catrawarta.com — Tepat setengah abad yang lalu, bangsa Indonesia harap-harap cemas sekaligus lega membusungkan dada. 8 Juli 1976 menandai pencapaian luar biasa bagi bangsa Indonesia di bidang antariksa.
Kala itu, Satelit Palapa pertama alias Palapa A1 resmi meluncur pukul 19:31 waktu Amerika Serikat. Peluncuran ini tercatat menggunakan roket Delta 2914 milik NASA di Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Satelit pertama dari 2 satelit ini memiliki tipe HS-333 dengan massa 574 kg.
Keberhasilan Indonesia dalam peluncuran ini resmi mengantarkan Indonesia menjadi negara ketiga pertama di dunia yang menjalankan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD). Sehingga, kala itu Indonesia hampir setara dengan Amerika Serikat dan Kanada.
Tekad Soeharto Menyatukan Sabang-Merauke
Kemunculan Satelit Palapa ini tak lain berasal dari prakarsa Presiden Soeharto. Terinspirasi dari Sumpah Palapa yang diikrarkan Mahapatih Gajah Mada di era Kerajaan Majapahit tahun 1336 M untuk menyatukan nusantara, Soeharto juga turut memiliki tekad serupa.
Hal ini diawali dengan rasa gelisah Soeharto yang melihat kenyataan di lapangan bahwa masyarakat Indonesia yang memiliki geografis berupa negara kepulauan itu cenderung kesulitan di bidang komunikasi. Padahal, komunikasi yang baik antar pulau bisa mempercepat informasi, koordinasi pemerintah, hingga menurunkan ketimpangan sosial hingga ekonomi. Sehingga, dia lantas berupaya untuk menemukan solusi yang tepat demi mempercepat pembangunan di Indonesia usai Orde Lama.
Melalui perhitungan yang matang, Pemerintah setelah membangun SKSD tahun 1974 ini lantas kian memberanikan diri. Hal ini terwujud dengan pemilihan Mayjen TNI Soehardjono, Ir. Sutanggar Tengker Yahya, hingga Direktur Utama PN Telekomunikasi Indonesia yang bertanggung jawab langsung terhadap proyek ambisius Soeharto ini.
Lantaran tak memiliki biaya yang cukup serta minimnya penguasaan teknologi satelit, Indonesia lantas memilih untuk menempuh jalur kerjasama.
Soeharto menunjuk Hughes Aircraft Company dari Amerika Serikat untuk membantu tahap perancangan hingga melakukan produksi satelit. Dengan tangan dingin para insiyur, proyek ini rampung hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun.
Palapa Terus Berkembang
Hingga pada tanggal 8 Juli zona waktu Amerika Serikat, Satelit Palapa A1 resmi diluncurkan dan berhasil mengudara. Soeharto dilaporkan menyaksikan langsung bersama Menteri Sekretaris Negara Soedharmo, Menteri Perhubungan Emil Salim, hingga beberapa pejabat lainnya di Stasiun Pengendali Utama (SPU) Cibinong, Bogor.
Beberapa jam kemudian, kontak pertama antara satelit dan stasiun di bumi pun berhasil dilakukan. Bangsa Indonesia kala itu resmi punya satelit berteknologi canggih yang membantu bidang telekomunikasi.
Hingga saat ini, Palapa masih terus mengalami inovasi dan perkembangan guna mengadaptasi teknologi mutakhir. Terakhir, Palapa telah memasuki versi D yang diproduksi oleh Thales Alenia Space, Prancis yang mencakup seluruh wilayah Indonesia dan sebagian besar Asia.

