Warta

Waisak Jatuh 31 Mei, Biksu Ritual di Borobudur

catrawarta.com — Rombongan biksu yang berjalan kaki dari Thailand sudah memasuki kawasan Borobudur yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Selanjutnya mereka...

Buddhist monks in orange robes sit in prayer on a platform with large stone stupas in the background
RITUAL: Para biksu Budha menjalani ritual dalam rangka Waisak di Candi Borobudur.(Sumber: instagram jktinfo)

catrawarta.comRombongan biksu yang berjalan kaki dari Thailand sudah memasuki kawasan Borobudur yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Selanjutnya mereka akan mengunjungi dan berdoa di Candi Mendut kemudian menuju puncak Candi Borobudur pada peringatan Waisak yang jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026.

Para biksu sebanyak 57 orang tergabung dalam Indonesia Walk for Peace 2026. Mereka berjalan kaki dari kota ke kota membawa pesan perdamaian dan toleransi. Di Yogyakarta, rombongan diterima Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kantor Gubernur Kompleks Kepatihan.

Mereka berasal dari Thailand, Kamboja, Laos, dan Malaysia. Selama perjalanan, masyarakat menyambut penuh suka cita. Termasuk ketika melintasi Jalan Malioboro Yogyakarta. Banyak yang ingin berfoto Bersama para biksu yang telah menempuh ribuan kilometer.

Merek dipimpin Biksu Phanarin Anando yang baru berusia 31 tahun. Ada pula biksu yang tertua yakni berusia 67 tahun yang masih tampak semangat mengikuti jalan kaki. Peserta termuda berusia 23 tahun dari Thailand.

Masa Depan Harmonis

Ketua Panitia IWFP 2026 DIY, Tandean Harry Setio Ketika berada di Kompleks Kepatihan mengungkapkan , pentingnya momentum tersebut bagi citra wilayah Yogyakarta di mata internasional.

”Bagi saya pribadi, Indonesia Walk for Peace bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah simbolisasi langkah maju, menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat, melalui penyebaran energi positif dan harmoni antarumat beragama,” tegas Sultan dikutip dari laman jogjaprov.go.id.

Sultan yang prihatin atas kejadian intolerensi di Bantul mengingatkan masyarakat luas mengenai hakikat penciptaan manusia yang beragam demi mempererat persaudaraan. Ia menekankan, Tuhan menciptakan yang berbeda-beda, beda kulit, beda ras. Keberagaman suku, agama, dan budaya merupakan kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan.

Ia menandaskan, esensi perjalanan para biksu lintas negara ini bukan sekadar pembuktian ketahanan fisik di jalanan, melainkan manifesto kemanusiaan yang kuat.

Menjaga Perdamaian Dunia

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menyambut Waisak mengeluarkan surat edaran. Ia menyatakan umat Budha akan menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E. yang jatuh pada 31 Mei 2026. Tema Waisak kali ini ”Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”.

Surat edaran tentang Vesākha Sānanda 2570 Buddhist Era pada intinya mendorong penguatan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Buddhadharma dalam kehidupan umat. Selain itu, meningkatkan partisipasi aktif membangun kerukunan, kepedulian sosial, dan keharmonisan.

”Melalui rangkaian kegiatan ini, kami berharap umat Budha tidak hanya merayakan Waisak secara seremonial, tetapi juga mampu menginternalisasikan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari serta berkontribusi dalam menjaga perdamaian dan kerukunan,” papar Supriyadi seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Rangkaian kegiatan Vesākha Sānanda 2570 B.E. berlangsung selama satu bulan, dari 1 – 31 Mei 2026. Berbagai kegiatan di sejumlah daerah mewarnai peringatan Waisak kali ini hingga puncaknya di Candi Borobudur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *