catrawarta.com — Data Bappenas menunjukkan sampah sisa makanan mencapai 1,1–1,4 juta ton per tahun, dan sebagian besar masih layak konsumsi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menyumbang ribuan ton setiap hari karena banyak makanan yang tersisa dari penerima.
Belum lagi sampah lain dari masyarakat yang organik mau nonorganik. Sebagian besar atau separuh dari sampah yang ada di Indonesia merupakan sampah organik. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan teknologi pengolahan sampah, termasuk melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Kementerian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi tentu berperan sebagai penggerak ekosistem riset nasional melalui tiga fokus utama, yaitu perbaikan tata kelola, transformasi sosial, dan pengembangan teknologi.
”Kemdiktisaintek memiliki tiga peran utama, yaitu perbaikan tata kelola, transformasi sosial, dan teknologi itu sendiri,” ujar Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr Mohammad Fauzan Adziman dalam rilis yang disampaikan Humas UGM.
Ia menyampaikan itu dalam Dialog Indonesia Punya Kamu yang bertajuk ”Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional” yang diselenggarakan oleh UGM dan Garuda TV di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (12/6/2026).
Masih Dapat Diolah
Fauzan menjelaskan sekitar 50 persen sampah merupakan sampah organik yang masih dapat diolah sedangkan 25 persen lainnya berpotensi didaur ulang. Sampah residu yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi pembangkit listrik.
Ia menyatakan, peluangnya besar tetapi pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya pada skala industri. Pemerintah berusaha terus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, lembaga riset, dan mitra internasional guna mempercepat hilirisasi hasil penelitian mengenai pengolahan sampah.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat. Pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga menjadi langkah paling mendasar untuk memastikan proses pengolahan dapat berjalan secara optimal.
Kampus, tegasnya, harus terlibat melalui program pemberdayaan masyarakat dan pengabdian yang melibatkan mahasiswa secara langsung. Penyadaran pada masyarakat terus dilakukan agar tertib memilah sampah.

