catrawarta.com — Di sebuah sudut lereng pegunungan Wonosobo, suasana Madrasah Roudlotu Shobina di Dusun Madusari, Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, tampak lebih hidup dari biasanya pada Jumat sore (6/3/2026). Anak-anak berlarian kecil di halaman madrasah, para lansia duduk menunggu giliran menerima bantuan, sementara para relawan sibuk menata nasi kotak untuk berbuka puasa.
Di tengah suasana Ramadan yang penuh kehangatan itu, kolaborasi sosial terjalin antara Lions Club Wonosobo-Dieng, Pemuda Prima Wonosobo, dan Garda Prima Madusari. Mereka menggelar bakti sosial dengan satu tujuan sederhana namun bermakna: menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.
Kegiatan tersebut menyalurkan berbagai bantuan kepada warga sekitar, mulai dari santunan anak yatim, pembagian nasi kotak untuk buka puasa bersama, hingga pembagian kacamata plus gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Presiden Lions Club Wonosobo-Dieng, Cecilia Rini, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen organisasi untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui aksi sosial yang nyata.
“Pada kegiatan hari ini kami mengadakan bakti sosial bersama Garda Prima Madusari dan Pemuda Prima Wonosobo. Kami membagikan 105 nasi kotak untuk buka bersama, santunan bagi 50 anak yatim dan janda, serta 100 unit kacamata plus gratis untuk warga,” ujarnya.
Bagi sebagian warga, bantuan kacamata itu bukan sekadar benda kecil, tetapi sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi para lansia yang mulai mengalami gangguan penglihatan.
Menurut Cecilia, pembagian kacamata tersebut diprioritaskan bagi warga berusia di atas 50 tahun yang mengalami kesulitan membaca.
“Kacamata plus ini diharapkan bisa membantu para lansia untuk membaca, termasuk saat tadarus Alquran selama Ramadan,” katanya.
Namun tidak hanya lansia yang berkesempatan mendapatkan bantuan tersebut. Jika persediaan masih tersedia, kacamata juga diberikan kepada para pelajar dari tingkat SD/MI hingga SMA/SMK yang membutuhkan untuk menunjang kegiatan belajar.
Ia menambahkan, kegiatan sosial seperti ini bukan kali pertama dilakukan oleh Lions Club Wonosobo-Dieng. Selama ini mereka secara rutin menggelar aksi sosial dan buka puasa bersama masyarakat. Bahkan, kegiatan serupa telah memasuki tahun keempat penyelenggaraan.
Lebih dari sekadar bantuan material, kegiatan ini juga membawa pesan penting tentang kebersamaan dan toleransi.
“Anggota Lions Club berasal dari berbagai latar belakang agama. Melalui kegiatan ini kami ingin menjalin silaturahmi sekaligus menunjukkan bahwa semangat berbagi bisa dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
Semangat kolaborasi tersebut juga dirasakan oleh para pemuda lokal. Ketua Garda Prima Madusari, Andi Nugroho, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bukti bahwa organisasi kepemudaan dapat berperan aktif dalam membantu masyarakat.
“Kami berkolaborasi dengan Lions Club Wonosobo-Dieng dan Pemuda Prima Wonosobo untuk mengadakan bakti sosial berupa santunan anak yatim, pembagian nasi kotak, dan kacamata gratis bagi warga,” katanya.
Garda Prima sendiri merupakan organisasi kepemudaan yang berbasis di Dusun Madusari. Berdiri sekitar lima tahun lalu, organisasi ini berfokus pada kegiatan sosial serta pengamanan lingkungan.
Saat ini Garda Prima memiliki sekitar 250 anggota yang berasal dari berbagai wilayah di sekitar Madusari. Selain aktif dalam kegiatan sosial, mereka juga terlibat dalam pengamanan lingkungan serta menjadi relawan saat terjadi bencana alam.
“Kami selalu berkoordinasi dengan Polsek dan Koramil Kalikajar agar kegiatan pengamanan lingkungan dan sosial yang kami lakukan berjalan sinergis dan mampu menjaga kondusivitas wilayah,” jelas Andi.
Kolaborasi sosial tersebut semakin kuat dengan dukungan Pemuda Prima Wonosobo, sebuah organisasi pemuda yang anggotanya tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Wonosobo.
Ketua Pemuda Prima Wonosobo, Umar Yusuf, menilai kegiatan seperti ini penting untuk menumbuhkan kepedulian sosial di kalangan generasi muda.
Menurutnya, Ramadan bukan hanya momentum ibadah secara personal, tetapi juga kesempatan memperkuat solidaritas sosial.
“Kegiatan sosial seperti ini menjadi agenda rutin organisasi kami untuk memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menjelang waktu berbuka, suasana di madrasah semakin ramai. Anak-anak yatim menerima santunan dengan wajah berbinar, para lansia mencoba kacamata baru mereka, sementara para relawan mulai membagikan nasi kotak.
Di tengah sederhananya acara itu, tersimpan pesan besar: bahwa kepedulian, gotong royong, dan kebersamaan masih hidup di tengah masyarakat.
Dan di Madusari sore itu, Ramadan benar-benar terasa sebagai bulan yang menghadirkan cahaya—bukan hanya bagi mata yang kembali bisa membaca, tetapi juga bagi hati yang merasakan hangatnya berbagi.

Muhammadiyah: Kripto Gagal Menenuhi Syarat Utama sebagai Mata Uang 