Warta

Dulu Sebut MBG Teror, Kini Rocky Gerung Berbalik

Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung berbalik arah kini dukung MBG. Padahal, dulu paling keras menantang dan menyebut MBG jadi teror nasional.

Man with glasses in a blue polo speaks into a handheld microphone at a police event with officers and officials in the background
Rocky Gerung bicara di tengah monitoring SPPG Polri (dok. Instagram @divisihumaspolri)

catrawarta.comPengamat politik sekaligus akademisi Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung secara mengejutkan berbalik arah. Setelah sebelumnya pada Oktober 2025 lalu memberikan kritikan pedas terhadap proyek ambisius Presiden Prabowo Subianto soal Makan Siang Bergizi Gratis (MBG), kini dia justru memberi sambutan hangat.

Padahal, jelang akhir tahun 2025 lalu, Rocky paling keras dan vokal soal penolakan terhadap program MBG. Rocky mengkritik keras program MBG dan menilainya berpotensi menjadi racun jika pengawasannya buruk, alih-alih melahirkan generasi emas.

Pada April 2026 lalu, ia juga sempat melontarkan penolakan dengan menyebut program MBG lebih membebani anggaran (APBN) dan meminta agar program tersebut dihentikan karena dinilai tidak tepat sasaran

Melalui salah satu video dalam kanal YouTube miliknya, Rocky Gerung Official, dia menguliti habis perbedaan antara tujuan dan implementasinya di lapangan yang bermasalah. Dia menilai, hak dasar anak untuk mendapat gizi secara layak justru diabaikan begitu saja, seolah program hanya berjalan di permukaan saja.

“Jadi ini yang kita mau bayangkan bahwa sikap etis di dalam penyelenggaraan makan siang bergizi ini, tidak memperhatikan hak dasar dari para murid ini untuk memperoleh gizi yang sempurna, memperoleh masa depan,” tegasnya dalam pernyataannya di dalam Youtube Rocky Gerung Official, dikutip Rabu (8/7).

Lebih lanjut, Rocky juga bahkan sempat menyatakan jika MBG justru bisa menjadi teror dan ancaman bagi anak di waktu makan siang. Hal ini diungkapnya sebagai buntut maraknya keracunan masal yang berasal dari MBG beberapa waktu lalu. Kala itu, dia bahkan mendesak Pemerintah untuk melakukan evaluasi total.

“Kita mulai melihat betapa cemas murid-murid itu begitu masuk sekolah menjelang jam makan, orang tuanya cemas di rumah, muridnya juga cemas, gurunya juga cemas,” tandasnya.

Menyusuri Jalan Logika Pada Dialektika Hegelian

Namun dalam hitungan bulan, pandangan alumni Universitas Indonesia berdarah Manado ini berubah 180 derajat. Dia bergabung dengan kubu pro MBG dan bahkan di barisan terdepan bersama Polri memberikan pendampingan terhadap monitoring SPPG.

Dalam pernyataannya bersama Polri, dia bahkan mengapresiasi upaya SPPG Polri dalam memastikan makanan bergizi yang aman dan berkualitas bagi anak-anak Indonesia.

Lebih jauh, Rocky Gerung berpendapat jika anak-anak yang berpikir kritis tidak hanya lahir dari kualitas pendidikan, namun juga bermula dari kualitas pangan yang bakal masuk ke dalam pencernaan sehat.

“Niat baik Bapak Presiden Prabowo untuk menghasilkan generasi yang berpikir bisa dimulai dengan keamanan di dapur-dapur SPPG, itu intinya,” tegasnya, demikian dikutip dari pernyataannya dalam salah satu video akun Instagram @divisihumaspolri.

Dukungan Rocky Gerung yang berbalik arah itu nyatanya bisa diamati melalui teori dialektika Hegelian yang memisahkan antara konsep dan implementasi. Di sini, Rocky menilai jika pelaksanaan MBG memiliki kemajuan berpikir yang dicapai melalui konflik gagasan.

Dulu, Rocky melihat MBG sebagai teror semata karena dianggap mampu memberikan ancaman terhadap stabilitas keuangan/anggaran, kesehatan, dan pendidikan sebagai akibat dari tata kelola yang buruk.

Lalu, hal ini berubah menjadi konsep dan tindakan yang menciptakan evaluasi masif sekaligus perbaikan standar keamanan pangan. Pada akhirnya, hasil dari kritikan tajam dari Rocky Gerung serta masyarakat di Tanah Air ini berhasil mendorong tata kelola yang lebih baik. Kini, dia bahkan menilai jika MBG sejalan dengan amanat UUD 1945.

“Kenapa dibela? Lah, (itu sesuai) amanat konstitusi bilang begitu (ya) dibela. Itu kan buat keadilan sosial. Berarti membela pemerintah? Enggak, saya mau melihat kepada konstitusi,” jelas Rocky dalam YouTube PDI Perjuangan Kota Surabaya, dikutip Rabu (8/7).

Menariknya, Rocky mengaku tetap enggan berada di dalam kubu pro rezim Pemerintah Prabowo-Gibran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *