catrawarta.com — Kampung Budaya Polowijen di Kota Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya lokal. Berlokasi di RT 03 RW 02, Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, kampung ini tidak hanya menyimpan kekayaan seni Topeng Malangan, tetapi juga jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan masa Kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari.
Nama Polowijen disebut berasal dari Panawidyan atau Panawijen yang tercatat dalam Prasasti Wurandungan Kanjuruhan. Dalam prasasti tersebut tertulis penetapan Wanua Panawidiyan sebagai desa perdikan (sima) pada Rabu Wage, 10 paro terang (Suklapaksa) bulan Palguna tahun Saka 865.
Jika dikonversi ke kalender Masehi, peristiwa itu terjadi pada 7 November 944 Masehi atau sekitar 1.079 tahun lalu.
Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang, menjelaskan bahwa pada masa awal Kerajaan Singhasari, Panawidyan yang kemudian berkembang menjadi Panawijen dan kini dikenal sebagai Polowijen diyakini sebagai tempat tinggal masa kecil Ken Dedes.
“Ken Dedes diasuh oleh Empu Purwo saat tinggal di Polowijen,” kata Isa Wahyudi akrab disapa Ki Demang, Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, Kamis (11/6/2026).

Jejak keberadaan Ken Dedes masih dikaitkan dengan Situs Sumur Windu yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Situs Ken Dedes. Di kawasan tersebut terdapat Mandala Kadewaguruan, yakni lembaga pendidikan keagamaan dan spiritual bercorak Hindu-Buddha.
“Kalau sekarang mungkin seperti pesantren. Selain tempat pendidikan, di kawasan itu juga terdapat pasar, tempat ibadah, sistem pertanian, serta tradisi upacara dan hajatan yang sudah berlangsung sejak masa lampau,” ujarnya.
Tak jauh dari lokasi tersebut terdapat Situs Joko Lolo. Dalam cerita rakyat setempat, Joko Lolo disebut menaruh hati kepada Ken Dedes. Untuk mempersuntingnya, ia diminta membuat Sumur Windu dalam semalam. Namun karena gagal menyelesaikannya, Joko Lolo marah dan membanting seperangkat gamelan.
Kisah itu kemudian dikaitkan dengan temuan Watu Kenong, yakni batu berbentuk kenong yang diduga merupakan sisa alat musik yang dirusak.
Polowijen juga menyimpan sejumlah situs penting lainnya, seperti makam Buyut Jibris dan Buyut Suro yang diyakini sebagai pendiri pesantren pertama di wilayah Malang. Keduanya disebut hidup sezaman dengan Ki Ageng Gribig.
Selain itu, terdapat sosok penting dalam sejarah seni tradisi Malang, yakni Mbah Reni atau Ki Tjondro Suwono. Seniman yang mendapat gelar Ki Ageng Sunggung Linuwih dari Bupati Malang keempat itu dikenal sebagai maestro Topeng Malang.
Sebelum wafat pada 1935, ia menciptakan sekitar 60 karakter topeng yang hingga kini menjadi bagian penting dari kesenian Topeng Malangan.
Karena itu, Kampung Budaya Polowijen kini identik dengan pelestarian Topeng Malangan beserta seni tari yang menyertainya. Warga setempat terus menjaga dan mengembangkan kesenian tersebut melalui berbagai kegiatan budaya.
Kampung Budaya Polowijen sendiri dibangun secara swadaya oleh warga RT 03 RW 02. Sebanyak 15 rumah warga difungsikan sebagai ruang aktivitas budaya dengan tambahan gazebo sebagai sarana pendukung.
Menurut Ki Demang, pembangunan infrastruktur kampung budaya membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Kampung Budaya Polowijen kemudian diresmikan pada 2 April 2017 oleh Wali Kota Malang saat itu, Mochamad Anton atau Moh Anton, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kota Malang.

Dalam pengelolaannya, Kampung Budaya Polowijen memiliki beberapa kelompok organisasi. Salah satunya adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang berada di bawah pembinaan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Malang. Selain itu terdapat Kelompok Kriya Batik Polowijen yang dibina oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang.
Untuk mendukung perekonomian warga, kampung budaya ini mengembangkan berbagai produk kreatif, mulai dari batik khas Polowijen dan kerajinan topeng hingga kuliner tradisional seperti sego berkat, tumpeng, dawet, dan aneka wedang.
Berbagai kegiatan juga rutin digelar, mulai dari program Sinau Budaya, workshop, festival budaya, hingga pertunjukan seni.
Kampung Budaya Polowijen juga mempertahankan sejumlah tradisi yang menjadi kearifan lokal masyarakat, antara lain Megengan dan Nyadran, Kupatan Riyayan, Grebeg Suro, Muludan, Sesekaran Topeng Malang, Arak-arakan Topeng Malang, Jamasan Topeng Malang, ruwatan, budaya tandur, wiwit dan metik, serta Kembulan Topeng Malang.
Keberadaan kampung budaya ini telah menarik perhatian masyarakat luas. Selain menjadi destinasi wisata edukasi, Polowijen juga kerap menjadi lokasi penelitian dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Meski demikian, Ki Demang menilai pengelolaan wisata budaya masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait keberlanjutan partisipasi warga dan dukungan pemerintah daerah.
“Kampung Budaya Polowijen akan terus hidup jika semakin banyak pengunjung yang datang. Sampai sekarang pemerintah daerah masih setengah hati dalam mendukung kampung budaya,” ujarnya.

