catrawarta.com — Istilah kurikulum berbasis cinta mungkin terdengar tidak biasa dalam diskursus pendidikan tinggi. Namun gagasan ini mulai diperkenalkan dalam forum mahasiswa lintas negara yang membahas internasionalisasi kampus di Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Dalam forum tersebut, Kementerian Agama mendorong konsep Love-Based Curriculum sebagai pendekatan baru pendidikan yang menempatkan nilai spiritual dan kemanusiaan sebagai fondasi pembelajaran.
Secara sederhana, konsep ini ingin menempatkan cinta sebagai basis etika dalam pendidikan: cinta kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta. Tujuannya adalah melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan tanggung jawab moral.
Di tengah dunia pendidikan yang semakin kompetitif dan berorientasi pada pasar kerja, gagasan semacam ini terdengar menyegarkan. Namun pertanyaannya tidak berhenti pada keindahan konsepnya. Yang lebih penting adalah bagaimana gagasan tersebut dapat diwujudkan dalam sistem pendidikan yang selama ini sangat struktural dan teknokratis.
Dalam kajian pendidikan modern, gagasan yang menempatkan dimensi kemanusiaan sebagai inti pembelajaran sebenarnya telah lama dibahas. Pendekatan humanistic education yang dikembangkan tokoh seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow menekankan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga pertumbuhan emosional dan moral peserta didik.
Penelitian tentang social-emotional learning (SEL) juga menunjukkan bahwa kemampuan seperti empati, kesadaran diri, dan kemampuan berkolaborasi memiliki dampak signifikan terhadap keberhasilan belajar. Organisasi pendidikan global seperti CASEL bahkan mencatat bahwa integrasi pembelajaran sosial-emosional dapat meningkatkan prestasi akademik sekaligus kesejahteraan psikologis peserta didik.
Dengan kata lain, gagasan kurikulum berbasis cinta sebenarnya sejalan dengan tren global pendidikan yang mulai menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dari proses belajar.
Namun tantangan terbesar dari konsep semacam ini bukan pada gagasannya, melainkan pada implementasinya.
Selama beberapa dekade terakhir, dunia pendidikan tidak kekurangan jargon yang terdengar ideal—mulai dari pendidikan karakter, pendidikan humanis, hingga pendidikan berbasis nilai. Tetapi banyak dari konsep tersebut berhenti pada level retorika kebijakan tanpa diikuti perubahan nyata dalam praktik pembelajaran.
Universitas, misalnya, masih sangat didorong oleh logika kompetisi akademik: peringkat kampus, jumlah publikasi ilmiah, indeks sitasi, hingga akreditasi. Dalam sistem seperti ini, ruang untuk membangun empati sosial sering kali tersisih oleh tuntutan administratif dan target institusional.
Jika tidak disertai perubahan metode belajar, kurikulum berbasis cinta berisiko mengalami nasib yang sama—menjadi istilah baru yang terdengar inspiratif tetapi sulit dirasakan dampaknya di ruang kelas.
Padahal dalam banyak praktik pendidikan progresif, nilai kemanusiaan biasanya diwujudkan melalui pendekatan yang lebih konkret. Salah satunya adalah service learning, yaitu model pembelajaran yang menggabungkan kegiatan akademik dengan keterlibatan langsung mahasiswa dalam kerja sosial di masyarakat. Melalui pengalaman semacam ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami realitas sosial secara langsung.
Di sinilah tantangan sebenarnya bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Apakah universitas siap mengubah cara belajar mahasiswa agar lebih reflektif, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik?
Bagi generasi milenial dan Gen Z yang kini memenuhi ruang kampus, pertanyaan ini menjadi semakin relevan. Mereka tumbuh di dunia yang semakin terhubung, tetapi juga penuh dengan tantangan global—dari ketimpangan sosial hingga krisis lingkungan. Pendidikan yang hanya menghasilkan tenaga kerja tanpa kesadaran sosial tentu tidak lagi cukup.
Karena itu, kurikulum berbasis cinta sebenarnya menyentuh persoalan yang sangat penting: bagaimana pendidikan tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga manusia yang mampu hidup bersama secara lebih manusiawi.
Namun seperti banyak inovasi pendidikan lainnya, masa depan konsep ini akan sangat bergantung pada keberanian untuk mengubah praktik, bukan sekadar memperkenalkan istilah baru.
Sebab dalam dunia pendidikan, gagasan yang paling indah sekalipun bisa kehilangan maknanya jika ia hanya hidup dalam dokumen kebijakan—dan tidak pernah benar-benar terasa di ruang kelas tempat proses belajar berlangsung.

Kecerdasan Buatan Mengancam Industri Musik Nasional? 