catrawarta.com — Beberapa waktu terakhir muncul persoalan yang menimpa seorang perempuan yang pernah mengalami kejadian pada masa remaja. Ia mengalami chlid grooming, manipulasi dari orang dewasa agar tampak baik di mata korban padahal ada motif terselubung untuk mengeksploitasi.
”Praktik child grooming sering kali berlangsung melalui pendekatan yang tampak ramah, penuh perhatian, sehingga sulit ditebak sejak awal,” papar Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan SPsi MPsi Psikolog.
Ia mengatakan, contoh kasus yang belakangan mencuat menjadi gambaran bagaimana relasi antara orang dewasa dan anak dapat dibangun secara perlahan hingga menciptakan ketergantungan emosional yang berbahaya.
Membangun Kedekatan Emosional
Ia menjelaskan pola tersebut merupakan karakteristik utama child grooming. Dalam praktiknya, pelaku secara bertahap membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum akhirnya memanfaatkan relasi untuk kepentingan pribadi.
”Child grooming dilakukan melalui proses yang perlahan dan manipulatif. Pelaku berupaya menciptakan ketergantungan emosional anak,” ujar Cahyo.
Ketika anak sudah merasa aman dan bergantung, di situlah pelaku mulai mengambil keuntungan dari relasi tersebut. Motif yang paling sering berujung pada eksploitasi seksual.
Pada sejumlah kasus, jelasnya lebih lanjut, child grooming berakhir pada relasi yang tampak sah secara sosial, seperti pernikahan. Namun kondisi itu tidak serta-merta menghapus unsur eksploitasi.
”Relasi yang dibangun sejak anak berada dalam posisi rentan tetap menyimpan ketimpangan kuasa, sehingga sulit menghadirkan hubungan yang setara dan sehat,” tandasnya.
Korban Tidak Sadar
Ironisnya, korban sering kali tidak menyadari praktik child grooming oleh korban maupun lingkungan sekitar. Pelaku kerap menampilkan diri sebagai sosok yang terlihat peduli, suportif, dan dapat dipercaya.
Pelaku biasanya ramah, perhatian, mau mendengarkan keluh kesah anak, serta memberikan validasi emosional. Ia juga tampak seperti orang dewasa yang baik. Padahal, di balik itu terdapat motif yang tidak sehat dan berpotensi merusak perkembangan psikologis anak.
”Korban child grooming berisiko mengalami dampak psikologis jangka panjang. Pada fase awal, anak sering mengalami kebingungan emosional, rasa tidak nyaman, dan konflik batin yang kemudian berkembang menjadi trauma,” tambah Cahyo.
Kesulitan Membangun Relasi
Ia menjelaskan, dalam jangka panjang korban dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebih, kesulitan membangun relasi yang sehat, hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
”Rasa bersalah karena merasa tidak mampu menolak atau melawan sering terbawa hingga korban dewasa,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Cahyo menekankan pentingnya peran orang tua dan lingkungan terdekat dalam membangun kedekatan emosional yang sehat dengan anak. Kedekatan menjadi benteng utama agar anak tidak mencari pemenuhan emosional dari pihak luar yang berpotensi berbahaya.
Ia menekankan, anak perlu mendapat pemahaman tentang batasan diri, bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh, serta keberanian mengatakan tidak. Dengan pendampingan emosional yang kuat, orang dengan niat tidak baik akan lebih sulit memasuki dunia anak.

Berburu Durian di Kampung Badui 