Catra Budaya, Warta

AI dan Masa Depan Pelestarian Budaya Indonesia

Putrajaya, Malaysia — Di persimpangan Budaya dan Teknologi catrawarta.com — Pada akhir Desember 2025, ketika dunia semakin cepat bergerak menuju era digital,...

Nukila Evanty attends Budaya Verse, held on Dec. 26–28, 2025, in Putrajaya, Malaysia. (Source: Special)

Putrajaya, Malaysia — Di persimpangan Budaya dan Teknologi

catrawarta.comPada akhir Desember 2025, ketika dunia semakin cepat bergerak menuju era digital, sebuah forum budaya internasional bernama Budaya Verse menjadi panggung penting bagi aktivis asal Indonesia, Nukila Evanty. Ia datang bukan sebagai teknokrat, tetapi sebagai suara yang memadukan kepedulian terhadap budaya dengan pandangan kritis terhadap teknologi — terutama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Acara yang diselenggarakan oleh organisasi sosial kreatif CRESDO itu mengundang tokoh-tokoh budaya dari berbagai negara untuk berdiskusi mengenai masa depan budaya di tengah percepatan teknologi. Budaya Verse menyoroti bagaimana AI dapat diintegrasikan dalam cara baru memperkuat dan melindungi warisan budaya yang terancam hilang.

AI: Bukan Ancaman, tetapi Tantangan yang Perlu Dipahami

Bagi Nukila, AI bukan sekadar produk teknologi — ia adalah cermin yang memaksa masyarakat menghadapi realitas perubahan sosial-budaya secara cepat. Dalam pernyataannya di forum tersebut, ia menekankan bahwa teknologi ini bisa menjadi alat kuat untuk mendokumentasikan bahasa, cerita, dan seni tradisional yang rentan punah; namun, penggunaan AI harus dilakukan dengan kesadaran nilai budaya dan keterlibatan komunitas lokal.

“Banyak orang melihat AI sebagai ancaman terhadap pekerjaan tertentu, tetapi faktanya AI dapat digunakan untuk merekam bahasa yang terancam punah, merekonstruksi artefak, dan bahkan menawarkan edukasi budaya yang dipersonalisasi,”
ujar Nukila Evanty dalam sebuah pernyataan tertulis yang disampaikan kepada media.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini harus melibatkan masyarakat adat secara langsung, karena hanya melalui interaksi yang hormat antara teknologi dan kearifan lokal AI bisa benar-benar memperkuat — bukan menghapus — akar budaya.

Teknologi di Tengah Nilai & Identitas Budaya

Forum itu memperlihatkan berbagai contoh penggunaan teknologi untuk pelestarian budaya, seperti representasi 2D/3D budaya lokal, serta dokumentasi karya artistik yang dilengkapi elemen AI. Ini bukan sekadar pameran teknologi, namun sebuah upaya menggabungkan kreativitas tradisional dengan inovasi digital — agar generasi muda yang hidup di era screen-first dapat lebih terhubung dengan warisan budaya.

Namun, Nukila juga mengingatkan tentang risiko homogenisasi budaya: AI yang dikembangkan tanpa perspektif inklusif berpotensi mengikis keunikan komunitas lokal ketika model-modelnya dilatih dengan data dominan global. Inilah dilema yang ia sebut sebagai ironi modernitas: teknologi yang mestinya memperkaya, justru kadang mempercepat hilangnya suara-suara unik budaya.

Menghubungkan Masa Lalu dengan Generasi Masa Depan

Nukila juga menyoroti contoh dari negara tetangga yang memanfaatkan teknologi VR dan AI dalam pelatihan tradisi seperti membuat layang-layang, mempelajari tarian, dan mengenalkan busana tradisional kepada generasi muda — sebuah langkah yang membuka imajinasi baru tentang bagaimana budaya dapat hidup di era digital.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah dan ribuan ekspresi budaya, gagasan ini menjadi penting. Pelestarian budaya tidak lagi bisa hanya mengandalkan dokumentasi fisik di museum atau buku; ia perlu menyentuh kehidupan digital generasi muda melalui narasi yang relevan dan medium yang dapat mereka akses.

Refleksi Budaya dalam Tempo Digital

Pernyataan Nukila bukan sekadar komentar tentang fenomena teknologi. Ia mencerminkan kecemasan dan harapan kolektif masyarakat adat, seniman, dan komunitas budaya yang menyadari bahwa masa depan budaya mereka bergantung pada cara teknologi diposisikan dalam kehidupan sosial.

AI bisa menjadi jembatan:

  • Mendokumentasikan bahasa yang hampir hilang
  • Membuka ruang belajar budaya bagi generasi digital
  • Menghubungkan warisan budaya dengan narasi global

Namun juga menyimpan tantangan etis jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang melindungi hak masyarakat adat, nilai budaya, dan akses teknologi yang adil.

Kesimpulannya, panggung global seperti Budaya Verse adalah lebih dari sekadar diskusi teknologi — ia adalah arena di mana budaya dan teknologi diuji untuk menemukan harmoni baru. Dan suara seperti Nukila Evanty mengingatkan kita bahwa identitas budaya bukan hanya warisan yang dilestarikan, tetapi narasi yang terus hidup dan berkembang di tangan generasi yang berani memetakannya ulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *