catrawarta.com — Iran bersikap tegas. Perundingan damai sudah tertutup. Inilah yang ditunjukkan kepemimpinan baru Iran setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Pesan politiknya sangat jelas. Tidak semua konflik dapat diselesaikan melalui meja perundingan. Apalagi sudah terjadi pengkhianatan. Kepercayaan sudah runtuh.
Pernyataan itu datang dari lingkaran kepemimpinan Iran, Mojtaba Khamenei – putra mahkota Ali Khamenei yang disebut-sebut sebagai penerus garis kepemimpinan spiritual tersebut. Jalur diplomasi dengan Amerika Serikat dan Israel sudah tertutup. Bagi mereka, pengalaman panjang menunjukkan bahwa perundingan kerap berujung pada pengingkaran komitmen. Karena itu, pilihan yang diambil bukan lagi kompromi, melainkan perlawanan.
Retorika yang muncul dari Teheran tidak hanya bersifat politis, tetapi juga ideologis dan spiritual. Dalam berbagai pernyataan publik, elite Iran menegaskan bahwa mempertahankan negara dan keyakinan adalah kewajiban yang tidak dapat dinegosiasikan. Mereka menyampaikan pesan yang keras. “Jika harus mati dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan dan agama, itu dianggap sebagai pengorbanan yang ikhlas.”
Sikap ini memicu perdebatan global. Sebagian kalangan menilai pendekatan konfrontatif akan memperpanjang konflik dan memperbesar penderitaan manusia. Di sisi lain, Iran memandang pengalaman sejarah sebagai alasan untuk bersikap tegas.
Dalam politik internasional, kepercayaan adalah fondasi utama diplomasi. Ketika sebuah negara merasa berulang kali dikhianati atau dipermainkan, kepercayaan itu runtuh. Tanpa kepercayaan, perundingan tidak lagi dianggap sebagai jalan keluar, melainkan sekadar jebakan politik.
Pepatah lama mengatakan, hanya orang yang tidak belajar dari pengalaman yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Dalam perspektif Iran, sejarah hubungan dengan Barat—terutama dalam isu nuklir, sanksi ekonomi, dan konflik Timur Tengah—membentuk keyakinan bahwa kompromi sering berakhir dengan tekanan baru.
Di sisi lain, wacana ini juga sering dibingkai dalam perspektif keagamaan. Dalam Al-Qur’an, terdapat kisah tentang Bani Israil yang sering melanggar perjanjian dan mengubah pesan wahyu, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Maidah ayat 13 dan Al-Baqarah ayat 100. Ayat-ayat tersebut kerap dijadikan rujukan oleh para ulama ketika membahas pentingnya menjaga integritas perjanjian dan kewaspadaan terhadap pengkhianatan.
Namun penting pula untuk dipahami bahwa ajaran Islam sendiri menekankan keadilan dan kemanusiaan universal. Kritik terhadap kebijakan politik tidak boleh berubah menjadi kebencian terhadap suatu bangsa atau agama secara keseluruhan. Konflik politik harus dilihat sebagai persoalan kekuasaan, kepentingan geopolitik, dan perebutan pengaruh—bukan semata-mata pertentangan identitas.
Dalam konteks konflik Timur Tengah, kemarahan dunia Islam terhadap Israel terutama dipicu oleh realitas kemanusiaan di Palestina: pendudukan wilayah, korban sipil, serta penderitaan anak-anak dan perempuan. Dari sudut pandang ini, banyak pihak melihat perlawanan sebagai bentuk solidaritas terhadap korban penindasan.
Editorial ini tidak sedang merayakan perang. Sejarah menunjukkan bahwa perang hampir selalu meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada kemenangan yang diraih. Yang ingin ditegaskan adalah bagaimana hilangnya kepercayaan dapat mendorong sebuah bangsa memilih jalan yang ekstrem.
Bagi Indonesia, perdebatan global ini menyimpan pelajaran penting. Kepercayaan publik adalah fondasi utama sebuah negara. Ketika pemimpin berulang kali mengingkari janji, melakukan korupsi, atau menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang, kepercayaan rakyat perlahan runtuh.
Negara yang kehilangan kepercayaan rakyatnya sesungguhnya sedang menabung krisis. Demokrasi tidak akan sehat jika pemimpin dan lembaga negara terus-menerus mengabaikan amanat konstitusi serta nilai kemanusiaan.
Konstitusi Indonesia telah menegaskan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Jika nilai-nilai ini dilanggar oleh para penguasa, maka kritik publik bukanlah ancaman, melainkan peringatan agar negara tidak semakin jauh dari cita-cita pendiri bangsa.
Konflik di Timur Tengah mungkin terasa jauh dari Nusantara. Namun pesan moralnya sangat dekat: sebuah bangsa hanya akan kuat jika pemimpinnya jujur, adil, dan memegang teguh janji kepada rakyatnya. Tanpa itu, kepercayaan akan runtuh. Dan ketika kepercayaan runtuh, dialog pun kehilangan makna.

Akad Syariah Berhadapan dengan Zaman: Merenungkan Kembali Metode Penemuan Hukum Islam di Indonesia 