catrawarta.com — Dulu, pernikahan menjadi salah satu hal yang paling diagung-agungkan dan bahkan menjadi impian sakral bagi generasi muda. Sebut saja Generasi Boomers atau bahkan Milenial sekalipun. Mereka tak enggan mencari pasangan yang tepat untuk melangkah ke jenjang pelaminan dan menghadapi biduk rumah tangga bersama.
Namun sekarang, pernikahan di kalangan Generasi Z bukan lagi dipandang demikian. Ada kecenderungan bagi sebagian besar kalangan Gen Z untuk tak lagi mengutamakan pernikahan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan di Tanah Air bahkan dilaporkan terus mengalami penurunan sejak tahun 2013 lalu. Lebih dari 2 juta pasangan di tahun 2018 menjadi hanya di bawah 1 juta pernikahan pada tahun 2025.
Penurunan angka pernikahan itu terlihat pada kelompok penduduk berumur 16-30 tahun. Pada akhir 2025 lalu, ada 71,04 penduduk berusia 16-30 tahun yang berstatus belum menikah.
Selain regulasi soal batas usia kawin yang tertuang pada UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, nyatanya Gen Z justru lebih memilih fokus ke bidang pendidikan dan stabilitas karier. Alih-alih bersiap menemukan pasangan dan menjalani rumah tangga, mereka menilai jika menunda pernikahan dapat memberikan waktu yang lebih banyak untuk pengembangan diri, sebagaimana hasil survey yang dilakukan pada 2023 terhadap 200 responden dalam buku ‘Faktor yang Memengaruhi Fenomena Menunda Pernikahan Pada Generazi Z: Indonesian Health Issue’ karya Herliana Riska dan Nur Khasanah.
Di sisi lain, istilah ‘Marriage is Scary’ turut menjadi topik hangat di kalangan Gen Z bahkan viral di media sosial. Istilah ini digunakan ketika para pemilik konten menyampaikan soal kekhawatiran atau ketakutan mereka pada pernikahan.
Di beberapa cerita yang beredar dan mendapat tanggapan dari Gen Z ini, pasangan yang telah menikah mengungkap banyak hal mengejutkan hingga menakutkan dari rumah tangga. Di antaranya meliputi seperti isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), anak terlantar, perselingkuhan, hingga istri yang menjadi tulang punggung keluarga.
Buntutnya, pernikahan justru menjadi momok bagi Gen Z. Masifnya konten di media sosial yang memuat tren ‘Marriage is Scary’ rasanya menjadi faktor enggannya generasi muda masa kini untuk mendekati konsep pernikahan. Konten-konten demikian menjadi tren, namun juga menanamkan faktor pemicu trauma dan kepercayaan pada hubungan yang sehat.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib,mengungkap, fenomena ‘Marriage is Scary’ yang menjadi tren ini tak lain juga dipicu oleh pengaruh kebudayaan global yang mengutamakan perihal kebebasan. Generasi muda seolah-olah menganggap jika pernikahan nantinya bakal merenggut kebebasan mutlak mereka di masa depan.
“Fenomena itu juga tidak lepas dari pengaruh kebudayaan glbal yang cenderung memilih kebebasan,” tegas Adib, demikian dikutip dari laman Kemenag RI, Sabtu (4/7).
Sehingga, gaya hidup modern berkiblat pada budaya global yang kini perlahan dipilih Gen Z itu cenderung lebih menekankan pada kebebasan individu, perilaku konsumtif, hingga pengembangan diri. Hal ini lantas menggeser prioritas dari pernikahan ke hal-hal yang meningkatkan kesehatan mental seperti hobi, perjalanan, hingga karir yang baik.
Peneliti sekaligus dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Risda Rizkillah, SSi, MSi dalam laman resmi IPB turut menanggapi fenomena tren ‘Marriage is Scary’.
Pihaknya menekankan agar generasi masa kini hendaknya melihat pernikahan sebagai simbol tujuan hidup yang diinginkan, bukan hal menakutkaan. Lebih lanjut, Pemerintah perlu segera andil dalam menyediakan kesejahteraan dan hidup yang layak bagi masyarakat di masa mendatang.
“Dari sisi ekonomi, kesulitan finansial, tingginya biaya hidup, serta ketidakstabilan pekerjaan membuat banyak orang menunda menikah. Padahal, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga menjadi salah satu prasyarat penting dalam membangun rumah tangga,” tandasnya.

Kemendagri Periksa Bupati Purwakarta 8 Jam 