catrawarta.com — Para pemain esports berkumpul di GSP UGM Yogyakarta, Minggu (12/7/2026). Mereka memperebutkan posisi puncak jawara agar bisa berlaga di ajang internasional. Ada 12 tim yang sudah terjaring dari seluruh Indonesia. Menariknya, ada satu atlet yang masih berusia 13 tahun merupakan talenta berbakat esports.
Mereka bertanding dalam Grand Finals Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2026 Fall di GSP UGM. Gelaran tersebut bersamaan dengan puncak Pesta 9 Free Fire di Lapangan Pancasila sebagai peringatan ulang tahun ke-9 Free Fire.
Game Producer Garena Free Fire Indonesia, Christiandy Franciscus mengungkapkan kedua kegiatan terbuka dan gratis untuk komunitas pemain dan penggemar, serta masyarakat umum melalui konsep festival rakyat yang menghadirkan wahana, aktivitas komunitas, kuliner, musik, serta pengalaman unik bertema Free Fire.
Ia mengatakan, untuk pertama kalinya, Garena membawa Grand Finals FFNS ke Yogyakarta. Mereka tidak hanya mencari juara nasional, tetapi juga merayakan perjalanan para pemain, komunitas, dan talenta lokal yang membuat ekosistem esport terus hidup.
”Grand Finals FFNS 2026 Fall mempertemukan 12 tim terbaik dari berbagai daerah untuk memperebutkan gelar juara nasional serta tiket sebagai wakil kelima Indonesia menuju Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall,” papar Christiandy.
Yogyakarta Kota Keenam
Ia menambahkan, Grand Final di Yogyakarta melanjutkan komitmen Garena untuk membawa panggung esports Free Fire lebih dekat ke komunitas di berbagai daerah. Yogyakarta menjadi kota ke-6 yang menjadi tuan rumah turnamen nasional Free Fire setelah Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan Palembang.
Sebanyak 12 tim terbaik dari seluruh Indonesia yang berlaga merupakan gabungan dari 9 tim hasil babak Play-Ins dan tiga tim peraih podium FFNS 2026 Spring. Tim yang berlaga yakni XOXO Pride (Klaten), Strength GRT (Palu), Jiggle (Jambi), MBR Omega (Jakarta), Kagendra (Depok), Borneo Hilang Arah (Banjarbaru), Gokil Jo Noh (Manado), Elang Esport (Bangka), Petigade (Garut), Shadow Esports (Jakarta), Dewa United Horus (Jakarta), dan Pandora Esports (Makassar).
Final di Kota Budaya membawa cerita lokal dengan kehadiran Muhammad Ahnaf Ramadhan Kurnia, talenta esports Free Fire asal Yogyakarta. Ia yang masih berusia 13 tahun memperkuat tim Borneo Hilang Arah.
Perjalanan Ahnaf menuju Grand Finals FFNS 2026 Fall menunjukkan bahwa pemain lokal dari Yogyakarta juga bisa mendapatkan tempat di panggung esports nasional dan bersaing bersama tim-tim terbaik Indonesia. Ia menjadi talenta yang dipersiapkan ke pentas dunia esports.
Kehadirannya di Grand Finals menegaskan bahwa FFNS menjadi ruang bagi pemain dari berbagai daerah untuk berkembang, berkompetisi, dan membangun jalan mereka di ekosistem esports Free Fire. Mereka bisa berkembang seiring dengan perkembangan akademik.

Mengintip Senyum Kompak Lima Pimpinan Lembaga Negara di Harkopnas 