catrawarta.com — Choirul Anam dikenal sebagai seorang satpam yang aktif menulis dan berhasil mencatatkan namanya dalam rekor MURI. Aktivitas menulis tersebut tidak bersifat insidental, melainkan menjadi bagian dari proses akademiknya dalam menempuh pendidikan strata satu dan strata dua. Dia merepresentasikan subjek pembelajar non-tradisional yang berupaya memenuhi tuntutan akademik melalui kerja intelektual yang konsisten, meskipun berada dalam keterbatasan ekonomi dan posisi sosial.
Namun kemampuan akademik tidak selalu berbanding lurus dengan akses terhadap sumber daya institusional. Choirul Anam mampu memproduksi karya tulis ilmiah, namun menghadapi kendala pada tahap publikasi. Ada biaya publikasi yang harus ditanggung oleh penulis bila ingin dimuat di jurnal bereputasi yang terindeks Scopus maupun SINTA
Di perguruan tinggi, publikasi ilmiah memiliki fungsi strategis. Ia menjadi instrumen pengukuran kinerja akademik, syarat kelulusan, kenaikan jenjang pendidikan, serta penilaian mutu dosen dan perguruan tinggi. Indeks Scopus berperan sebagai standar internasional untuk visibilitas dan sitasi karya ilmiah, sementara SINTA berfungsi sebagai sistem nasional yang memetakan kualitas dan produktivitas riset di Indonesia. Kedua indeks ini menjadi rujukan utama dalam akreditasi, pemeringkatan, dan kebijakan akademik.
Sistem indeksasi tersebut membentuk struktur eksklusivitas. Publikasi ilmiah tidak lagi sekadar persoalan substansi keilmuan, tetapi juga kemampuan penulis untuk mengakses jurnal yang diakui secara administratif. Pada titik ini, biaya publikasi menjadi variabel penentu. Banyak jurnal menerapkan Article Processing Charge untuk membiayai pengelolaan editorial, proses penelaahan sejawat, penyuntingan, pengelolaan platform digital, serta pemeliharaan standar indeksasi. Secara manajerial biaya ini dapat dipahami. Namun secara sosial praktik ini berpotensi menciptakan ketimpangan akses.
Bagi mahasiswa dan peneliti dengan keterbatasan ekonomi, biaya publikasi menjadi hambatan struktural. Kondisi ini menimbulkan paradoks dalam pendidikan tinggi dimana karya ilmiah dituntut sebagai indikator kompetensi akademik, tetapi akses untuk mempublikasikannya tidak merata. Kasus Choirul Anam menunjukkan bahwa sistem publikasi dapat menjadi mekanisme seleksi berbasis kemampuan finansial, bukan semata kualitas ilmiah. Karena itu upaya menengahi kepentingan antara penulis dan pengelola jurnal memerlukan kebijakan yang lebih proporsional.
Perguruan tinggi dan negara perlu menyediakan skema pendanaan publikasi bagi mahasiswa dan peneliti independen. Pengelola jurnal perlu menerapkan kebijakan pembebasan atau pengurangan biaya secara transparan. Di sisi lain, sistem penilaian akademik perlu direorientasikan agar tidak semata bertumpu pada indeksasi, tetapi juga mempertimbangkan kualitas argumen dan kontribusi pengetahuan.
Kisah Choirul Anam adalah ilustrasi konkret persoalan struktural dalam dunia publikasi ilmiah. Pendidikan tinggi yang berkeadilan menuntut sistem publikasi yang menjamin mutu sekaligus memastikan akses yang setara bagi seluruh subjek akademik, terutama bagi pembelajar.

Bangunan Kolonial Belanda, Tua Tapi Tangguh 