Warta

Di Balik Doktrin Perisai Trisula Nusantara yang Dikeluarkan Panglima TNI

Doktrin Perisai Trisula Nusantara menjadi pedoman strategis baru TNI. Kenali alasan pembaruannya.

Panglima tni agus subiyanto melepas keberangkatan 744 personel satgas tni kontingen garuda unifil ke lebanon
Panglima TNI Agus Subiyanto melepas keberangkatan 744 personel satgas TNI Kontingen Garuda UNIFIL ke Lebanon. (Instagram @91agussubiyanto)

catrawarta.comMarkas Komando Kodiklat TNI di Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (2/7) lalu mendadak dipenuhi oleh jajaran petinggi TNI. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang didampingi Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi R rupanya baru saja mengesahkan Doktrin Perisai Trisula Nusantara sekaligus memimpin Uji Naskah III.

Doktrin baru ini dinilai Panglima TNI perlu dilakukan sebagai bentuk adaptasi baru terhadap iklim geopolitik di dunia, termasuk Indo-Pasifik. Indonesia kini kian berani mengambil langkah strategis.

“Saya mengucapkan terimas kasih kepada Dankodilat dan tim penyusun yang sudah memaparkan hasil dan rumusan Doktrin Perisai Trisula Nusantara. Perkembangan peperangan yang saat ini terjadi di berbagai negara menunjukkan perubahan yang sangat signifikan sehingga perlu menjadi perhatian kita bersama,” tegas Panglima TNI, dikutip dari laman resmi TNI, Minggu (5/7).

Pendekatan yang lebih terkini turut mengakomodasi berbagai cara yang diterapkan oleh sejumlah negara berkonflik untuk mempertahankan kedaulatan. Sebut saja Perang Rusia-Ukraina yang kini mengandalkan satelit, drone, peperangan elektronik, hingga AI. Atau konflik di Timur Tengah yang mengutamakan sistem pertahanan udara berlapis dan serangan presisi.

Bahkan konflik di Laut China Selatan yang melibatkan langsung beberapa unsur seperti ekonomi, diplomasi, operasi informasi, teknologi, dan siber.

Singkatnya, peperangan modern di masa kini jelas menggunakan metode efisien dan efektif untuk mencapai tujuan. Setidaknya, Panglima TNI mengidentifikasi jika konflik modern kini ditandai dengan penggunakan rudal jarak jauh, drone swarm, kamikaze, perang digital, hingga perang elektronik. Sehingga, cara berperang TNI selama beberapa dekade ini yang mengadopsi metode konvensional dan cenderung pada agresi militer langsung dan defensif memang dinilai sudah tak relevan.

“Saya berpendapat bahwa memang sudah saatnya kita mengubah doktrin untuk menghadapi peperangan masa kini,” imbuhnya.

Konsep Doktrin Perisai Trisula Nusantara

Doktrin baru berjuluk Perisai Trisula Nusantara jelas merupakan jawaban efektif dan strategis agar militer di Tanah Air tak ketinggalan dalam mengikuti eskalasi peperangan di masa kini. Konsep ini pun menempatkan integrasi tiga matra sebagai pondasi.

Perisai tersebut terbagi dalam tiga matra kekuatan, yakni Perisai Samudera Nusantara, Perisai Darat Nusantara, dan Perisai Dirga Nusantara. TNI nantinya bakal membuka ruang integrasi dengan beberapa hal seperti intelijen, antariksa, siber, hingga operasi informasi.

Perisai Trisula Nusantara pun dinilai memiliki kelebihan karena menggunakan karakteristik geografis Indonesia sebagai tolak ukur dan dasar. Selain Indonesia, rasanya tidak ada negara yang harus melakukan metode defensif demi melindungi sekaligus mempertahankan kedaulatan dari 17 ribu pulau, tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), hingga jalur perdagangan internasional yang menyangkut banyak negara.

Meski baru saja diresmikan, Perisai Trisula Nusantara tentu harus diimplementasikan dengan sempurna. Tanpa integrasi pemimpin di berbagai sektor, mustahil doktrin mampu menjadi cita-cita yang bisa diterapkan. Karena sekali lagi, doktrin hanyalah panduan berpikir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *