Pena Catra

Titir Kentongan “Kearifan Lokal Saat Bencana”

catrawarta.com — Indonesia adalah negeri gempa. Secara geologis wilayah Nusantara berada di atas pertemuan tiga lempeng besar dunia—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—yang menjadikannya...

Ilustrasi Kentongan di Cakruk Gardu Masyarakat

catrawarta.comIndonesia adalah negeri gempa. Secara geologis wilayah Nusantara berada di atas pertemuan tiga lempeng besar dunia—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—yang menjadikannya kawasan rawan bencana seismik. Namun di tengah kerentanan alam tersebut masyarakat Indonesia sejatinya memiliki modal kultural yang telah lama berfungsi sebagai sistem kewaspadaan dan respons darurat. Kentongan, salah satu manifestasi paling nyata dari kearifan lokal itu.

Kentongan bukan sekadar alat komunikasi tradisional, melainkan sistem sosial berbasis bunyi yang mengandung kode, ritme, dan kesepakatan kolektif. Dalam masyarakat Jawa, misalnya, dikenal pola-pola tertentu. Pukulan teratur untuk penanda ronda, bunyi panjang untuk bahaya kebakaran, hingga titiran pukul bertalu-talu yang menandakan kejadian luar biasa, kegagatan, atau kondisi darurat yang membutuhkan respons segera dari warga. Dalam konteks gempa bumi, pola bunyi tersebut berfungsi sebagai alarm sosial yang memecah kepanikan sekaligus memobilisasi tindakan kolektif.

Di sinilah letak kekuatan kentongan. Ia bekerja bukan karena kecanggihan teknologi, melainkan karena adanya pemahaman bersama. Setiap warga tahu arti bunyinya, mempercayai pesannya, dan merasa terpanggil untuk merespons. Kentongan menghubungkan ruang privat dan ruang publik dalam hitungan detik—menggerakkan orang keluar rumah, membangun kewaspadaan, dan menyalakan solidaritas sosial.

Namun problem mendasarnya hari ini bukan pada relevansi kentongan, melainkan pada pudarnya pengetahuan kolektif tentang fungsinya. Urbanisasi, perubahan pola hidup, dan dominasi sistem komunikasi digital membuat generasi muda semakin asing terhadap kode-kode bunyi tradisional. Banyak kentongan masih tergantung di pos ronda, tetapi kehilangan makna operasionalnya. Tanpa sosialisasi yang memadai, kentongan berisiko menjadi artefak simbolik semata, bukan instrumen mitigasi.

Urgensi saat ini adalah melakukan sosialisasi ulang secara sistematis mengenai kentongan dan fungsinya, termasuk pengenalan kembali kode-kode bunyi yang telah hidup lama dalam tradisi lokal. Sosialisasi ini tidak bisa bersifat seremonial, melainkan harus menjadi bagian dari pendidikan kebencanaan berbasis komunitas. Sekolah, karang taruna, RT-RW, hingga lembaga kebudayaan perlu dilibatkan untuk memastikan bahwa makna bunyi—termasuk titiran sebagai penanda kegawatan—dipahami lintas generasi.

Pendekatan kebencanaan yang mengabaikan dimensi kultural berpotensi melemahkan ketahanan sosial masyarakat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa resiliensi komunitas tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur fisik dan sistem peringatan dini berbasis teknologi, tetapi juga oleh modal sosial, kepercayaan, dan mekanisme komunikasi lokal yang efektif.

Kentongan, dalam konteks ini, bukan tandingan teknologi modern, melainkan pelengkap yang strategis—terutama di wilayah dengan keterbatasan listrik, sinyal, atau akses informasi cepat. Lebih jauh, kentongan merepresentasikan etika kebersamaan dalam menghadapi bencana. Bunyi kentongan tidak hanya memanggil orang untuk menyelamatkan diri, tetapi juga menegaskan tanggung jawab kolektif: menolong yang rentan, menjaga ketertiban, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Ia adalah pengingat bahwa keselamatan adalah urusan bersama.

Gempa akan terus terjadi—itu adalah keniscayaan geologis. Namun cara meresponsnya adalah pilihan kultural dan kebijakan. Di tengah sirene modern dan notifikasi digital, kentongan mengajarkan bahwa mitigasi bencana tidak hanya soal kecepatan informasi, tetapi juga kedalaman relasi sosial. Revitalisasi dan sosialisasi kentongan bukan romantisme masa lalu, melainkan investasi kebudayaan untuk keselamatan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *