Warta

Mungkinkah Zero Violence dalam Sepak Bola?

catrawarta.com — Sepak bola, olahraga yang begitu terkenal seantero jagad. Tidak ada cabang olahraga lain yang mampu menandinginya. Mulai dari kelas kampung...

Kekerasan lapangan nodai sportivitas sepak bola

catrawarta.comSepak bola, olahraga yang begitu terkenal seantero jagad. Tidak ada cabang olahraga lain yang mampu menandinginya. Mulai dari kelas kampung hingga dunia, semua orang menyukainya. Bahkan, akhir-akhir ini sepak bola tarkam juga naik daun di Indonesia.

Sayangnya, sepak bola di negara maju dan negara berkembang seperti Indonesia, bagaikan langit dan bumi. Aksi-aksi brutal pemain di negara-negara berkembang seolah-olah menjadi hal yang biasa. Menodai sportivitas olahraga yang selalu menggaungkan fair play.Belum lama, seorang pemain tarkam menendang dada (bukan bola) pada pemain lawan. Adegan yang sangat mengerikan. Menyusul kemudian, pemain mengangkat kaki hingga mengenai kepala pemain lawan. Ini sering terjadi tak hanya di tarkam tetapi juga liga resmi mulai dari kasta terendah hingga tertinggi.

Organisasi sepak bola dunia FIFA sebenarnya udah membuat aturan tegas mengenai tindakan non fair play dalam permainan. Seseorang bisa dikenai sanksi, bahkan sampai tak boleh bermain seumur hidup akibat perbuatannya dalam permainan.

Itu pula yang menjadi sanksi pemain sebuah klub di Jawa Timur yang menendang dada pemain lawan, tak boleh main seumur hidup. Sanksi setara dengan perbuatannya, apalagi tak terlihat penyesalan setelahnya. Benar-benar brutal.

Sanksi dari Negara

Pengadil permainan, wasit punya pertimbangan sesuai aturan permainan. Ia akan memberi peringatan, kartu kuning dan terakhir kartu merah pada pemain yang melanggar aturan. Pada laga PSIM Yogyakarta melawan Madura United, Sabtu (10/1/2026), wasit mengeluarkan tiga kartu merah. Ini tak lain untuk menjaga keselamatan pemain sekaligus menegakkan fair play.

Sebatas itukah sanksi untuk pemain? Irianto (2020) dalam penelitiannya menyebutkan pemain yang melakukan kekerasan di lapangan terkait permainan maupun setelah permainan dapat dikenai sanksi pidana. Memang, sepak bola merupakan olahraga dengan body contact tinggi tetapi tidak dengan cara-cara yang tidak fair.

Melakukan kekerasan seperti menendang bagian tubuh lawan, memukul, menggigit dan bentuk kekerasan lainnya ada sanksi dari wasit dan organisasi induk sepak bola. Namun di luar itu, Irianto menulis ada sanksi pidana yang dapat menambah efek jera.

Ada pihak yang keberatan dengan sanksi di luar aturan organisasi sepak bola tetapi tak sedikit yang membenarkan kehadiran penegak hukum. Kehadiran negara tak bisa dianggap sebagai campur tangan namun lebih kepada penanganan berkeadilan bagi pemain.

Harapannya tentu kekerasan dalam olahraga terutama sepak bola bakal minim bahkan zero violence. Olahraga, sepak bola khususnya, bukanlah ajang kekerasan. Ia menjadi wadah bagi mereka yang ingin menyuguhkan keindahan dan seni bermain bola dengan dilandasi sportivitas dan kejujuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *