catrawarta.com — Ada banyak cara untuk menyampaikan kritik, salah satu yang menarik melalui candaan. Ini yang dilakukan komedian stand up comedy yang kerap disebut komika Pandji Pragiwaksono. Ia mengkritik dengan kata-kata lucu dan penuh sindiran.
Saat ini, baru Pandji yang berani melakukan kritik ”keras” atas realitas Indonesia. Ia melakukan kritik dengan gaya cerdas yang sering kali disalahartikan sebagai hinaan. Bagi mereka yang tersinggung dan tak betah mendengar guyonannya bakal langsung tutup layar.
Meskipun canda, ada saja yang tidak bisa menerima dan menikmati humornya. Pandji beberapa kali dilaporkan ke aparat karena candaannya.
Pandji Minta Maaf
Pada candaan tentang tradisi Toraja, Panji berbesar hari meminta maaf karena terus-menerus mendapat gelombang protes. Ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun media sosialnya.
Bukan kali itu saja, ada juga kelompok masyarakat lain yang melaporkannya karena candaan yang dirasa menyinggung.
Putranto, Hastjarjo dan Anshori (2025) dalam penelitiannya mengungkapkan komedi berbentuk stand up sudah ada sejak abad ke-18 di negara maju terutama Amerika Serikat. Lawakan tersebut semula menjadi konsumsi kelas menengah ke atas.
Dalam perkembangannya, termasuk di Indonesia, stand up comedy menjadi hiburan masyarakat meskipun masih terbatas pada struktur kelompok tertentu seperti anak muda, mahasiswa dan mereka yang memiliki latar belakang pendidikan baik.
Media Komunikasi Politik
Komedi ala Pandji Pragiwaksono menjadi media komunikasi politik dengan penyampaian yang penuh canda, satire. Ketika pintu-pintu komunikasi tak lagi mempan menerima kritik formal, muncul alternatif penyampaian melalui komedi.
Kendati demikian, tidak semua orang bisa menerima candaan dengan candaan pula. Ada yang menerima humor dengan serius bukan menganggap sebagai hiburan. Ini menandakan ada gap antara komedian atau komika dan masyarakat.
Melontarkan kritik dengan gaya bahasa lucu tentu tidak mudah. Panji pasti telah melakukan berbagai riset berbasis fakta. Begitu pun menerima kritik dengan gaya komedi juga tidak mudah.
Ini menjadi penanda stand up comedy belum bisa diterima semula kalangan. Ia lebih diterima di kalangan terbatas dengan tingkat pendidikan yang tidak biasa. Maklum, seseorang kadang harus mengernyitkan dahi sebelum tertawa ketika menonton stand up comedy.

Dukung Wukirsari Sebagai Desa Budaya – Bale Kajenar Peninggalan Kerajaan Kerta Pleret Dibangun 