catrawarta.com — Satu tim besar Eropa akhirnya kandas di putaran kedua atau fase gugur. Tim yang disebut-sebut sebagai salah yang terkuat di Eropa, Belanda, harus angkat kaki dari Piala Dunia FIFA World Cup 2026. Mereka menangis setelah kalah dalam drama adu penalti melawam tim tidak diunggulkan, Maroko.
Dalam banyak komentar, Maroko merupakan tim kuda hitam yang bisa memberi kejutan. Kali ini yang terkejut Belanda, negara tempat legenda sepak bola Marco van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard. Ketika sempat menjadi idola seluruh dunia pada era 1980an hingga 1990an.
Belanda menjadi tim yang diunggulkan pada pertandingan Selasa (30/6/2026) pagi di Stadion Monterrey, Meksiko. Di atas kertas, tim Oranye memang lebih unggul. Namun demikian, dalam sepak bola tidak ada yang pasti, semua bisa terjadi. Tim kecil hampir pasti kalah oleh tim besar tetapi tim besar pun dapat keok menghadapi tim kecil.
Itulah sepak bola, segala sesuatu bisa terjadi apalagi pada putaran kedua atau fase gugur. Masing-masing tim pasti ngotot menang agar bisa melaju ke putaran berikutnya dan bisa-bisa meraih juara. Ketenangan, keterampilan, mental, kecerdikan di lapangan sangat menentukan.
Kali ini, tim sebesar Belanda terpaksa menyerah melawan Maroko dengan hasil 2-3. Penalti menjadi penentu karena keduanya bermain imbang hingga babak kedua usai. Pemain Maroko Ismael Saibari merupakan penentu kemenangan atas Belanda setelah berhasil memasukkan bola ke gawang Belanda.
Kemenangan Penalti
Media daring reuters.com menuliskan dalam laporannya, Ismael Saibari sukses mengeksekusi penalti penentu kemenangan setelah Yassine Bounou menepis tendangan penalti Crysencio Summerville. Keberhasilan ini membawa Maroko lolos usai laga dramatis.
Neil El Aynaoui dari Maroko dan pemain pengganti Belanda, Justin Kluivert, gagal mencetak gol sebelum Bart Verbruggen tampak menyelamatkan upaya Soufiane Rahimi. Namun bola lolos di bawahnya dan bergulir melewati garis gawang.
Quinten Timber kemudian menendang bola melebar dengan tendangan keempat tim Belanda, Achraf Hakimi membentur tiang gawang dengan kesempatan untuk memastikan kemenangan sebelum Saibari tetap tenang dan membawa Maroko lolos. Adu penalti mengakhiri pertandingan menegangkan di Monterrey.
Saat kedudukan adu penalti imbang 2-2 setelah empat putaran, kiper Maroko Yassine Bounou melakukan penyelamatan gemilang terhadap eksekusi Crysencio Summerville dengan menepis bola menggunakan tangan kirinya.
Saibari kemudian memastikan kemenangan dengan mengarahkan bola ke sudut kiri bawah, sementara kiper Bart Verbruggen bergerak ke arah yang berlawanan.
Kemenangan Maroko merupakan kedua kalinya dalam sejarah menaklukkan kekuatan besar UEFA lewat adu penalti di Piala Dunia dengan mengalahkan Belanda 3-2. Langkah mereka mengulangi keberhasilan tak terduga saat menyingkirkan Spanyol di Qatar dengan cara serupa pada Piala Dunia 2022.

Vonis 10 Tahun dan Uang Pengganti Rp 809 Miliar untuk Nadiem Makarim 