catrawarta.com — Tanggal 17 Juli menjadi hari penting dalam sejarah Aceh dan Indonesia. Pada hari ini, 127 tahun lalu, tepatnya 17 Juli 1899, lahir salah satu tokoh besar perjuangan kemerdekaan Indonesia dari Aceh, Teuku Nyak Arief. Pahlawan nasional tersebut wafat pada 4 Mei 1946 dalam usia 46 tahun.
Teuku Nyak Arief dikenal sebagai Residen Aceh pertama pada periode 1945-1946. Jauh sebelum Indonesia merdeka, ia juga tercatat sebagai wakil pertama Aceh di Volksraad atau parlemen bentukan pemerintah Hindia Belanda.
Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Hasbullah, mengatakan peran Teuku Nyak Arief sangat besar dalam menjaga Aceh tetap berada di bawah pemerintahan Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
“Beliau juga yang menjamin keselamatan Sekutu hingga mengantarkan kembali wakil Sekutu di Medan melalui jalan darat dan menjumpai Jenderal T Kelly di sana,” kata Hasbullah kepada catrawarta.com, Jumat (17/7/2026).
Menurut Hasbullah, Teuku Nyak Arief menjadi tokoh penting saat menghadapi kedatangan perwakilan Sekutu di Kutaraja pada 15 Oktober 1945 hingga mereka kembali ke Medan pada 10 November 1945.
Jejak kepemimpinannya juga terlihat ketika ia membentuk pemerintahan Republik Indonesia yang definitif di Aceh pada 3 Oktober 1945. Bahkan sejak September 1945, Teuku Nyak Arief telah memutuskan bahwa Aceh tidak lagi berhubungan dengan pemerintahan Jepang.

Tak lama kemudian, pada 4 Oktober 1945, ia mengeluarkan maklumat pembentukan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Aceh yang berisi 10 poin penting, salah satunya menolak siaran Belanda yang menyebut Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta telah ditangkap.
“Teuku Nyak Arief juga yang mengeluarkan Maklumat 4 Oktober 1945, di mana Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh dengan 10 maklumat, yang salah satunya tidak mengakui siaran Belanda atas penangkapan Ir. Soekarno dan Hatta,” jelas Hasbullah.
Dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, Teuku Nyak Arief membentuk sebuah Badan Eksekutif yang dipimpinnya sendiri sebagai pembantu residen.
Di luar urusan pemerintahan, perhatian Teuku Nyak Arief terhadap pendidikan juga sangat besar. Bersama Mr. Teuku Muhammad Hasan, ia mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada 11 Juli 1937, mengikuti gagasan pendidikan yang diprakarsai Ki Hajar Dewantara.
Keduanya juga menjadi pelopor berdirinya Atjehsche Studiefonds atau Dana Pelajar Aceh yang bertujuan membantu anak-anak Aceh yang berprestasi agar dapat melanjutkan pendidikan.
Pada masa awal kemerdekaan, ketika tentara Jepang masih berada di Aceh dan pasukan Sekutu bersiap masuk, peran Teuku Nyak Arief dinilai sangat penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan Republik Indonesia di Aceh.
Namun situasi politik di Aceh kemudian berubah. Perpecahan di kalangan elite Aceh yang mengarah pada konflik internal membuat Teuku Nyak Arief mengajukan cuti setelah menjabat sekitar empat bulan sebagai residen.
Pada Desember 1945 pecah Perang Cumbok, yakni konflik antara kelompok uleebalang atau bangsawan dengan kelompok ulama yang dipimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Konflik tersebut berujung pada perebutan kekuasaan politik di Aceh.
Hasbullah mengatakan Teuku Nyak Arief sangat sedih melihat perpecahan tersebut. Padahal selama masa Hindia Belanda hingga pendudukan Jepang, ia berupaya mempersatukan berbagai kelompok masyarakat Aceh.
Dalam konflik tersebut, kelompok ulama yang didukung PUSA dan Pesindo berhasil menguasai Aceh. Banyak uleebalang terbunuh dan harta serta tanah mereka diambil alih.
Setelah mengajukan cuti sejak 14 Desember 1945, Teuku Nyak Arief akhirnya melepaskan jabatannya sebagai Residen Aceh dan digantikan oleh Teuku Muhammad Daud Syah. Meski demikian, fondasi pemerintahan Republik Indonesia yang telah diletakkannya tetap bertahan dan berjalan.
Tragedi hidup Teuku Nyak Arief berlanjut pada Januari 1946. Dalam kondisi sakit, ia ditangkap oleh Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) dan ditahan oleh laskar Mujahidin dan dibawa ke Takengon.
Teuku Nyak Arief meninggal dunia dalam tahanan pada 4 Mei 1946. Jenazahnya kemudian dibawa ke Kutaraja dan dimakamkan di pemakaman keluarga di tepi Sungai Lamnyong, Lamreung, Kabupaten Aceh Besar.
“Tragis beliau meninggal dalam tahanan bangsa sendiri,” ujar Hasbullah.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, jalan menuju lokasi makamnya kini diberi nama Jalan Makam Teuku Nyak Arief.

Prabowo Minta MBG Diprioritaskan untuk Warga Miskin dan Daerah Stunting Tinggi 