catrawarta.com — Tulisan Jawi atau Arab Melayu yang mulai digunakan sejak abad ke-14 menjadi salah satu sistem aksara penting dalam perkembangan peradaban Melayu di Nusantara.
Tulisan ini menggunakan huruf Arab dengan sejumlah penyesuaian fonetik untuk menuliskan bahasa Melayu. Kehadirannya menjadi alat utama dalam penyebaran ilmu pengetahuan, agama, hukum, hingga budaya di dunia Melayu.
Pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, seperti Kesultanan Aceh, Demak, Johor, dan sejumlah kesultanan Melayu lainnya, tulisan Jawi digunakan secara luas dalam administrasi pemerintahan, pendidikan, serta penyebaran agama Islam.
Kitab-kitab keislaman berbahasa Melayu ditulis menggunakan huruf Jawi dan dijadikan bahan ajar di pesantren maupun madrasah tradisional. Surat resmi kerajaan hingga perjanjian dagang juga banyak ditulis menggunakan aksara tersebut.
Peminat budaya dan sastra Aceh, Teuku Abdullah Sulaiman atau dikenal sebagai Teuku Abdullah Sakti (T.A Sakti), mengatakan melalui tulisan Arab Melayu itulah para pengarang di Aceh dan Asia Tenggara selama berabad-abad menghasilkan ribuan karya yang kini dikenal sebagai manuskrip Arab Melayu.
Menurutnya, bahasa Melayu Aceh memiliki peran penting dalam tradisi penggunaan tulisan Arab Melayu. Para ulama Aceh juga menggunakan tulisan tersebut secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka.
“Ada kemungkinan ulama di Aceh memprakarsai tulisan Arab Melayu ini,” kata T.A Sakti, Rabu (10/6/2026).

Ia berpendapat huruf Arab Melayu pertama kali ditulis di Aceh. Hingga kini, salah satu tulisan Jawi tertua yang pernah ditemukan adalah surat Sultan Aceh kepada Raja Inggris. Menurutnya, aksara Jawi memiliki jasa besar dalam mempersatukan berbagai suku bangsa di kepulauan Nusantara yang kini menjadi Indonesia.
“Kita bangsa Indonesia pernah memakai berbagai macam aksara sejak zaman purbakala. Salah satu yang pernah digunakan di Nusantara adalah huruf Arab Melayu atau aksara Jawi,” ujarnya.
T.A Sakti menambahkan, para ulama dan cendekiawan pada masa itu menggunakan tulisan Jawi dalam menulis kitab dan buku untuk menyebarkan ilmu pengetahuan.
“Bisa disimpulkan bahwa pada masa itu kemampuan baca tulis berkembang cukup luas melalui penggunaan aksara Jawi,” terangnya.
Namun, setelah Indonesia merdeka, perhatian terhadap pembelajaran Arab Melayu dinilai tidak berlangsung lama. Huruf Arab Melayu sempat diajarkan di sekolah dasar, tetapi mulai dihapus dari kurikulum sekitar tahun 1960-an.

Dikutip dari laman Disparbudpora Bengkalis, pengaruh tulisan Jawi terhadap bahasa Indonesia dapat dilihat dari banyaknya kosakata serapan bahasa Arab yang masuk melalui bahasa Melayu klasik yang ditulis dalam Jawi.
Kata-kata seperti akhlak, iman, zakat, dan ilmu menjadi bukti kuat perpaduan tradisi Islam dengan bahasa lokal yang berkembang melalui tulisan Jawi. Selain itu, struktur kalimat dan gaya bahasa dalam teks Melayu klasik beraksara Jawi juga memengaruhi perkembangan sastra dan bahasa Indonesia, terutama dalam ranah keagamaan dan kesusastraan.
Melalui karya seperti Hikayat Hang Tuah dan Taj al-Salatin, masyarakat Melayu mengenal tradisi tulis yang berkembang luas menggunakan aksara Jawi. Sejumlah pegiat budaya kini terus berupaya menyelamatkan manuskrip Arab Melayu agar tidak hilang dimakan usia.
Salah satunya dilakukan T.A Sakti dengan menerjemahkan manuskrip berhuruf Jawi ke aksara Latin dan bahasa Indonesia. Sejak 1992 hingga 2009, ia telah merampungkan penerjemahan 32 judul hikayat, tambeh, dan nadam Aceh dari huruf Arab Melayu ke aksara Latin.

