Pena Catra

Isra Mi’raj, Hati sebagai Kunci Penerimaan Kebenaran

catrawarta.com — Pemikiran manusia memang tidak pernah berdiri semata di atas bangunan logika. Pengetahuan, seberapa pun sistematis dan rasionalnya, selalu diolah dalam...

#image_title

catrawarta.comPemikiran manusia memang tidak pernah berdiri semata di atas bangunan logika. Pengetahuan, seberapa pun sistematis dan rasionalnya, selalu diolah dalam ruang batin yang lebih dalam, yaitu hati. Dari sanalah seseorang menerima, menolak, atau menangguhkan sebuah kebenaran. Akal bekerja menimbang bagaimana sesuatu mungkin terjadi. Hati menentukan apakah sesuatu itu diterima sebagai kebenaran yang hakiki.

Dua sisi berbeda antara nalar dan hati ini sangat jelas terlihat pada peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan spiritual agung Isra Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad. Secara nalar empiris, kisah perjalanan lintas ruang dan waktu dalam satu malam tampak sulit diterima. Ukuran jarak, kecepatan, dan durasi sebagaimana dipahami sains seolah tidak menyediakan kerangka yang memadai. Maka wajar jika sebagian orang meragukannya. 

Namun di sinilah peran hati menjadi kunci. Hati tidak bekerja dengan mekanisme pembuktian seperti laboratorium. Hati bekerja dengan kepercayaan, keterbukaan, dan kesiapan batin. Banyak hal dalam hidup manusia, termasuk sains modern, yang pada mulanya juga dipercaya sebelum sepenuhnya dipahami. Gravitasi, gelombang elektromagnetik, bahkan konsep waktu itu sendiri, pernah berada di wilayah “belum terjelaskan”. Namun tetap diterima karena manusia percaya pada konsistensi pengalaman dan otoritas pengetahuan. Kepercayaan itu bukan irasional, melainkan pra-rasional, sebuah pintu agar nalar dapat terus bekerja.

Dalam konteks Isra Mi’raj, Al-Qur’an sendiri menegaskan dimensi batiniah dan transenden peristiwa tersebut. Ayat pembuka Surah Al-Isra’ dalam Al-Qur’an tidak mengajak manusia berdebat soal teknis perjalanan, melainkan mengarahkan pada makna bahwa Allah memperjalankan hamba Nya untuk “memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya”. Artinya, peristiwa ini lebih merupakan pengalaman spiritual ketimbang hasil laboratorium  ilmiah.

Maka ketika hati tidak bisa menerima sebuah kebenaran pikiran pun sering “terkunci”. Bukan karena kurang cerdas, tetapi karena batin belum siap. Sebaliknya, ketika hati terbuka, pikiran bisa menerima hal-hal yang melampaui nalar sehari-hari, tanpa harus menanggalkan akal sehat. Di sinilah keseimbangan itu lahir. Akal tidak dimatikan, hati tidak diabaikan.

Pelajaran Isra Mi’raj bagi kehidupan hari ini adalah ajakan untuk mengolah pengetahuan secara utuh. Logika diperlukan agar manusia tidak terjebak takhayul. Hati dibutuhkan agar manusia tidak terperangkap kesombongan rasional. Ibadah shalat—yang diwajibkan dalam peristiwa Isra Mi’raj—menjadi simbol pertemuan keduanya, gerak jasmani yang teratur (rasional) dan kekhusyukan batin (spiritual).

Pada akhirnya, pengetahuan bukan sekadar soal benar atau salah menurut akal, melainkan soal diterima dan dihidupi oleh hati. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa tidak semua kebenaran harus ditaklukkan oleh logika. Sebagian justru perlu dipeluk oleh iman, agar akal menemukan kerendahan hati untuk terus belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *