Warta

Keanekaragaman Hayati, Tragedi Ibu Pertiwi

catrawarta.com — PBB menetapkan 22 Mei sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Tujuannya selain untuk meningkatkan pemahaman tentang isu-isu keanekaragaman hayati juga membangun...

Keanekaragaman hayati yang masih tersisa di pulau bali dok Catrawarta
Keanekaragaman hayati yang masih tersisa di Pulau Bali (Dok. Catrawarta)

catrawarta.comPBB menetapkan 22 Mei sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Tujuannya selain untuk meningkatkan pemahaman tentang isu-isu keanekaragaman hayati juga membangun kesadaran bersama mengenai pembangunan berkelanjutan.

Lama dikenal sebagai zamrud khatulistiwa dan paru-paru dunia karena potensi dan kekayaan hutannya, nampaknya kita harus seger merevisi klaim yang bombastis itu. Sesuai data yang ada, dari Sabang sampai Merauke alam kita menjadi megabiodiversity yang mengagumkan. Tak kurang dari 31.750 spesies flora dan 744.000 spesies fauna tumbuh subur dan mendiami Kepulauan Nusantara. Dalam catatan Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia menjadi endemik bagi 10% spesies tumbuhan berbunga, 12% spesies mamalia, 16% dari seluruh spesies reptil dan amfibi, 17% spesies burung, dan 25% atau lebih spesies ikan yang ada di dunia.

Tak kurang dari para peneliti dunia seperti Alfred Russell Wallace, Weber dan Lydekker yang menjadikan kekayaan dan keanekaragaman itu sebagai surga bagi flora dan fauna. Namun pelan tapi pasti, kekayaan yang tak ditemukan di wilayah lain di dunia itu tinggal cerita kenangan yang hanya ada dalam buku-buku teks. Data BKSDA menyebut tak kurang dari 2. 432 spesies terancam punah, dan itu terjadi setiap hari. Kerusakan ekologis terjadi secara sistematis di hampir semua pulau di Indonesia.

Tak sulit menemukan sebab mengapa keanekaragaman hayati kita kian rusak dan punah. Data yang disampaikan National Geographic cukup mencengangkan, pada 2025 ada lonjakan 66% terkait deforrestasi dari 261.575 ha (2024) menjadi 433.751 ha (2025). Jangan bayangkan perubahan hutan menjadi lahan gundul seperti di Kalimantan, Papua dan Sumatra saja tetapi bagaimana nasib keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Semua tinggal puing dan kenangan.

Saat begitu banyak orang hanya sibuk membicarakan ijazah, MBG atau KDMP, tanpa disadari di luar sana tengah terjadi perusakan ekosistem hutan dan pencurian kekayaan laut. Yang paling vulgar adalah eksploitasi tambang, tidak saja membabat hutan tetapi juga merusak lingkungan. Bagaimana bisa pulau bak surga yang sangat indah dan kaya dirusak hanya karena pertambangan nikel? Kawasan itu oleh PBB telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark.

Terakhir, Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) di Gedung DPR (20/5/2026) sampai mengucapkan bahawa setiap malam ribuan kapal asing merampok kekayaan laut kita. Fakta ini harus menjadi alarm bagi bangsa Indonesia. Mari kembali ke akar konstitusi, bahwa sesuai pasal 33 UUD 1945 bumi, air dan seluruh isinya dikuasai negara, bukan korporasi apalagi negara asing, untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Komponis legendaris Ismail Marzuki pernah menggubah lagu Ibu Pertiwi. Singkat, tapi isinya lebih dari cukup untuk menggambarkan suasana batin saat ini:

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Membiarkan pembabatan hutan, abai pada penambangan dan kurang sigap dalam menjaga lautan adalah muara sebab kenapa Ibu Pertiwi menangis. Bisa jadi bukan hanya melihat kondisinya yang rusak, tetapi memikirkan apa yang bisa diberikan untuk anak cucu generasi kelak. Dan itu, adalah PR kita semua. Entah kapan dan bagaimana kita akan mengerjakannya sedang waktu kita sudah habis untuk berwacana dan menanggapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *