catrawarta.com — Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni 2026 mengambil tema Inspired by Nature. For Climate. For Our Future. Sebuah kampanye yang hendak mengajak dan membangunkan kesadaran umat manusia bahwa kondisi sudah amat kritis. Tiga masalah yang mengancam kehidupan ada di depan mata: perubahan iklim, terganggunya kenekaragaman hayati, dan parahnya polusi.
Indonesia termasuk negara yang mengalami ketiga masalah tersebut. Bencana ekologis makin sering terjadi akibat kelengahan dan kelemahan kita dalam menjaga hutan. Masih belum hilang dari ingatan bagaimana alam Sumatera luluh lantak dihantam bencana banjir. Kita pernah bangga dengan peran hutan tropis Indonesia yang dianggap sebagai paru-paru dunia. Berada di garis khatulistiwa menjadikan alam kita tidak saja subur tetapi juga memiliki keanekaragaman hayati yang langka.
Namun, di balik hiruk pikuk panggung politik, ada fenomena yang menyesakkan dada. Pulau-pulau kaya dengan hutan lebat berubah menjadi padang belantara tanpa menyisakan pepohonan. Gundul dan rawan banjir atau tanah longsor. Eksploitasi tambang pun seolah tak tersentuh negara. Kerusakan alam hampir merata di semua pulau, entah akibat aktivitas penambangan, pembukaan lahan, pembangunan jalan tol, atau pemekaran kota.
Permasalahan sampah seperti lingkaran setan yang sulit untuk diurai dan diselesaikan. Semua hanya mampu memproduksi sampah tanpa memikirkan cara membuang dan mengelolanya. Tempat pembuangan sampah tak mampu lagi menampung ledakan sampah terutama pada saat musim libur. Bukannya tak ada upaya untuk mengatasinya, tetapi pendekatan yang dilakukan belum terpadu dan menyasar ke jantung permasalahan.
Alam diciptakan Tuhan memang agar dikelola dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tetapi mengeksploitasi alam dengan penuh ambisi dan nafsu, tidak saja melahirkan kerusakan sistemik tetapi juga menyebabkan terganggunya keseimbangan alam. Eksploitasi alam di Sumatera dan Papua, sekedar contoh, juga berdampak pada terpinggirkannya kehidupan suku-suku bangsa yang beratus tahun menjaga harmoninya. Melalui kearifan lokal mereka menjaga alam berbasis tradisi.
Kampanye pelestarian alam dan perubahan iklim tetap dibutuhkan. Tetapi tanpa keberpihakan dan keteladanan pemerintah dalam menegakkan hukum lingkungan, jelas tak akan banyak manfaatnya. Lembaga pendidikan perlu merevolusi kurikulumnya agar memberi ruang yang lebih luas bagi siswa untuk membumi, mengakrabi masalah-masalah lingkungan sekitar. Investasi harus dibatasi apalagi yang mengeskploitasi alam. Seiring dengan itu, keluarga harus didorong agar memainkan peranannya dalam mengendalikan sampah dan menjaga kelestarian pepohonan.
Menjaga alam, yang telah memberikan segalanya untuk hidup manusia, harus menjadi gerakan massal di semua level masyarakat. Organisasi kemasyarakatan perlu didorong agar mampu menjadi pionir dalam menjaga kelestarian alam di wilayahnya tanpa harus dikomando. Prinsip hamemayu hayuning bawana, falsafah hidup masyarakat Jawa, perlu dielaborasi dan diangkat ke tingkat nasional agar warga negara tergerakkan untuk mencintai bumi.
Mari ajak anak-anak kita sejak belia untuk menerapkan laku utama. Pelihara tanaman, hemat air dan listrik, rawat ekosistem dan jadikan itu bagian penting dalam penanaman karakter. Dengan begitu, kita masih bisa bernafas lebih panjang dan sehat.
Ksatrian Sendaren, 5 Juni 2026

Gara-gara Sampah, Kampung Naga Ditutup 