup Dody yang dinilai berlebihan, ada salah satu sosok Menteri PU di catatan sejarah Kabinet Soekarno hingga Soeharto yang justru sebaliknya. Ya, siapa lagi jika bukan Ir. Sutami.
Sosok Ir. Sutami
Dia adalah Menteri PU dengan masa jabatan terlama di Indonesia yakni selama 14 tahun dari rentang tahun 1964 hingga 1978. Dia jebolan dari kampus Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung (ITB Angkatan 1950-1956.
Di balik wewenangnya mengelola anggaran proyek besar di sejumlah titik Tanah Air, dia justru dikenal sebagai pejabat paling sederhana, bersahaja, hingga miskin di kabinet. Hal ini lantaran Sutami memang diketahui memegang teguh prinsip untuk menjadi pejabat yang berintegritas dan antikorupsi.
Soal integritas, rasanya dia bisa menjadi teladan nomor satu. Bagaimana tidak, pernah suatu saat rumah dinas aktifnya yang berlokasi di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan mengalami kebocoran parah di bagian atap saat musim penghujan.
Alih-alih menggunakan anggaran negara atau memerintah anak buah untuk memperbaikinya, Sutami justru memilih ember sebagai solusinya. Dia tak segan menaruh ember sendiri di bawah atap yang bocor untuk menampung air. Setelah diselidiki, Sutami mengaku tak punya uang untuk membeli bahan bangunan.
Ada lagi cerita soal bukti integritasnya yang terasa tak tertandingi ini. Semasa masih menjabat di pemerintahan, dia secara tegas menolak pemberian fasilitas mewah. Padahal, bisa saja dia memilih fasilitas apa saja, pasalnya mungkin saja aturan negara yang memberi ‘hadiah’ untuknya.
Namun, Sutami justru sama sekali tak melirik kemewahan. Saat melakukan kunjungan kerja ke pelosok negeri untuk peninjauan proyek, dia cukup sering menolak dijemput dengan mobil mewah.
Dia berdalih lebih suka berjalan kaki atau sekadar menggunakan mobil dinas sederhana. Akibatnya, dia acapkali dinilai bukan seorang pejabat lantaran penampilannya yang mencerminkan kesederhanaan dan jauh dari kemewahan.

Masa Pensiun
Jelang masa pension, Sutami juga tercatat baru saja bisa membeli rumah di daerah Jatiwaringin, Jakarta Timur. Bukan rumah mewah senilai ratusan miliar rupiah dengan banyak fasilitas, dia justru memilih kediaman sederhana.
Bahkan, dia dinyatakan membeli rumah miliknya itu dengan cara dicicil. Rumahnya bahkan baru saja lunas tepat sebelum Sutami melepas jabatannya sebagai Menteri.
Di samping itu, ada cerita lain lagi soal ‘kemiskinan’ sang Menteri. Lantaran tak lagi punya uang setelah pension, Sutami pernah sekali terlambat membayar tagihan listri bulanan.
Buntutnya, rumah Sutami pernah gelap gulita dan tak mendapat akses listrik sama sekali. PLN sempat mencabut aliran listrik di kediamannya ini.
Padahal, bisa saja Sutami menelepon ‘orang dalam’ atau semacamnya untuk memberi keringanan sejenak. Atau membeberkan kontribusi besar dan prestasinya di hadapan PLN agar listrik rumahnya tak putus.
Toh, infrastruktur negara berbiaya besar juga pernah dia tangani dan saat itu menjadi tumpuan negara. Sutami memilih benar-benar melepas kemewahan yang bisa saja dia dapatkan meski telah turun jabatan.
Sederhana Hingga Akhir Hayat
Hingga akhir hayat, Menteri yang menangani sejumlah proyek seperti pendirian Gedung DPR/MPR di Senayan hingga Jembatan Ampera di Palembang ini tetap berdiri teguh dengan prinsip hidupnya yang sederhana.
Dia dilaporkan meninggal dunia pada 14 mei 1980 dalam usia 51 tahun setelah bertarung melawan penyakit liver. Mirisnya, Sutami diketahui tak memiliki cukup biaya untuk berobat ke rumah sakit.
Dia bahkan menolak berobat ke luar negeri saat Presiden Soeharto turun tangan membiayai seluruh perawatan medisnya. Sutami lebih memilih dirawat di dalam negeri hingga mengembuskan napas terakhirnya.

Ziarah Estetik Yoes Wibowo Memanggil Jiwa Nusantara 