catrawarta.com — Cuaca yang tidak bersahabat menjadi tantangan tersendiri bagi Tim Basarnas, BPBD Pemalang, TNI, Polri dan berbagai organisasi pecinta alam yang melakukan pencarian Syafiq Ridhan Ali. Pemuda berusia 18 tahun tersebut mendaki dan tersesat hingga 17 hari.
Tim berkekuatan puluhan orang, akhirnya menemukan kondisi Syafiq di dasar jurang curam dengan tingkat kesulitan tinggi. Korban kemungkinan terpeleset dan jatuh. Kabut tebal dan hujan deras menjadikan pandangan terbatas sehingga risiko kecelakaan cukup tinggi.
Tak ketinggalan wara sekitar juga ikut membantu melakukan pencarian. Mereka bahu-membahu menyusuri lokasi yang diduga menjadi jalur pendakian Syafiq dan temannya, Himawan Choidar Bahran.
Keduanya mendaki Gunung Slamet dengan perlengkapan terbatas karena terus ingin langsung pulang usai sampai puncak. Namun dalam perjalanan pulang cuaca buruk, Himawan mengalami cedera. Syafiq berusaha mencari bantuan tetapi kemungkinan malah tersesat.
Pencarian Besar-besaran
Kepala BPBD Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin mengungkapkan tim menemukan korban berada dekat Pos 7. Ini merupakan pos tertinggi untuk menuju puncak Gunung Slamet. Kondisinya berkabut, hujan, angin kencang.
Tim SAR gabung melakukan operasi pencarian selama beberapa hari. Mereka harus sangat hati-hati karena cuaca yang tidak menentu. Tim terbagi dalam beberapa kelompok untuk menyisir di pos-pos yang menjadi persinggahan korban.
”Pencarian kami lakukan terus-menerus tentu dengan melihat kondisi alam dan cuaca. Alhamdulillah akhirnya korban dapat kami temukan. Ini kerja keras dan kerja sama banyak pihak, dari tim gabungan dan lainnya,” papat Agus.
Perlu Persiapan Matang
Mendaki gunung memang menyenangkan. Bahkan beberapa waktu terakhir ini menjadi tren. Banyak yang ingin cepat sampai puncak, foto, mengambil rekaman video dan kembali pulang. Hal itu tentu sangat melelahkan apalagi bagi pemula.
Aktivis komunitas pecinta alam Wanadri, Dedi Setiadi dalam satu kesempatan pernah menyampaikan untuk mendaki gunung perlu persiapan panjang dan matang. Tidak asal mendaki. Ia melihat saat ini banyak pemula yang buru-buru melakukan pendakian tanpa persiapan.
Menurutnya persiapan fisik dan kondisi gunung tujuan mutlak bagi pendaki. Mereka harus menempa diri melalui latihan fisik, olah raga dan riset terlebih dulu. Tak bisa karena hanya ingin kemudian langsung berangkat.
Para pendaki yang sudah berpengalaman pun melakukannya. Mereka harus mempelajari berbagai hal terutama cuaca dan kondisi gunung. Setiap gunung memiliki karakter, berbeda satu dan lainnya.

Otoritarianisme Menguat, Lembaga Negara Independen Berguguran 