catrawarta.com — Melonjaknya harga emas tidak hanya dibaca dari sudut pandang ekonomi nam tetapi juga menarik perhatian dari perspektif lain, keagamaan.
Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ayif Fathurrahman, menilai meningkatnya minat global terhadap emas sejalan dengan nubuwat Rasulullah SAW mengenai kembalinya dinar dan dirham pada akhir zaman.
”Dominasi dolar Amerika Serikat sebagai mata uang dunia selama puluhan tahun telah menciptakan ketergantungan global yang rapuh,” ungkap Ayif.
Ketika kepercayaan terhadap sistem moneter berbasis uang kertas mulai melemah, manusia secara fitrah akan kembali pada aset yang memiliki nilai intrinsik, salah satunya emas.
Tren Dedolarisasi Menguat
”Emas itu fitrah manusia. Dalam Al-Qur’an disebut sebagai perhiasan. Ketika sistem konvensional rapuh, manusia akan kembali pada sesuatu yang nyata, bukan sekadar kertas yang dicetak,” tandas Ayif.
Ia menjelaskan tren dedolarisasi global kini semakin terlihat. Sejumlah negara besar seperti Tiongkok, Rusia, dan India secara masif mengakumulasi cadangan emas sebagai bagian dari strategi ekonomi mereka.
Langkah tersebut, menurutnya, menjadi sinyal berkurangnya kepercayaan terhadap dolar AS sebagai jangkar utama ekonomi global.
Ia melihat Amerika Serikat dapat mencetak dolar, tetapi beban utangnya sangat besar. Ketika negara-negara besar berbondong-bondong mengumpulkan emas, itu menjadi sinyal bahwa sistem lama mulai ditinggalkan.
Kembali Gunakan Emas
Dalam konteks hadis, Ayif menyebut Rasulullah SAW telah menubuatkan bahwa pada akhir zaman manusia akan kembali menggunakan dinar (emas) dan dirham (perak) sebagai alat tukar yang adil dan bernilai nyata.
Fenomena kenaikan harga emas saat ini dinilainya sebagai bagian dari proses panjang menuju perubahan sistem ekonomi global. Menurutnya, hal itu bukan soal romantisme sejarah, melainkan realitas ekonomi. Ketika kepercayaan terhadap mata uang fiat melemah, emas menjadi aset yang tidak tertandingi.
Kendati demikian, Ayif menegaskan pemaknaan nubuat tersebut harus disikapi secara rasional dan ilmiah, bukan secara spekulatif. Negara dan masyarakat, menurutnya, perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan dengan memperkuat fondasi ekonomi domestik.

1 Abad NU, “NU Harus Melayani Masyarakat” 