catrawarta.com — Banyak orang menganggap usia lanjut identik dengan sakit-sakitan dan bergantung pada orang lain. Padahal, menurut dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri, dr. Ika Fitriana, SpPD-KGer, yang paling menentukan kualitas hidup seseorang di masa tua bukanlah usia, melainkan kemampuan untuk tetap mandiri.
“Kemandirian adalah salah satu kunci healthy aging. Umur boleh tua, tetapi mandiri tetap harus diupayakan,” kata Ika kepada Catrawarta.com, Selasa (7/7/2026)
Ia menjelaskan, konsep Integrated Care for Older People (ICOPE) yang dikembangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya menjaga kapasitas intrinsik, yakni kemampuan fisik dan mental, serta kemampuan fungsional agar lansia tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Menurut Ika, persoalan ini menjadi semakin penting karena Indonesia telah memasuki era ageing population, yaitu ketika jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat.
Saat ini rasio ketergantungan lansia mencapai sekitar 11 persen, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif menopang sekitar 11 orang lansia. Dalam dua dekade mendatang, angka tersebut diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya populasi lansia dan melambatnya pertumbuhan usia produktif.
“Artinya, kemandirian menjadi titik penting bagi kesejahteraan lansia di masa depan,” ujarnya.
Lansia Paling Takut Merepotkan Anak
Menurut Ika, ketakutan terbesar sebagian besar lansia bukanlah kematian atau penyakit, melainkan menjadi beban bagi keluarga.
Lansia yang kehilangan kemandirian akan semakin bergantung kepada anak maupun lingkungan sekitarnya. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai masalah baru, mulai dari perasaan tidak berdaya, depresi, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
“Ketidakmandirian membuat lansia mudah merasa tidak berguna. Karena aktivitas berkurang, mereka menjadi kesepian, kurang bergerak, lebih mudah sakit, dan akhirnya kondisinya semakin memburuk. Ini menjadi semacam lingkaran yang terus berulang,” jelasnya.
Kemandirian, lanjut Ika, tidak hanya berarti mampu mandi, berpakaian, atau berjalan sendiri, tetapi juga mampu menjalankan fungsi sosial seperti bepergian, berkomunikasi, hingga menggunakan teknologi sesuai kemampuannya.
Ia menambahkan, salah satu indikator penting yang perlu dikenali adalah frailty atau sindrom kerentaan.
“Semakin renta seseorang, semakin besar risiko kehilangan kemandirian. Tetapi kabar baiknya, kemandirian bisa dipupuk sejak usia muda,” katanya.
Menurutnya, tidak sedikit lansia berusia 70 tahun yang masih aktif bepergian, mengikuti komunitas, bahkan tetap produktif. Sebaliknya, ada pula yang pada usia sama sudah bergantung sepenuhnya kepada keluarga.
“Perbedaannya bukan pada umur, melainkan pada kapasitas fisik dan mental yang berhasil dipertahankan sepanjang hidup,” ujarnya.
Keluarga Jangan Membatasi Lansia
Ika menilai keluarga memiliki peran besar dalam menjaga kualitas hidup lansia. Terlebih, sebagian besar keluarga Indonesia kini merupakan sandwich generation, yakni generasi produktif yang harus merawat anak sekaligus orang tua.
Namun, niat baik keluarga terkadang justru membuat lansia kehilangan kesempatan untuk tetap mandiri.
“Terlalu banyak melarang atau terlalu banyak membantu juga tidak selalu baik. Bantu seperlunya, jangan mengambil alih semua hal yang masih bisa dilakukan orang tua,” katanya.
Ia mengingatkan agar keluarga tetap menghormati pendapat lansia, melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, serta menjaga komunikasi yang baik sehingga mereka tetap merasa dihargai.
“Lansia bukan hanya membutuhkan dukungan fisik, tetapi juga kebutuhan mental, emosional, sosial, spiritual, dan finansial,” ujarnya.

Bergerak Setiap Hari Jadi Investasi Masa Tua
Menurut Ika, satu kebiasaan sederhana yang paling berpengaruh untuk menjaga kemandirian di usia lanjut adalah tetap aktif bergerak setiap hari.
“Bergerak merupakan prinsip sederhana yang terbukti memperpanjang umur sekaligus mempertahankan kemandirian,” katanya.
Aktivitas fisik membantu menjaga fungsi otak, kesehatan jantung, paru-paru, sistem pencernaan, serta kekuatan otot dan tulang yang menjadi penopang utama seseorang tetap mandiri.
Ia mengingatkan, bila seseorang mulai berjalan lebih lambat, cepat lelah, tubuh membungkuk, atau kesulitan bangun dari kursi, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan gerak yang perlu segera dievaluasi.
Selain aktif bergerak, masyarakat juga dianjurkan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, maupun penyakit kronis lainnya sebelum menimbulkan komplikasi yang dapat mengurangi kemandirian di usia tua.
Investasi Sejak Usia 40 Tahun
Ika menekankan bahwa masa tua yang sehat tidak datang begitu saja, melainkan hasil investasi sejak usia produktif.
“Kondisi seseorang pada usia 70 tahun sebagian besar merupakan hasil keputusan yang diambil ketika berusia 40 hingga 50 tahun,” katanya.
Ia menyarankan masyarakat mulai berinvestasi pada kesehatan otot melalui olahraga dan asupan protein yang cukup, mengendalikan penyakit kronis sedini mungkin, menjaga kesehatan otak dengan tidur cukup dan terus belajar, membangun hubungan sosial yang baik, serta mempersiapkan kondisi finansial untuk masa pensiun.
“Persiapan menuju masa tua bukan sesuatu yang menyedihkan. Justru itu adalah bentuk tanggung jawab kepada diri sendiri dan kasih sayang kepada anak-anak kita agar kelak mereka mendampingi kita dengan bahagia, bukan karena merasa terbebani,” ujar Ika.

Ronaldo Menangis, Spanyol Kandangkan Portugal 