Catra Budaya

Pardiman Djoyonegoro, Ketika Cinta Lahirkan Wirama

catrawarta.com — Suatu kesempatan budayawan Yogyakarta, Bambang Wisnu Handoyo, mengungkap transformasi budaya Jawa. Tiga hal, asma (nama), basa (bahasa), dan busana (pakaian)...

Ketekunan pardiman mengajari murid asingnya bermain gamelan dok Catra
Ketekunan Pardiman mengajari murid asingnya bermain gamelan (Dok. Catra)

catrawarta.comSuatu kesempatan budayawan Yogyakarta, Bambang Wisnu Handoyo, mengungkap transformasi budaya Jawa. Tiga hal, asma (nama), basa (bahasa), dan busana (pakaian) menjauh dari kehidupan manusia Jawa. Ada satu yang masih bertahan, wirama, sebentuk tempo atau ritme berbasis keselarasan dan harmoni yang menjadi kunci kebahagiaan.

Satu diantara tokoh yang tekun menjaga wirama, dalam segala kesahajaan, adalah Pardiman Djoyonegoro. Nun jauh di pedalaman Karangjati, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul DIY, suara gamelan mengalun jauh terbawa angin. Di padepokan itu, sosok kelahiran 7 Agustus 1968 itu bak sedang memerankan diri sebagai seorang maecenas. Dulu, era Romawi Kuno, Gaius Cilnius Maecenas adalah tokoh sejarah pelindung para penyair dan seniman. Para cantrik berdatangan untuk ngangsu kawruh, belajar dan meneguk beragam ilmu kehidupan.

Ya, bagi orang Jawa hidup itu sesuatu yang utuh, integral dan saling mengisi. Dalam rumah yang didesain menjadi pawiyatan, tempat perguruan, Pardiman mengajarkan olah budaya. Melalui seperangkat gamelan, dia membimbing anak-anak memainkan gamelan. Lebih dari sekedar soal kecerdasan musikal atau psikomotorik, anak-anak dari berbagai daerah dan latar belakang itu dibimbing mengolah rasa, kepekaan mengidentifikasi bebunyian, dan menyeimbangkannya dengan bunyi yang dikeluarkan partner hingga melahirkan harmoni.

Semua indera, saat seperti itu, harus dalam kondisi on, menyala dan hidup. Lambat merespon akan melahirkan suara sumbang. Salah memukul, misal terlalu lembut atau terlalu keras, pun akan melahirkan kegaduhan yang mengganggu harmoni irama. Tak harus tegang, tapi mengalir sambil meresapi makna yang terkandung dalam sebuah tembang. Pardiman, dengan tekun dan sabar, tengah merawat akar, menjaga ruh budaya, dan mencoba mengisi ruang kehidupan dengan sesuatu yang asali.

Bangsa ini dibangun di atas pilar suku-suku bangsa. Dan di dalamnya, seni memainkan peran yang amat sentral. Ia mendasari watak dan karakter manusia yang menjadikannya jati diri atau kepribadian. Akar budaya bangsa ini sedang dalam masalah besar. Orientasi bangsa ini sedang keluar, pintu yang mestinya dijaga dan ditutup rapat, dibiarkan terbuka lebar nyaris tanpa pengawalan dan perlawanan.

Dalam konteks itu, kita apresiasi langkah pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang menggerakkan program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Program yang berbasis tiga ajaran leluhur, yakni hamemmayu hayuning bawana, sangkan paraning dumadi, dan manunggaling kasula gusti, hendak diajarkan melalui serangkaian pembelajaran di sekolah. Permasalahannya, mampukah guru membumikan ajaran leluhur itu agar tak hanya tekstual tetapi juga kontekstual dan membumi?

Tunas budaya bangsa tekun berlatih tiap jumat dan minggu di omah cangkem dok Catra
Tunas budaya bangsa tekun berlatih tiap Jumat dan Minggu di Omah Cangkem (Dok. Catra)

Pardiman, pendiri Acapella Mataraman dan inisiator Sragam ABG atau Srawung Gamelan Ayo Bermain Gamelan, tidak saja menyediakan ruang dan padepokan Omah Cangkem untuk, secara mandiri dan swadaya, dijadikan semacam laboratorium kebudayaan. Melalui Sragam ABG Pardiman tekun dan telaten mendidik anak-anak untuk mencintai kebudayaan khususnya gamelan dan tarian. Sesekali dia sendiri menjadi event organizer sekedar pertanggung jawaban publik atas kerja budayanya.

“Ragad déwé mas ini taun ke 4. The power nyéléngi. Metode OCM diserap wong Singapura, Tiongkok, China, Thailand. Pun kulo wénéhké sing gelem, dengan program Sanja Budaya”.

Menghabiskan waktu untuk menemani anak-anak, atas biaya sendiri, dengan metode dan pendekatan yang diinisiasi sendiri, lalu itu dia dermakan kepada orang dan bangsa lain tanpa berhitung untung rugi. Ini laku budaya yang sungguh mengagumkan. Pardiman tengah memberi teladan bagaimana hidup sebagai orang Jawa. Jalan keutamaan yang dia pilih bisa jadi tak mudah untuk ditiru dan diikuti orang lain di Yogyakarta sekalipun sebagai daerah istimewa yang kuat karakter budayanya.

Pardiman, yang alumni SMKI dan ISI, bisa jadi tengah mempraktikkan falsafah Ki Hajar Dewantara terkait pengajaran, yakni wiraga (olahraga), wirasa (olah rasa) dan wirama (olah irama). Melalui metode dan pendekatan yang dia ajarkan, dia sedang membekali anak-anak terkait moral dan karakternya sehingga mereka bisa tumbuh maksimal sesuai kodrat dan bakat yang dititipkan Tuhan pada mereka. Pardiman, adalah manusia Jawa seutuhnya.

Ksatrian Sendaren, 13 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *