Pena Catra

Hijrah Menuju Transformasi Sistemik

catrawarta.com — Pada momen penting tertentu biasanya kita mengadakan refleksi sebagai upaya pemaknaan atas momentum yang diperingati. Hijrah, dengan demikian, tak hanya...

Illustration of a large crowd walking together at dusk many wearing dark tops and patterned sarongs with a wall and trees in the background
Ilustrasi Tradisi Mubeng Beteng di Yogyakarta. (Sumber: catrawarta)

catrawarta.comPada momen penting tertentu biasanya kita mengadakan refleksi sebagai upaya pemaknaan atas momentum yang diperingati. Hijrah, dengan demikian, tak hanya peringatan atau perayaan arifisial semata, tetapi menjadi titik tolak transformasi kehidupan.

Dengan menempatkan kehidupan petani sebagai model, Kuntowijoyo dalam Muslim Tanpa Masjid antara lain menguraikan beberapa fase dinamika sejarah umat Islam. Musim tanam terjadi pada periode 1945-1950 saat para tokoh muslim berhasil memperjuangkan partisipasi umat dalam kehidupan politik.

Ekspektasi mengalami musim panen pasca 1950 berakhir kekecewaan. Umat Islam justru dipinggirkan dari panggung politik melalui depolitisasi dan deideologisasi, sampai periode akhir Orde Baru saat berdiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1990.

Idiom “ijo royo-royo” sempat ramai diperbincangkan sampai tumbangnya rezim Orde Baru dan awal reformasi 1998. Umat Islam mengalami euforia yang ditandai merebaknya partai politik yang membawa simbil Islam. Namun, pada fase berikutnya, umat Islam kembali harus menelan kekecewaan. Tak jera dengan politisasi Islam, para tokoh tiada henti memobilisasi umat.

Idealisasi Islam sebagai rahmatan lil alamin menjauh seiring akutnya korupsi dan distribusi kekuasaan simbolik. Kini, umat Islam seperti kehilangan pedoman sekaligus tercerai-berai dalam beberapa kelompok.

Catatan menarik atas fenomena itu diberikan penulis novel Khotbah di Atas Bukit ini:

“Apabila umat masih menganggap politik sebagai satu-satunya ‘obat yang cespleng’ dan lupa melihat kekuatan sejarah yang lain mereka akan kecewa dan mengecewakan…Sudah waktunya umat Islam melihat alternatif lain. Agama sendiri adalah kekuatan sejarah…” (MTM: 69-70)

Bukan hal mudah untuk memformulasikan Islam sebagai kekuatan sejarah. Hampir semua tokoh dan ulama lebih memilih bergenit ria dengan penguasa. Keras dan nyaring membela, dengan janji politik, kepentingan umat tapi mendadak lidahnya kelu saat duduk di kursi kekuasaan. Bukan lagi kepentingan umat, yang kemudian hanya dijadikan kendaraan dan back up, mereka justru vokal membela kekuasaan bahkan menjilat demi kedudukan politiknya.

Jangankan komunikasi yang produktif untuk menjembatani umat dan pejabat, kualitas jawaban dan pernyataan mereka saat menjawab permasalahan jauh dari nalar dan logika kenegaraan. Asal ceplos, tanpa landasan moral agama dan intelektual, lalu menyerahkan semua pada dukungan buzzer yang siaga membela apapun kata penguasa. Tak pernah dialektik panggung politik kebangsaan dan kenegaraan kita menjadi sedemikian rendah.

Maka menjawab pertanyaan Kuntowijoyo di atas, dengan memanfaatkan makna hijrah, transformasi harus dilakukan secara sistemik. Pertama, umat perlu memberi pelajaran pada ulama dan elite politik dengan tidak mendukung mereka jika terjun ke dunia politik.

Kedua, kalangan cendekiawan muslim perlu duduk bersama, secara intens, untuk merumuskan agenda kerja umat ke depan tanpa harus melibatkan penguasa. Ketiga, bangkitkan kekuatan ekonomi umat yang terbukti mampu bertahan saat negara menghadapi krisis.

Upaya mobilisasi dana umat, sentralisasi ibadah kurban, dan kongkalingkong dana haji, tidak saja terlalu pragmatis tetapi juga mencoreng wajah Islam secara keseluruhan. Biarkan umat secara mandiri mengelola dananya untuk kepentingan mereka sendiri, toh itu juga bukti nyata keterlibatan mereka dalam pembangunan.

Dalam beberapa hal, langkah Muhammadiyah dalam menggerakkan potensi umat, patut dicatat dan diapresiasi. Memobilisasi dana umat sejak level terbawah persyarikatan (ranting) sampai negosiasi global hingga mampu mengumpulkan aset 400-an triliun, menjelaskan betapa krusial kemandirian ekonomi umat.

Kini, kita tak bisa lagi menyerahkan semua urusan kepada umat. Konstelasi geopolitik ekonomi global tak boleh dipandang sebelah mata. Tokoh umat, cendekiawan muslim dan pelaku usaha kalangan muslim saatnya memimpin hijrah dari pendekatan politik ke sistemik. Hidup itu multidimensi, terlalu riskan jika hanya dikelola dengan pendekatan politik. Jika dulu kita hanya merasakan kekecewaan, bisa jadi kini yang kita hadapi adalah kehancuran.

Ksatrian Sendaren, 16 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *