catrawarta.com — Kasus dugaan perselingkuhan yang menyeret nama Bupati Gowa Husniah Talenrang dengan mantan konsultan politiknya berinisial BK terus menjadi perhatian publik. Polemik tersebut kini turut memicu bergulirnya pembahasan Hak Angket di DPRD Gowa.
Di tengah proses tersebut, sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat mendesak agar Bupati Gowa mengundurkan diri. Mereka beralasan, seorang pemimpin yang dinilai melakukan pelanggaran moral telah mencederai marwah Kabupaten Gowa yang berlandaskan falsafah Siri’ na Pacce.
Menanggapi pembahasan Hak Angket, Husniah Talenrang menilai DPRD telah memasuki ranah kehidupan pribadinya, bukan lagi membahas kebijakan maupun penyelenggaraan pemerintahan daerah.
“Namun non-kebijakan saya rasa itu sudah melanggar aturan dan tentunya saya merasa terusik dengan apa yang dilakukan DPRD yang terlalu jauh masuk ke ranah pribadi karena itu sifatnya non-kebijakan,” kata Husniah, Jumat (26/6/2026).
Budaya Siri’ Na Pacce
Kabupaten Gowa merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang menjunjung tinggi falsafah Siri’ na Pacce, yakni nilai siri’ (harga diri atau rasa malu) dan pacce/pesse (empati serta solidaritas). Filosofi ini menjadi landasan moral masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja dalam menjaga kehormatan serta hubungan sosial.
Sejarawan asal Mandar, Sulawesi Selatan, Ridwan Alimuddin, menjelaskan bahwa budaya Siri’ berkaitan erat dengan penjagaan moral seseorang.
“Itu budaya berkaitan malu atau menjaga moral. Tapi ada beberapa tingkatan. Kalau kejadian di Gowa itu merupakan pelanggaran siri’ yang cukup besar. Menjadi pesse atau pacce sebab ikut membuat malu orang-orang Makassar, dalam artian malu secara komunal,” ujar Ridwan, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Ridwan, pada dasarnya pelanggaran terhadap nilai siri’ dapat diselesaikan melalui pranata atau lembaga adat. Namun apabila persoalan menyangkut seorang kepala daerah yang memegang jabatan politik, penyelesaiannya tidak lagi berada pada skala komunitas adat semata.
“Karena menyangkut jabatan politik, maka penyelesaiannya melibatkan lembaga-lembaga negara,” katanya.
Jaga Kehormatan dan Solidaritas
Penulis buku Siri’ (Kearifan Budaya Sulawesi Selatan), Hamid Abdullah, menjelaskan bahwa Siri’ na Pacce merupakan falsafah hidup paling fundamental bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Menurut Hamid, falsafah tersebut berfungsi sebagai panduan etika, kontrol sosial, sekaligus kompas moral dalam menjaga harkat dan martabat manusia.
“Nilai siri‘ dimaknai sebagai harga diri dan rasa malu secara moral ketika seseorang melakukan perbuatan tercela. Dalam budaya Sulawesi Selatan, setiap individu berkewajiban menjaga kehormatan diri dan keluarganya,” sebutnya.
Sementara pacce atau pesse mengandung makna empati, solidaritas, kepekaan sosial, serta kepedulian mendalam terhadap penderitaan sesama. Keduanya saling menyeimbangi. Pacce tidak akan muncul bila tidak dimulaui dengan siri’.

